Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Keunggulan al-Kasysyaf dan kewaspadaan terhadap sisi i’tizal-nya

Avatar photo
369
×

Keunggulan al-Kasysyaf dan kewaspadaan terhadap sisi i’tizal-nya

Share this article
Keunggulan al-Kasysyaf dan kewaspadaan terhadap sisi i’tizal-nya
Keunggulan al-Kasysyaf dan kewaspadaan terhadap sisi i’tizal-nya

Terjadi perdebatan di kalangan ahli bahasa tentang dimana letak balaghah sebuah kalimat. Apakah pada pemilihan katanya atau pada kepadatan maknanya. Sebagian mengatakan terletak pada pilihan kata atau fasahah kalimah. Sebagian mengatakan terletak pada bobot makna yang dikandungnya. Sampai kemudian datang Abdul Qahir al-Jurjani yang mengatakan bahwa balaghah sebuah kalimat terletak pada kesesuaian kata dengan makna yang dikandungnya, yang kemudian diungkapkan dengan:

 

مطابقة الكلام لمقتضى الحال

Untuk apa diksi kata yang bagus kalau makna yang dikandungnya rapuh. Untuk apa juga makna yang dalam kalau kata yang membungkusnya lusuh.

Tidak ada kalimat dengan tingkat balaghah tertinggi melebihi kalimat-kalimat al-Quran. Setiap kata dalam al-Quran merupakan kata paling tepat untuk posisi itu. Sehingga kalau dicoba digantikan dengan kata yang lain, tidak akan bisa. Inilah keindahan nazhm qurani.

Tafsir terbaik yang menyingkap hal ini adalah al-Kasysyaf karya Abu al-Qasim az-Zamakhsyari. Sesuai dengan namanya, tafsir ini berusaha mengungkap dan menyingkap keindahan dan rahasia penggunaan setiap kata di setiap tempat.

Sebagai contoh, dalam surat al-Hajj ayat 2, Allah Swt berfirman:

يوم ترونها تذهل كل مرضعة عما أرضعت …

“Pada hari ketika kamu melihatnya (goncangan hari kiamat), semua perempuan yang menyusui akan lalai terhadap anak yang disusuinya…”

Kenapa digunakan kata مرضعة bukan مرضع ? Bukankah pada lazimnya, sesuatu yang sudah menjadi spesialisasi perempuan tidak perlu lagi di-muannats-kan. Perempuan yang hamil disebut حامل bukan حاملة . Perempuan yang diceraikan suaminya disebut طالق bukan طالقة .

Sementara itu dalam ayat lain, Allah Swt menggunakan kata مرضع , yaitu pada surat al-Qashash ayat 12:

وحرمنا عليه المراضع …

“dan Kami cegah ia (Musa) menyusu pada perempuan-perempuan yang mau menyusuinya…”

Kata المراضع sendiri adalah jamak dari مرضع . Adapun kata مرضعة jamaknya adalah مرضعات .

Kenapa dalam surat al-Hajj digunakan kata مرضع sementara dalam surat al-Qashashs digunakan kata مرضعة ?

Disinilah letak keindahan dan keagungan nazhm qurani. Dimana kalau kata مرضعة yang di surat al-Hajj diletakkan di surat al-Qashash maka maknanya menjadi rusak.

Kata مرضعة dengan ta` marbutah menunjukkan arti sedang menyusui. Artinya proses menyusui itu sedang berlangsung. Dan ini sangat tepat menggambarkan kengerian dan dahsyatnya hari kiamat. Sampai-sampai ibu yang sedang menyusuipun tidak akan peduli dengan anak yang sedang disusuinya.

Berbeda dengan surat al-Qashash. Yang ingin ditegaskan disana adalah Musa kecil tidak mau menyusui pada wanita manapun; wanita yang bisa atau biasa menyusui. Bukan yang sedang menyusui.

Ini satu contoh dari keindahan nazhm Quran yang diungkap oleh al-Kasysyaf. Karena itu para ulama sangat mengagumi tafsir ini. Tapi mereka menyadari ada paham-paham Muktazilah yang sengaja dihembuskan Zamakhsyari dalam kitabnya ini.

Ketika Imam Taqiyyuddin as-Subki membaca tafsir ini, ia begitu kagum. Tapi ia khawatir kalau tafsir ini dibaca orang awam (yang tak punya dasar yang kuat dalam balaghah dan tauhid) bisa saja ia terpapah i’tizaliyah. Karena itu beliau menulis satu risalah kecil berjudul:

سبب الانكفاف عن قراءة الكشاف

Seorang ulama dari Iskandariyah bernama Imam Ibnu al-Munayyir sampai menulis Hasyiyah terhadap Kasysyaf untuk men-ta’qib setiap naz’ah i’tizaliyyah yang terdapat di dalamnya. Saking pentingnya ta’qib terhadap al-Kasysyaf ini dalam pandangan Ibnu al-Munayyir, sampai-sampai ia tidak ikut serta dalam jihad melawan Salibis yang masuk ke Iskandariyah waktu itu demi menyelesaikan Hasyiyahnya. Padahal ulama-ulama besar di zaman itu ikut dalam jihad seperti Abu al-Hasan asy-Syadzili, Ibnu Daqiq al-‘Ied, al-Mundziri dan sebagainya.

Sampai kemudian datang Imam Nashiruddin al-Baydhawi yang mengkaji al-Kasysyaf dengan seksama serta mengkritisi titik-titik i’tizal di dalamnya melalui tafsirnya yang terkenal. Sejak saat itu, al-Kasysyaf lebih ‘aman’ untuk dikonsumsi siapapun. Tentunya dengan membandingkannya dengan Tafsir al-Baydhawi, Hasyiysah Ibnu al-Munayyir, ditambah Hasyiyah ath-Thibi dan kitab-kitab lain yang menyoroti sisi i’tizal Zamakhsyari.

Dengan begitu keunggulan al-Kasysyaf dari segi kajian balaghahnya dapat tetap dinikmati, dan sisi i’tizal-nya juga bisa diwaspadai. Semoga Allah Swt meridhai para ulama kita sepanjang sejarah.

(مقتبس من درس الأستاذ الدكتور أسامة السيد الأزهري حفظه الله تعالى قديما في الرواق الأزهري لكتاب لقطة العجلان للإمام الزركشي رحمه الله تعالى)

[YJ]

Kontributor

  • Yendri Junaidi

    Bernama lengkap Yendri Junaidi, Lc., MA. Pernah mengenyam pendidikan di Perguruan Thawalib Padang Panjang, kemudian meraih sarjana dan magister di Universitas Al-Azhar Mesir. Sekarang aktif sebagai Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Diniyyah Puteri Padang Panjang.