Imam Akbar Al-Azhar Syekh Ahmad at-Tayyib, dalam pengantar ‘Ilahiyyat’ Ibn Sina terbitan terbaru, menyatakan bahwa mempelajari filsafat ketuhanan dalam khazanah Sinawiyan (juga “ragam rasionalitas” lain), “telah menjadi suatu kebutuhan yang sangat mendesak dan tak terelakkan, demi membentuk kesadaran Timur yang autentik dalam menghadapi budaya Barat yang datang dari luar.”
Statemen Grand Syekh Al-Azhar ini bukanlah retorika belaka. “Kemendesakan” itu terbukti dengan adanya Al-Azhar, suatu universitas yang selama ini identik sebagai corong akidah Asy’ari, menerbitkan karya—apalagi dalam metafisika—yang ‘terkenal’ berseberangan dengan akidah Ahlussunnah.
Apakah Al-Azhar bertaruh keyakinan? Tidak sama sekali. Dalam perkara akidah, Al-Azhar memang beraliran Ahlussunnah (Asy’ariyah dan Maturidiyyah), namun warisan intelektual Islam tak mengenal sekat-sekat mazhab yang terlalu kaku. Al-Azhar selama ini selalu berjalan di tapak turos untuk menatap masa depan. Bagi Al-Azhar (sebagaimana sering disinggung Syekh at-Tayyib), menatap masa depan dengan meninggalkan turos akan menjadikan kita umat yang tanpa identitas; mengekor Barat, baik metode, cara berpikir, dan bahkan gaya hidup. Menerbitkan masterpiece filsafat Islam dengan berbagai varian rasionalitasnya, bagi Syekh at-Tayyib, penting untuk “membentuk kesadaran Timur yang autentik”.
Saya agak kaget ketika Syekh at-Tayyib, masih di pengantar ‘Ilahiyyat’, menyatakan dengan nada keras: “Sebab budaya ini tidak puas hanya bekerja dalam batas-batasnya sendiri di Barat Eropa dan Amerika, melainkan telah mulai memaksakannya secara paksa, melalui tahapan yang licik dan berbahaya, kepada keluarga Muslim di Timur, serta kepada anak-anak, perempuan, dan laki-laki kaum Muslimin.” Tak biasanya kami mendengar beliau berkata sekeras ini. Namun, perlu dicermati bahwa nada yang cukup keras dari Syekh at-Tayyib ditujukan untuk membangunkan kita, umat Islam, dari lelap yang panjang. Kita telah digerogoti oleh fanatisme golongan; lumpuh oleh perang sekte yang seolah tanpa usai. Sudah saatnya kita mengesampingkan perbedaan yang tidak esensial di antara umat. Masih banyak yang harus kita pelajari dari turos pemikiran Islam, dan masih berjibun PR kita untuk mendialektikakan turos itu dalam terang masa kita ini.
Dengan menerbitkan ‘Ilahiyyat’ Ibn Sina, Al-Azhar (benteng Ahlussunnah itu), berarti telah menyisihkan perdebatan teologis-filosofis antara Ulama Ahlussunnah (Al-Ghzali dst.) dengan para filsuf. Perdebatan yang sampai mengantarkan kepada tragedi pengkafiran itu tak menjadikan Al-Azhar harus membela punggawa Asy’ari (Al-Ghazali), dan ikut mengkafirkan para filsuf. Dengan memegang jargon “anti-takfiri sesama ahli kiblat”, Al-Azhar bisa lebih leluasa membimbing umat kepada apa yang mereka butuhkan dewasa ini. Apa yang bisa kita pelajari dari warisan ragam rasionalitas Islam jika di awal langkah kita telah membatasi diri dengan jerat “pemikiran bidah” atau “pemikiran kafir”? Tak terbayang bagaimana seorang Ibn Sina, yang ketika buntu dalam belajar langsung pergi ke masjid untuk Shalat sunnah, disemati “kafir” atau “zindiq” hanya karena ia berbeda dalam berpikir!
Separuh dari lembar-lembar pengantar Syekh at-Tayyib dalam ‘Ilahiyyat’ dihabiskan untuk membedah biografi intelektual Ibn Sina. Apa artinya? Artinya, Syekh at-Tayyib ingin menunjukkan bahwa umat Islam pernah punya sosok yang jenius; seorang Polymath yang tekun di berbagai bidang ilmu, baik agama, filsafat, maupun sains. Tak kalah penting, ‘ijtihad’ Ibn Sina dalam mencari ilmu dan memahami berbagai warisan Yunani, sebagaimana yang ia kemukakan sendiri dalam autobiografi, adalah contoh yang kita butuhkan di masa instan kita. Yang kita butuhkan detik ini adalah upaya yang sungguh-sungguh dalam mempelajari pengetahuan—dari manapun datangnya pengetahuan itu—dan, di saat yang sama tetap mempertahankan autentitas jati diri kita sebagai orang Timur dan sekaligus umat Islam. Jangan sampai hanya karena melihat Barat detik ini ‘kelihatan’ maju dalam segi fisik (teknologi, arsitektur, dlst.), kita tertipu untuk serta merta mengambil semua hal dari Barat: kebudayaan, gaya hidup, dan seterusnya.
Syekh at-Tayyib tidak menolak untuk belajar dari peradaban manapun, termasuk dari Barat hari ini. Namun, beliau selalu mewanti-wanti bahwa Barat hadir dalam kehidupan kita dengan cara menelusup secara diam-diam. Pada awalnya barangkali kita tertarik dengan peradabannya yang maju, sainsnya yang berkembang, teknologinya yang canggih; namun, kemudian secara tak sadar, lambat-laun, kita juga melucuti kebudayaan otentik kita yang menjadi warisan suci umat Islam. Memungkasi kegelisahannya terhadap umat Islam hari ini yang menerima budaya Barat tanpa syarat, Syekh at-Tayyib berkata: “Budaya yang rendah mutu ini—pada masa kita sekarang—telah dipromosikan melalui berbagai bentuk rayuan modernitas: pesona, daya tarik, emasnya dan pedangnya pula—jika memang diperlukan—setelah terlebih dahulu mencabut dan memisahkan sistem pendidikan kita dari unsur-unsur kekuatannya, dan membiarkannya dalam keadaan lemah dan hina, sehingga tidak mampu menolak tangan siapa pun yang menyentuhnya.”






Please login to comment