Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Esai

Skors Pencatatan Sejarah Kita

Avatar photo
496
×

Skors Pencatatan Sejarah Kita

Share this article
Skors Pencatatan Sejarah Kita
Skors Pencatatan Sejarah Kita

Sejarah terus bergulir. Hari ini adalah peristiwa yang kelak akan dibaca oleh masa depan sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan arah. Tetapi, siapa yang bersedia mencatat?

Pertanyaan ini agaknya kurang pas saya ajukan. Sebab, setelah saya baca-baca, ternyata saya sendiri adalah bagian dari kelompok masyarakat yang memiliki kewajiban itu. Maka, tulisan ini saya buat sebagai bentuk pertobatan saja.

Saya merasa terhentak seketika saat mendengar Gus Yahya mengatakan, “Kita harus berani mengakui jati diri kita sebelum beranjak menentukan masa depan.”
Narasinya kurang lebih demikian. Pernyataan itu ditulis dalam bukunya berjudul PBNU: Perjuangan Besar Nahdlatul Ulama, salah satu karya Gus Yahya yang sangat menarik untuk dibaca.

Maksud beliau, kita harus berani mengakui kesalahan-kesalahan sejarah kita, yang sebagian memang sudah tidak relevan dengan zaman. Bahkan, ia juga mempersoalkan beberapa ajaran dan doktrin lama.

Baginya, mengakui kesalahan masa lalu adalah cara paling benar untuk menentukan langkah selanjutnya. Pikir saya, berani juga ketua umum kita ini.

Apa yang kita lihat sekarang di PBNU, sebetulnya belum seberapa dibandingkan seluruh pemikiran beliau dalam buku tersebut. Jika semuanya diterapkan, bisa-bisa justru akan lebih banyak lagi orang yang tidak betah.

Kembali ke bahasan pencatatan sejarah tadi. Kita ini sering kagok ketika tiba-tiba muncul fakta sejarah. Mulai dari fakta soal PKI, keberpihakan sejumlah tokoh terhadap penjajah, hingga ikhwal perselisihan antar-kiai.

Hal itu terjadi, di antaranya, karena sejarah hanya ditulis dalam satu versi. Catatan sejarah kita tidak menyediakan banyak opsi untuk dibaca. Sebab, yang menulis orang itu-itu saja. Bahkan sering kali dicatat oleh orang lain yang tidak mengalaminya secara langsung, tidak berada dalam pusaran informasi yang memadai. Hasilnya, sejarah menjadi mudah diplintir dan diarahkan seenak perut.

Saat ini, opsi pencatatan sejarah sesungguhnya makin luas. Jumlah wartawan semakin banyak, penulis ada di mana-mana, bahkan akademisi pun semakin membutuhkan kredit penulisan. Medium pencatatannya juga melimpah: media sosial, blog, bahkan masih bisa ditulis di atas kertas.

Namun, meskipun opsinya sudah sebanyak itu, yang benar-benar mau mencatat secara serius—atau setidaknya melakukan proses pengarsipan yang rapi—masih belum banyak. Apalagi yang mau menuliskannya dalam bentuk buku.

Saya kira persoalannya menjadi semakin kompleks karena lembaga-lembaga besar—seperti pesantren, kampus, bahkan PBNU sendiri—tidak menyediakan ruang yang memadai. Padahal, merekalah yang justru paling berkepentingan.

Apalagi jika kita jujur melihat sejarah: Islam adalah agama yang memiliki catatan sejarah paling melimpah. Lalu, mengapa Islam di sini tidak mengadopsi praktik Islam di sana dalam hal pencatatan sejarah?

Sementara itu, para pencatat sejarah pinggiran seperti saya dan kawan-kawan wartawan lainnya masih terus berjuang melawan tuntutan menulis sesuai algoritma. Begitu usia tren habis, habis pula penulisan tema tersebut. Akhirnya, yang tersisa hanya potongan-potongan kecil, fragmen yang seharusnya dirangkai menjadi catatan utuh oleh petugas lembaga agar prosesnya simetris dan berkelanjutan.

Sulit membayangkan di era ini akan lahir sosok seperti Salim Said: seorang wartawan, akademisi, saksi sejarah yang berada di tengah konflik, sekaligus rajin menulis buku. Ia menulis bukan demi tren.

Saya membayangkan suatu hari nanti, ketika semua lembaga memiliki juru tulis sejarahnya masing-masing. Lalu mengadopsi sistem pencatatan berlapis (multi-layer) yang terenkripsi—kalau perlu menggunakan teknologi blockchain—agar data aman sentosa.

Jika itu terjadi, maka tidak akan ada lagi peristiwa sejarah yang tertimbun oleh bualan buzzer, dan tentu akan lebih aman dari intervensi kekuasaan. Sebab, setiap lembaga memiliki kendali atas versi sejarahnya sendiri.

Dengan begitu, kelak mungkin akan semakin sulit menentukan siapa yang benar-benar pantas menerima gelar pahlawan. Fakta yang harus kita telan hari ini adalah adanya skors dalam penulisan sejarah kita sendiri.

Oleh Erik Erfinanto
Jakarta, 26 Desember 2025

Kontributor

  • Erik Erfinanto

    Part-time writer, serious reader, full-time editor. Loving books, movies, history and math. Living in Jakarta now.