Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Berita

Ulama Filipina Protes Rencana Militer Mengawasi Madrasah

Avatar photo
712
×

Ulama Filipina Protes Rencana Militer Mengawasi Madrasah

Share this article

Organisasi Islam terbesar di Filipina dan para tokohnya pada hari Senin (19/10) mengecam pernyataan panglima militer yang mengatakan pekan lalu bahwa sekolah-sekolah Islam atau madrasah akan dipantau angkatan bersenjata karena berdasarkan laporan intelijen, digunakan sebagai tempat untuk merekrut militan baru.

Ebrahim Ismael, anggota Konferensi Ulama Nasional Filipina, sebuah organisasi yang mewakili cendekiawan muslim di negara itu, mengatakan bahwa kebijakan tersebut akan memperumit hubungan yang sudah renggang antara warga sipil muslim dan aparat keamanan.

“Salah jika mengatakan bahwa madrasah digunakan untuk perekrutan kelompok teror. Saya adalah produk madrasah dan ekstremisme tidak diajarkan kepada kami,” katanya kepada BeritaBenar Senin (19/10).

“Mungkin para militan menjalankan sekolah Islam mereka sendiri, tetapi secara umum sekolah Islam tidak digunakan untuk perekrutan.” imbuhnya.

Baca juga: Kitab Perukunan Sunda Diajarkan di Filipina

Pekan lalu, Panglima Angkatan Bersenjata Jenderal Gilbert Gapay mengatakan bahwa angkatan bersenjata akan memantau sekolah-sekolah Islam guna mencegah kemungkinan infiltrasi militan yang terkait dengan kelompok ekstremis ISIS. Departemen Pendidikan telah mendaftar adanya 500 madrasah di seluruh negara itu tetapi masih banyak madrasah yang tidak terdaftar.

“Propagandis ISIS yang paham internet menjaring anak-anak melalui media sosial,” kata Gapay.

Pihaknya sedang berkoordinasi dengan Departemen Pendidikan untuk melihat berbagai sekolah, terutama di Sulu dan bagian lain di Mindanao.

Ustadz Hakimi Dimakuta, seorang tokoh agama di provinsi Lanao del Sur di selatan, menekankan bahwa radikalisme tidak diajarkan di sekolah-sekolah Islam. “100 persen madrasah tidak menyebarkan bom bunuh diri dan bentuk terorisme lainnya.” ujarnya.

“Saya belajar bagaimana menjadi warga negara yang baik dan bagaimana berurusan dengan sesama umat Kristiani,” imbuhnya. Dia menambahkan telah belajar di madrasah puluhan tahun.

Sementara itu, Mujiv Hataman, anggota parlemen Filipina yang beragama Islam menantang Gapay untuk mengajukan tuntutan jika dia bisa membuktikan klaim bahwa sekolah berfungsi sebagai ladang bagi militan untuk merekrut siswa. “Kami diajari untuk tidak melakukan hal buruk dan tidak menyakiti orang lain, ”kata dia yang berasal dari Pulau Basilan selatan.

Basilan adalah tempat kelompok militan Islam Abu Sayyaf bermarkas lebih dari dua dekade lalu.

Baca juga: Ulama Mindanao Berguru kepada Syekh Abdullah bin Abdul Qahar Banten

“TNI seharusnya tidak membuat pernyataan umum yang mengaitkan madrasah dengan teroris tanpa menunjukkan bukti keberadaannya yang tak terbantahkan. Ini berbahaya dan tidak adil,” imbuhnya.

Gapay mengungkapkan rencana pengawasan madrasah tersebut dalam konferensi online dengan para jurnalis pada 13 Oktober lalu, hanya selang beberapa hari setelah penangkapan Rezky Fantasya Rullie, seorang wanita Muslim Indonesia yang diduga merencanakan serangan bom bunuh diri di Jolo, sebuah pulau di provinsi Sulu.

Orang tuanya, Rullie Rian Zeke dan Ulfah Handayani Saleh tewas dalam serangan bom bunuh diri di gereja Our Lady of Mount Carmel di Jolo Filipina yang menewaskan 21 orang pada Januari 2019 lalu. Rezky adalah janda dari milisi Indonesia yang menjadi anggota Abu Sayyaf, kelompok militan pro-ISIS yang tewas pada Agustus lalu.

Kontributor

  • Redaksi Sanad Media

    Sanad Media adalah sebuah media Islam yang berusaha menghubungkan antara literasi masa lalu, masa kini dan masa depan. Mengampanyekan gerakan pencerahan melalui slogan "membaca sebelum bicara". Kami hadir di website, youtube dan platform media sosial.