Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Keragaman Bukan Alasan untuk Saling Bermusuhan

Avatar photo
179
×

Keragaman Bukan Alasan untuk Saling Bermusuhan

Share this article
Allah swt. menghendaki ciptaan-Nya di dunia ini beragam.
Allah swt. menghendaki ciptaan-Nya di dunia ini beragam.

Allah Swt menciptakan manusia dengan berbagai keragaman latar belakangnya: baik bahasa, budaya, suku, warna kulit, kepentingan dan sebagainya. Keragaman itu sudah merupakan fitrah dan sunnatullah yang menjadi ketetapan Allah Swt. Jadi kita sebagai makhluk-Nya tidak bisa menolak ketetapan-Nya.

Sesungguhnya, Allah Swt bisa saja menjadikan seluruh umat ini satu bentuk: semuanya sama tanpa perbedaan apapun. Tapi itu tidak dilakukan-Nya. Ia berfirman:

وَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَجَعَلَكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلٰكِنْ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اِلَى اللّٰهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ

“Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikanmu satu umat (saja). Akan tetapi, Allah hendak mengujimu tentang karunia yang telah Dia anugerahkan kepadamu. Maka, berlomba- lombalah dalam berbuat kebaikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang selama ini kamu perselisihkan.” (Qs. al- Maidah: 48)

Bahkan dalam ayat lain lagi, Allah swt. berfirman:

وَلَوْ شَاۤءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلَا يَزَالُوْنَ مُخْتَلِفِيْنَ

Artinya: “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.” (Qs. Hud: 118).

Bisa dilihat dari kedua ayat di atas, Allah Swt bisa saja menghendaki kita menjadi satu bentuk, satu keyakinan, satu pendapat, dan satu golongan. Tetapi Allah Swt ingin menunjukkan bahwa Dia Maha Kuasa, yang bisa menciptakan segala sesuatu dengan berbagai bentuk. Allah Swt juga ingin makhluk-Nya berlomba- lomba mencari kebaikan. Jikalau kita sebagai mahkluk-Nya hanya dijadikan satu bentuk saja, kita tidak ada yang berinisiatif untuk berlomba-lomba mencari kebaikan, karena merasa kita ini sama semuanya. Juga, jika kita sebagai mahkluk-Nya sama bentuknya, baik dari segi fisik, keyakinan, pendapat, dan banyak lagi, kita tidak akan bisa mengenal satu sama lain.

Karena itu, hal menarik dari keberagaman yang Allah Swt ciptakan itu bahwa Ia juga menciptakan kesamaan untuk menyatukan keberagaman tersebut. Contohnya; sama- sama memiliki potensi dasar untuk mengetahui dan cenderung kepada kebenaran. Inilah sunnatullah yang tidak bisa diabaikan. Mengabaikannya sama halnya menolak kehendak Allah Swt dan itu tidak mungkin. Untuk itu, jika melihat perbedaan, maka yang dibutuhkan adalah sikap saling menghargai atau toleransi.

Memaknai Toleransi

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016, h. 1420), toleransi itu berasal dari bahasa latin, “tolerar” yang berarti menahan diri, bersikap sabar, menghargai orang lain berpendapat lain, berhati lapang dan tenggang rasa terhadap orang yang berlainan pandangan atau agama. Secara umum, toleransi adalah sikap meghargai, meghormati, dan menerima perbedaan yang ada dalam masyarakat, baik dalam hal agama, suku, ras, budaya, maupun pendapat. Sedangkan toleransi dalam Bahasa Arab, toleransi disebut “tasamuh” yang artinya kemurahan hati, saling mengizinkan, dan saling memudahkan.

Jika dikaitkan dengan toleransi antaragama, dari pengertian di atas dapat kita simpulkan bahwa toleransi beragama adalah sikap sabar dan menahan diri untuk tidak mengganggu dan tidak melecehkan agama atau sistem keyakinan dan ibadah penganut agama agama lain. Toleransi dalam beragama bukan berarti kita hari ini boleh bebas menganut agama tertentu dan esok hari kita menganut agama yang lain atau dengan bebasnya mengikuti ibadah dan ritualitas semua agama tanpa adanya peraturan yang mengikat.

Akan tetapi, toleransi beragama harus dipahami sebagai bentuk pengakuan kita akan adanya agama-agama lain selain agama kita dengan segala bentuk sistem, dan tata cara peribadatannya dan memberikan kebebasan untuk menjalankan keyakinan agama masing- masing.

Allah Melarang Tercerai-Berai

Apapun perbedaannya, mau itu dalam perbedaan agama, budaya, suku, dan banyak lagi, Allah melarang hambanya untuk tidak saling menjatuhkan, seharusnya saling menghargai satu sama lain. Allah SWT berfirman:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا

Artinya: “Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai.” (Qs. al-Imran: 103).

Berdasarkan firman Allah SWT di atas, kita sebagai hambanya harus saling berpegang teguh, walaupun kita berbeda- beda agama atau yang lainnya. Kita harus tetap bersama. Jangan sampai ada perceraian. Ketika sikap toleransi tidak diterapkan dalam bermasyarakat, maka akan muncul berbagai dampak negatif yang dapat mengancam persatuan dan keharmonisan sosial. Contohya seperti munculnya konflik sosial dan perpecahan. Perbedaan yang seharusnya menjadi kekayaan bangsa malah sebaliknya menjadi sumber pertikaian (BNPT, Strategi Nasional Pencegahan Intoleransi dan Radikalisme di Indonesia, h. 15).

Contoh lainnya seperti hilangnya rasa nyaman dan aman dalam hidup bermasyarakat. Ketika masyarakat tidak saling menghormati, rasa aman dan nyaman akan terganggu. Orang juga akan takut mengekpresikann identitas atau keyakinannya di ruang publik karena khawatir mendapat penolakan atau diskriminasi. (Alo Liliweri, Prasangka dan Konflik: Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultur, h. 67).

Apapun perbedaannya, mau itu dalam perbedaan agama, budaya, suku, dan banyak lagi, Allah melarang hambanya untuk tidak saling menjatuhkan, seharusnya saling menghargai satu sama lain.

Untuk itu, keragaman, baik agama, suku, bahasa, warna kulit, kepentingan, tidak seharusnya menjadi alasan bagi kita untuk saling bermusuhan dan bercerai-berai. Sudah semestinya, keragaman yang ada justru menjadi kekuatan untuk mewujudkan bangsa yang kuat dan kokoh, yang mampu eksis di tengah peradaban dunia.

Untuk itu, kita sebagai bangsa Indonesia sekaligus sebagai pemeluk agama yang taat, sudah seharusnya memiliki slogan “kebersamaan dalam keragaman” atau “unity in diversity” dalam memajukan bangsa ini. Insya Allah, jika prinsip ini dipegang secara teguh dan istikamah, tak mustahil negara ini menjadi negara yang gemah ripah loh jinawi atau baldah thayyibah wa rabbun ghafur.

Ditulis oleh Nilna Dina Hanifa. Tulisan ini tayang pertama kali dalam Buletin Rumah Wasathiyah.

Kontributor

  • Redaksi Sanad Media

    Sanad Media adalah sebuah media Islam yang berusaha menghubungkan antara literasi masa lalu, masa kini dan masa depan. Mengampanyekan gerakan pencerahan melalui slogan "membaca sebelum bicara". Kami hadir di website, youtube dan platform media sosial.