Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Pelajaran Hidup dari Imam Akbar Al-Azhar, Syekh Ahmad Ath-Thayyib

Avatar photo
643
×

Pelajaran Hidup dari Imam Akbar Al-Azhar, Syekh Ahmad Ath-Thayyib

Share this article
Pelajaran Hidup dari Imam Akbar Al-Azhar, Syekh Ahmad Ath-Thayyib
Pelajaran Hidup dari Imam Akbar Al-Azhar, Syekh Ahmad Ath-Thayyib

Dunia tidak akan mengenal sosok Ahmad ath-Thayyib andai kecelakaan mobil pada waktu kecilnya merenggut nyawanya.

Imam Akbar Al-Azhar, Syekh Ahmad ath-Thayyib mengisahkan sebuah kecelakaan lalu lintas yang dialaminya saat masa kecil. Tepat setelah beliau mendapatkan ijazah sekolah dasar.

“Hidupku, seluruhnya datang dari kelembutan Allah,” ungkap Syekh Ahmad ath-Thayyib menggambarkan bagaimana Allah menyelamatkan dirinya dengan karunia dan kelembutan-Nya.

Dalam sebuah wawancara televisi, beliau mengatakan, “Aku pernah mengalami kecelakaan lalu lintas setelah memperoleh ijazah tingkat dasar dari lembaga pendidikan agama. Kejadian itu terjadi di kota Isna, sekitar 60 kilometer dari rumahku di provinsi Luxor,” kenang beliau.

Ceritanya, mobil yang beliau tumpangi terjatuh ke dalam saluran irigasi. Untungnya air di saluran itu sedikit. Semua penumpang termasuk beliau, berhasil dikeluarkan dari saluran tersebut.

“Alhamdulillah aku tidak mengalami apa pun,” ujar beliau.

Ketua Majelis Hukama Muslimin itu mengatakan, “Sering kali kita berusaha meraih banyak hal, namun tidak terwujud. Setelah itu, kita pun mengucap hamdalah, memuji Allah dan menyadari bahwa Dia telah menyelamatkan kita.”

Kata beliau kemudian mengutip salah satu ayat al-Quran, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu.”

Tepat pada tanggal 6 Januari kemarin, Ketua Majelis Hukama Muslimin itu genap berusia 80 tahun.  Beliau menghabiskan hidupnya untuk berkhidmah untuk agama dan tanah air serta menyebarkan wajah Islam yang penuh toleransi (wasathiyah).

“Delapan puluh tahun penuh pengabdian Imam Ahmad ath-Thayyib, sebagaimana aku mengenalnya dari dekat,” kata wakil al-Azhar Syekh adh-Dhuwaini.

Syekh Ahmad ath-Thayyib lahir pada 6 Januari 1946 M bertepatan dengan 3 Shafar 1365 H, di desa al-Qurnah, Luxor, dari keluarga terhormat dan berilmu. Ayahnya termasuk orang yang berilmu dan saleh.

Ahmad ath-Thayyib kecil tumbuh di kampung halamannya, lalu menempuh pendidikan di al-Azhar. Menghafal al-Quran dan mempelajari kitab-kitab dasar keilmuan dengan metode khas al-Azhar.

Sang ayah bercita-cita agar putranya, Ahmad dan saudaranya, Muhammad—kakaknya—menjadi ulama al-Azhar yang dikenal luas di kampung mereka. Beliau sudah menunjukkan kecerdasan sejak dini dan unggul di seluruh jenjang pendidikan al-Azhar, hingga masuk Fakultas Ushuluddin di Kairo. Beliau terus menorehkan prestasi dengan meraih gelar magister dan doktor, sampai akhirnya beliau melanjutkan studi di Universitas Sorbonne, Prancis.

Ahmad muda masuk jurusan akidah dan filsafat di Fakultas Ushuluddin al-Azhar di Kairo. Ia lulus dengan predikat sangat baik pada tahun 1969 M.

Beliau menerima mandat sebagai Grand Syekh al-Azhar ke-48, sejak 19 Maret 2010, menggantikan Syekh Muhammad Sayid ath-Thanthawi. Sebelumnya, beliau menjabat sebagai Rektor Universitas al-Azhar, dan guru besar akidah Islam. Beliau fasih berbahasa Prancis dan Inggris, menerjemahkan sejumlah referensi Prancis ke dalam bahasa Arab, dan pernah mengajar sebagai dosen universitas di Prancis.

Selama menduduki kursi pimpinan tertinggi di al-Azhar, Syekh Ahmad ath-Thayyib tidak menerima gaji sepeser pun dari jabatannya sebagai Imam Akbar al-Azhar. Beliau mengatakan bahwa ia menjalankan tugasnya ini untuk melayani Islam sehingga beliau merasa tidak berhak mendapatkan upah kecuali dari Allah.

Tidak sampai di situ, beliau juga melepaskan banyak tunjangan yang menjadi haknya sebagai bentuk kezuhudan dan kesederhanaan. Banyak bantuan dari al-Azhar yang ia alokasikan untuk korban banjir dan bencana, pembangunan rumah sakit, santunan bagi korban terorisme, serta pembiayaan banyak perjalanan haji dan umrah bagi keluarga para korban.

Dua posisi prestisius yang beliau duduki sebelum menjadi Imam Akbar al-Azhar adalah Mufti Mesir pada 10 Maret 2002 M.  Selama masa jabatannya sebagai mufti, beliau telah mengeluarkan sekitar 2.835 fatwa sebagaimana yang tercatat di arsip Darul Ifta Mesir. Kemudian setahun kemudian, pada tahun 2003 beliau diangkat menjadi Rektor Universitas al-Azhar.

Syekh Ahmad ath-Thayyib merupakan tokoh muslim terkemuka dan ulama yang paling dikenal dalam membela isu-isu kemanusiaan, menyebarkan ajaran toleransi dan moderasi untuk menghadapi seruan isolasionisme dan ekstremisme di tingkat global.

Sejak menjabat sebagai Grand Syekh al-Azhar, beliau memainkan peran penting dalam mendorong dialog antaragama, membangun jembatan komunikasi dan dialog antara masyarakat Timur dan Barat, serta memperkuat nilai-nilai hidup berdampingan secara damai dan penerimaan terhadap pihak lain.

Sepanjang kiprahnya, Imam Akbar ath-Thayyib berperan besar dalam meredakan ketegangan sektarian di sejumlah negara dunia Islam. Beliau juga getol membangun ulang relasi umat Islam dengan “yang lain”.  Hal itu beliau lakukan untuk menegaskan keharusan menghormati pemeluk agama-agama samawi yang lainnya.

“Yang membedakan al-Azhar dari universitas-universitas lain adalah misi yang diembannya dalam menyebarkan kesadaran keagamaan dan sosial,” ujar beliau.

Gagasan dan pemikiran Imam Akbar Syekh Ahmad ath-Thayyib dikenal moderat dan adil. Dengan itu, apa yang beliau tulis dan sampaikan banyak diterima di kalangan muslim dan nonmuslim. Beliau tidak condong pada sikap keras dan tidak berlebihan dalam beragama. Beliau memilih jalan tengah (adil) yang menurutnya merupakan ciri terbaik Islam. Dari sinilah, kita sering menyaksikan bagaimana sikap tegas beliau yang selalu menolak pengingkaran terhadap pihak lain—siapa pun dia—atas nama agama, mazhab, atau ras, karena hal itu sama sekali bukan ajaran Islam.

Pemikiran moderat Syekh Ahmad ath-Thayyib tentu saja dari keluasan ilmu dan penghormatanna yang tinggi kepada budaya intelektual. Sikap yang wajar bagi seseorang yang dibesarkan di al-Azhar dan menempuh pendidikan di Sorbonne, tempat ia meraih gelar doktor dalam akidah Islam.

Beliau telah memperkaya khazanah perpustakaan Arab dan dunia dengan puluhan karya dalam bidang fikih, syariat, dan tasawuf Islam. Seperti Mafhum al-Jihad fi al-Islam, fi Al-Manhaj al-Azhari, Mafhum al-Harakah baina al-Falsafah al-Islamiyah wa al-Falsalah al-Markisiyah, dan lain-lain.

Banyak konferensi internasional telah banyak diikuti oleh Syekh Ahmad ath-Thayyib. Tidak jarang beliau menyuarakan tentang wajah Islam yang sesungguhnya, kecaman beliau terhadap standar ganda dari Barat yang memandang Islam sebagai sumber kejahatan terorisme. Termasuk sikap tegas beliau atas agresi militer Israel di Gaza dan pembelaan beliau terhadap perjuangan Palestina.

Kontributor

  • Abdul Majid

    Penerjemah kitab-kitab Arab Islam. Mengisi waktu luang dengan bertanam dan mengajar kelas privat bahasa Arab. Sekarang tinggal di Majalengka. Dapat dihubungi di IG: @amajid13.