Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Esai

Tugas Sulit Santri-Santri Elite

Avatar photo
1207
×

Tugas Sulit Santri-Santri Elite

Share this article
Tugas Sulit Santri-Santri Elite
Tugas Sulit Santri-Santri Elite

Saya sering mendengar komplain mengenai Gus Iqdam. Komplain ini khususnya datang dari santri elite. Mereka adalah kelompok santri yang lebih terbuka.

Saya tidak panik mendengar komplain itu. Saya jawab agak diplomatis: memang trennya begitu mau gimana lagi.

Kalau kita lihat, Gus Iqdam adalah produk ekonomi digital, kemunculan menjadi konsekuensi yang sangat logis. Ceramahnya membumi, tidak ribet, dan tentu saja sabar ngemong wong ndeso. Algoritma suka padanya.

Siapa pula yang masih mau ngemong masyarakat bawah. Santri elite cenderung ogah-ogahan, mereka eksklusif, pikirannya abstrak dan sundul langit. Tidak merakyat.

Ada yang menarik ketika saya tonton potongan ceramah Gus Kautsar di satu majlis. Dia ditanya jamaah mengenai belajar agama lewat ChatGPT.

Saya suka dengan jawaban dia. Tidak melarang, justru mempertanyakan tugas para santri yang seharusnya memberi warna pada konten yang disedot mesin super pintar itu untuk jadi referensi.

Gus Kautsar balik lempar pertanyaan, kurang lebih seperti ini, apakah kita sudah memberi cukup sumbangan informasi kredibel di internet?

Di titik itu, saya rasa Gus Kautsar sedang mempertanyakan peran santri elite tadi. Karena memang seharusnya mereka lah yang menggawangi tugas ini.

Lalu, sejauh mana peran mereka?

Faktanya, jumlah website berbaris NU tidak seberapa jumlahnya. Jika dibandingkan dengan sebelah, bisa jadi kalah jumlah dan cara.

Kita tahu cara kerja AI itu, kan. Mereka butuh data untuk menjawab pertanyaan. Datanya dari mana? Ya dari artikel yang ada di internet.

Di sini, rating artikel yang ditulis santri menjadi kata kunci penting. Kredibilitas website, jumlah kunjungan, retensi pembaca, bentuk tulisan, dan segudang aturan main lainnya, yang menjadi pertimbangan AI untuk menjawab pertanyaan.

Umumnya, artikel yang dibuat santri masih ditulis dengan gaya lama, sulit dibaca, paragraf panjang, diksi yang tidak membumi dan cenderung ingin terlihat bagus sendiri, tidak mempertimbangkan minat pembaca.

Seberapa banyak artikel itu yang memenuhi syarat mesin pencarian tradisional (SEO)? Sedikit sekali. Main SEO ribet katanya.

Padahal SEO itu sendiri sekarang sudah usang sejak hadirnya Generative Engine Optimization (GEO).

Pernah dengar GEO?

Jadi GEO adalah optimasi konten untuk memuaskan mesin pencari berbasis AI (Google SGE, xAI, DeepSeek atau ChatGPT).

Cara mainnya lumayan jauh berbeda dari SEO. Model optimasi ini digunakan agar sebuah artikel labih mudah dipahami, relevan, dan kontekstual, yang nantinya akan dikutip AI untuk menjawab pertanyaan.

Dari sini, rasanya kita boleh merenung dengan jujur. Berapa banyak artikel yang sudah ditulis oleh santri-santri elite itu, yang telah memenuhi syarat di atas?

Sementara itu, kita tidak bisa mengelak dari fakta bahwa keberadaan ChatGPT dan kawan-kawannya itu, sudah banyak mengambil peran manusia, termasuk peran agamawan.

Dan ini jauh lebih penting dari sekadar tren.

Rasanya, pertanyaan Gus Kautsar di atas penting kita renungkan. Karena teknologi adalah nafas kita sehari-hari. Jangan-jangan kita sendiri yang belum siap. Lalu komplain ketika sudah ketinggalan.

Kontributor

  • Erik Erfinanto

    Part-time writer, serious reader, full-time editor. Loving books, movies, history and math. Living in Jakarta now.