Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Esai

Apakah Revolusi 1979 Bakal Terulang di Iran?

Avatar photo
429
×

Apakah Revolusi 1979 Bakal Terulang di Iran?

Share this article
Apakah Revolusi 1979 Bakal Terulang di Iran?
Apakah Revolusi 1979 Bakal Terulang di Iran?

Lebih mudah mengutuk kekerasan aparat kepada rakyat Iran, memang. Tetapi itu tidak mewakili apa yang sesungguhnya terjadi di sana. Ini lebih rumit dari sekadar urusan lepas hijab.

Kata kunci yang perlu kita amati saat ini adalah kondisi ekonominya yang drop 60 persen, ini dipicu ongkos perang beberapa tahun lalu di tengah sanksi AS yang terus berjalan.

Investasi militernya luar biasa. Gaza, Lebanon, hingga Yaman ada jejak IRGC. Semuanya itu ongkosnya mahal. Belum lagi harus menanggung serangan AS yang menghujam langsung ke dalam negara.

Setidaknya peperangan di tiga wilayah itu belum ada tanda-tanda untuk berhenti dalam waktu cepat. Proxy ini tentu saja argonya terus berjalan. Tidak murah.

Apakah rakyat Iran ingin Shah Reza kembali?

Protes besar lebih dari seminggu terakhir ini disebut salah satu yang paling besar dalam sejarah Iran. Bahkan jauh lebih besar saat 1979 karena ini tidak hanya terjadi di kota besar saja.

Shah kecil ini langsung muncul di hari pertama protes berlangsung. Dia berteriak lantang, seperti pada peristiwa besar lainnya, seolah tak mau ketinggalan, walaupun hanya bisa teriak di balik ketiak AS.

Shah Reza sebetulnya tidak punya kekuatan politik yang strategis. Dukungan kepadanya hanya romantisme monarki tanpa konsep yang jelas.

Apakah Ayatollah akan tumbang?

Jawabannya tentu tidak sederhana. Kita perlu melihat beberapa fakta yang ada.

  1. Kepercayaan loyalis dan elitenya kepada Ayatollah masih tinggi. Dan ini struktural, solid hingga ke jejaring paling bawah.
    IRGC disebut masih sangat kuat, sementara Basij (paramiliter/loyalis non-militer) bekerja hingga ke level RT, pergerakan semut di toples dapur seorang warga pun bisa dipantau olehnya.

    Basij adalah piranti kontrol mikro-sosial yang didesain untuk bergerak cepat di lapangan. Level efektivitasnya sulit ditandingi organisasi berbasis massa di negara manapun.
    Sedangkan 1979, banyak loyalis dan elite Shah yang membelot, mencari aman atau berpikir realistis. Sedangkan sekarang, basis ideologinya kuat sekali..

  2. Saat terjadi revolusi itu, Shah sudah sakit-sakitan dan mengharuskan bolak-balik berobat ke luar negeri. Bahkan beberapa hari sebelum kejatuhannya itu, dia sempat berobat, sakitnya kanker.

    Saat ini, Ayatollah tidak ke mana-mana. Stand by di dalam. Kalaupun kepemimpinan terkendala usia, jejaring di bawahnya bisa back up. SOP negara berjalan dengan rapi.

  3. Dukungan elite mengakar. Kata Saeid Golkar, dosen di University of Tennessee, sekaligus pakar politik Iran:

    “Revolutions occur when mass unrest intersects with elite paralysis or defection. That happened in 1979, but it has not happened now.”

    Sepertinya mirip dengan 98. Ketika kepentingan elite bertemu kepentingan massa, maka revolusi tidak bisa dihindari. Kali ini, kata dia, elitenya masih benci Amerika.

  4. 1979 adalah potret politik AS yang sesungguhnya: habis manis sepah dibuang. Shah kala itu tidak lagi menguntungkan bos-bosnya di Barat.

    Dirinya tidak punya solusi konkret atas masalah bangsanya. Di saat yang sama, datang konsep bernegara baru, segar dan penuh strategi.

    Pertanyaan sederhana saja. Apakah Shah Reza kecil yang ingin menghidupkan kembali cita-cita ayahnya itu benar-benar punya solusi konkret? Tidak.

Di sisi lain, Iran sekarang adalah buffer geopolitik yang penting bagi Rusia dan China. Bahkan negara-negara BRICS pun banyak yang dengan senang hati beli minyak murah dari Iran.

Bahayanya justru:

Masa depan kebebasan dan ekonomi. Karena dengan adanya kepemimpinan yang satu suara, kuat, dan cenderung otoriter itu, akan memperpanjang usia represi.

Meski begitu, Amerika Serikat dan sekutunya belum ada indikasi untuk mundur ikut campur urusan Iran ini. Malah makin kencang saja.

Kontributor

  • Erik Erfinanto

    Part-time writer, serious reader, full-time editor. Loving books, movies, history and math. Living in Jakarta now.