Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Minta Rela di Sekumpul: Catatan Perjalanan di Haul Guru Sekumpul

Avatar photo
1303
×

Minta Rela di Sekumpul: Catatan Perjalanan di Haul Guru Sekumpul

Share this article
Tahun 2025 memang memiliki kekhususan. Dalam satu tahun ini, bulan Rajab jatuh dua kali, sehingga peringatan Haul Guru Sekumpul dilaksanakan dua kali: Januari dan Desember.
Tahun 2025 memang memiliki kekhususan. Dalam satu tahun ini, bulan Rajab jatuh dua kali, sehingga peringatan Haul Guru Sekumpul dilaksanakan dua kali: Januari dan Desember.

Keinginanku datang ke Haul Guru Sekumpul, KH. Muhammad Zaini Abdul Gani, berawal dari cerita seorang sahabat dekatku, seorang Kapten Angkatan Udara. Pada haul sebelumnya, ia hadir dan pulang dengan pengalaman yang menurutnya sulit ditemukan di tempat lain. Bukan semata soal besarnya jamaah, melainkan tentang hal-hal kecil yang terasa kuat dan membekas. Cerita itulah yang mendorongku untuk membuktikannya sendiri. Karena itu, pada Haul 5 Rajab pada 28 Desember kemarin, aku memutuskan untuk hadir.

Tahun 2025 memang memiliki kekhususan. Dalam satu tahun ini, bulan Rajab jatuh dua kali, sehingga peringatan Haul Guru Sekumpul dilaksanakan dua kali: Januari dan Desember.

Pengalaman pertama yang langsung meninggalkan kesan terjadi sejak tiba di Bandara Syamsudin Noor. Aku menaiki transportasi gratis yang memang disiapkan untuk jamaah haul baik jalur udara maupun laut. Tidak ada tiket, tidak ada pembayaran. Saat aku bertanya kepada pengemudi dari mana biaya bensinnya, jawabannya singkat: “uang pribadi, ini untuk menghormati tamu Abah Haji”. Tidak ada sponsor besar, apalagi bos tambang Kalimantan. Hanya niat melayani.

Di Sekumpul, kami menetap di rumah seorang kawan lama, teman kuliah saat di LIPIA Jakarta hampir dua puluh tahun lalu. Rumahnya berjarak sekitar 400 meter dari Kubah Sekumpul. Tinggal sedekat itu membuatku bisa berjalan kaki dan menyatu dengan arus jamaah, sekaligus menyaksikan bagaimana warga membuka rumah mereka bagi para tamu, tanpa syarat dan tanpa biaya.

Selama berada di Kalimantan Selatan, kami juga melakukan ziarah ke beberapa tempat. Dari Sekumpul menuju Banjarbaru, lalu ke Banjarmasin untuk berziarah ke makam Guru Zuhdi. Perjalanan dilanjutkan ke Astambul, Kalampayan ke makam Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, melalui jalur alternatif yang menyusuri sungai Batang. Hujan turun malam itu. Di beberapa titik, banjir tak terhindarkan. Motor kami sempat mogok dan harus dimatikan saat melewati genangan tinggi. Namun selalu ada masyarakat yang membantu. Bahkan ketika motor dibawa ke bengkel, pemilik bengkel menolak menarik ongkos jasa. Alasannya pun sama: ingin menghormati tamu Abah Haji.

Yang menarik, hampir tidak terlihat praktik-praktik yang sering muncul dalam perhelatan besar di tempat lain. Tidak ada parkir liar dengan tarif tak wajar. Parkir gratis. Makan gratis. Tidur gratis. Hampir tidak ada peminta-minta. Tidak terdengar teriakan pedagang yang memecah suasana. Keramaian dijaga agar tidak berubah menjadi ruang transaksi. Ibadah dan kerinduan tidak dikapitalisasi.

Barulah setelah itu aku benar-benar memahami besarnya peran relawan dalam Haul Guru Sekumpul. Jumlahnya sangat banyak dan bekerja dengan koordinasi yang rapi. Saat kutanya, tercatat lebih dari 20 ribu relawan resmi, belum termasuk warga yang dengan kesadaran sendiri ikut membantu. Mereka mengatur lalu lintas, menjaga arus jamaah, membagikan makanan, hingga memastikan kebersihan. Semua dilakukan tanpa bayaran.

Aku sempat bertanya kepada salah seorang relawan tentang bagaimana semua ini bisa berjalan sedemikian tertib. Ia menjawab tanpa panjang lebar. Mereka hanya menjalankan kebiasaan yang sudah lama hidup. Tidak ada imbalan, tidak ada target apa pun. Sekadar memastikan jamaah merasa nyaman—sebagai bentuk penghormatan kepada tamu Abah Haji.

Di tengah keramaian itu, satu kebiasaan sosial terasa sangat kuat: minta rela. Setiap kali berinteraksi dengan relawan, warga, bahkan pedagang, ungkapan itu diucapkan ringan. Ia bukan sekadar permisi, melainkan permohonan agar dimaafkan jika ada sikap atau ucapan yang kurang berkenan. Kebiasaan ini menjaga suasana tetap tertib, meski jutaan orang berkumpul dalam satu waktu.

Rangkaian acara di Sekumpul berlangsung dengan sangat khidmat dan sederhana. Sejak sore hari, jamaah mengikuti pembacaan Ratib al-Haddad selepas Asar. Waktu Maghrib diisi dengan salat berjamaah, lalu suasana kembali dipusatkan pada pembacaan Simtud Durar hingga menjelang malam, yang kemudian ditutup dengan doa. Tidak ada sambutan dari siapa pun, tidak pula pidato tokoh-tokoh penting atau politisi. Seluruh rangkaian acara seakan dijaga agar tetap berada pada satu poros: dzikir, shalawat, dan kerinduan kepada Allah serta Rasul-Nya, dengan Guru Sekumpul sebagai wasilah kecintaan itu.

Tahun ini, menurut kawanku, rangkaian haul terasa lebih singkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Beberapa shalawat khas Guru Sekumpul, seperti Khabbiri Yā Nusaymā, tidak dibacakan. Meski demikian, kekhidmatan acara tetap terjaga. Jamaah mengikuti setiap rangkaian dengan tertib dan khusyuk, hingga seluruh acara selesai bahkan sebelum pukul sembilan malam.

Secara jumlah, Haul Guru Sekumpul memang menunjukkan skala yang luar biasa. Jamaah datang dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara. Jika melihat keteraturan, keterlibatan masyarakat, dan cara keramaian ini dijaga, rasanya tidak berlebihan bila haul ini disebut sebagai haul Sunni terbesar di dunia.

Selama tiga hari aku berada di sana, hujan hampir selalu turun pada malam hari. Namun pada malam haul, sejak pembacaan Simtud Durar dimulai hingga pagi hari, hujan tidak turun sama sekali. Aku tidak ingin berspekulasi tentang karamah. Aku hanya mencatat apa yang benar-benar terjadi.

Besarnya Haul Guru Sekumpul pada akhirnya terasa sangat logis. Ia tidak berdiri semata karena kisah-kisah ajaib atau cerita keramat yang sering dibicarakan. Itu mungkin ada, tapi bukan yang utama. Yang paling menentukan adalah bagaimana masyarakat Banjar sendiri merawat kerinduan itu: dengan adab, pelayanan, dan kesediaan menghadirkan diri sepenuhnya bagi para tamu. Dari sanalah haul ini tumbuh menjadi peristiwa besar, bukan karena sensasi, melainkan karena cinta yang dijaga bersama.

Minta Rela!

Kontributor

  • Mabda Dzikara

    Alumni Universitas Al-Azhar Kairo Mesir dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sekarang aktif menjadi dosen di IIQ Jakarta.