Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Belajar Jadi Pemimpin Seperti Umar bin Abdul Aziz

Avatar photo
391
×

Belajar Jadi Pemimpin Seperti Umar bin Abdul Aziz

Share this article
setelah pelantikan sebagai "Presiden" itu, Umar bin Abdul Aziz meninggalkan semua kemewahan, juga melepas semua harta bendanya untuk dibagikan kepada rakyat.
setelah pelantikan sebagai "Presiden" itu, Umar bin Abdul Aziz meninggalkan semua kemewahan, juga melepas semua harta bendanya untuk dibagikan kepada rakyat.

Umar bin Abdul Aziz muda adalah seorang yang ambisius dan penuh hasrat untuk maju dan berkembang. Tiap kali berhasil mencapai suatu target, akan mengejar target berikutnya.

Profil pemuda yang tak mudah puas, dengan kehidupan mewah yang telah menjaminnya: makanan, pakaian, parfum, puisi, perempuan, pujian, nyanyian, kepemimpinan, ilmu pengetahuan, juga wawasan dan hukum Islam. Ia begitu bersemangat menguasai semuanya.

Menginjak usia 20 tahun, ia ingin menikahi sepupunya, Fatimah binti Abd al-Malik bin Marwan. Ketika Umar mengunjungi Syam, Abd al-Malik dengan senang hati memberikan putrinya itu kepada Umar untuk dinikahi. Dan dengan penuh gembira Umar berkata, “Semoga Allah membalas kebaikanmu wahai Amirul Mukminin. Engkau telah bermurah hati dan bahkan telah menyelamatkanku dari keharusan meminta”.

Abd al-Malik dan anggota keluarga Umayyah lainnya menganugerahinya berbidang-bidang tanah serta harta benda lainnya, hingga ia memiliki tanah di Syam, Hijaz, Mesir, Yaman, Bahrain. Tanah-tanah itu juga menghasilkan sekitar 40.000 dinar tiap tahunnya untuk Umar.

Tak lama setelah pernikahan, Umar diangkat sebagai Gubernur Khunasirah, sebuah kota di Aleppo. Lalu naik lagi ditunjuk sebagai gubernur Madinah menggantikan Hisham bin Ismail al Makhzumi yang dinilai terlalu tiran kepada rakyatnya. Lalu berkat kinerjanya yang bagus di Madinah, wilayah kekuasaannya diperluas hingga seluruh Hijaz yang meliputi Makkah dan Thaif.

Menuruti Hasrat Menjadi Pemimpin

Hasratnya begitu kuat untuk menjadi yang paling tinggi. Ia juga hidup dalam tradisi keluarga besar kerajaan yang mewah. Hartanya melimpuh ruah. Pujian dan penghormatan telah Ia dapatkan semuanya. Jabatan dan kedudukan tertinggi pun telah tercapai olehnya.

Di puncak kekuasaannya, pada hari dimana diangkat sebagai “Presiden”, Umar membuat pengakuan yang bersejarah. Ia berkata, “Aku memiliki jiwa yang penuh akan obsesi-obsesi. Jiwa ini tidak pernah mendambakan suatu kedudukan kecuali dengan hasrat untuk mencapainya. Jiwa ini tidak pernah berhenti mendambakan kedudukan kecuali untuk sesuatu yang lebih tinggi. Dan hari ini, Ia telah mencapai kedudukan yang tidak ada lagi kedudukan yang lebih tinggi darinya. Maka hari ini, ia tidak mendambakan apa-apa lagi selain surga!”.

Benarlah, setelah pelantikan sebagai “Presiden” itu, Umar bin Abdul Aziz meninggalkan semua kemewahan, juga melepas semua harta bendanya untuk dibagikan kepada rakyat. Memberikan seluruh sisa umurnya hanya untuk melayani rakyat dengan satu tujuan: mencapai Tuhannya. Karena baginya, sudah tidak ada lagi yang lebih tinggi dari pencapaian tersebut.

Meningkatkan Standar Hidup Rakyat

Presiden Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada Zayd bin Abd al-Rahman, gubernurnya di Kufah, “… Jika engkau telah mengumpulkan uang setelah memberikan hak para prajurit, berikanlah kepada setiap orang yang memiliki hutang selama tidak melakukan kejahatan, atau yang menikah tetapi tidak mampu membayar tunai maharnya..!”

Umar benar-benar meningkatkan standar hidup rakyat. Ia tidak tahan melihat orang-orang dalam kemiskinan, kelaparan, lemah dan meminta-minta. Beberapa gubernurnya menulis surat menanyakan kepadanya tentang seorang yang memiliki rumah, pelayan, seekor kuda, dan perabotan: haruskah mereka melunasi hutangnya?

Ia menjawab dengan penuh keyakinan, “Setiap Muslim membutuhkan tempat tinggal untuk melindunginya, seorang pelayan untuk membantu pekerjaannya, seekor kuda untuk menghadapi musuhnya, dan perabotan untuk rumahnya. Bila ia berhutang, maka lunasilah hutang untuknya!”

Memulihkan Hak Rakyat yang Hilang

Di masa-masa awal setelah dilantik sebagai “Presiden” Dinasti Umayyah, Umar bin Abdul Aziz mengumumkan kepada masyarakat, bahwa siapa pun yang telah kehilangan hak-haknya, atau yang pernah menderita ketidakadilan hukum, maupun diperlakukan tidak adil oleh pejabat pemerintahan, dipersilahkan maju menyampaikannya dengan bukti agar haknya dapat dipulihkan.

Lalu, apa yang terjadi? Sejumlah orang maju dengan keluhan beserta bukti-bukti, dan Umar kemudian memulihkan hak-hak mereka satu per satu: tanah, lahan pertanian, uang, serta harta benda lainnya.

Pada suatu kesempatan, gubernurnya di Basrah mengirimkan seorang laki-laki yang tanahnya telah disita Pemerintah.

Umar mengembalikan tanah itu kepadanya dan kemudian bertanya kepadanya, “Berapa banyak yang kamu keluarkan untuk datang kepadaku?”

Laki-laki itu menjawab, “Wahai Presiden, engkau menanyakan tentang pengeluaranku padahal engkau telah mengembalikan tanahku kepadaku?”

Umar menjawab, “Aku hanya mengembalikan hakmu kepadamu.” Kemudian, ia segera memerintahkan agar enam puluh dirham diberikan kepadanya sebagai kompensasi atas biaya perjalanannya menemui Sang Presiden.

Referensi:

– في العصر الأموي (عبد الشافي محمد عبد اللطيف)
– من سيرة الخليفة العادل عمر بن عبد العزيز (عبدالحليم محمد حسين)
– عمر بن عبد العزيز، معالم التجديد والإصلاح الراشدى (علي محمد الصلابي)

Kontributor