Tidaklah mudah untuk menyatukan penduduk Nusantara yang memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi dari segala sisi. Dari sisi keragaman budaya, Nusantara adalah rumah bagi 1340 suku yang berbeda-beda, menyebar di kepulauan yang jumlahnya lebih dari 17 ribu, dan tentu saja mereka menuturkan bahasa yang juga beragam, kurang lebih 733 bahasa.
Keragaman tersebut, jika dilihat sebagai aset pariwisata, memang sangat menggiurkan dan bisa diolah menjadi modal untuk menarik pengunjung. Namun, bagi para pendiri bangsa, keragaman ini merupakan pekerjaan rumah yang amat menantang, yang tak bisa diselesaikan hanya dengan slogan persatuan belaka.
Bagaimana seorang Sunda bisa memiliki ide yang sama dengan orang Sanger yang menempati ujung utara Nusantara? Bagaimana seorang Dayak mampu berkomunikasi dengan warga Tengger di lereng Gunung Bromo? Dan bagaimana pula seorang Madura mau berjuang melawan penjajah bersama suku Batak Toba di Pegunungan Sidikalang, Sumatera Barat?
Apa sebenarnya spirit yang mampu membakar semangat persatuan mereka sehingga mau bersatu dalam bingkai keragaman Nusantara?
Menjawab pertanyaan ini, kita perlu kembali ke masa lalu, saat Amukti Palapa diucapkan oleh Patih Gajah Mada pada tahun 1331.
Dengan hati mantap, Gajah Mada berucap, “Sira Gajah Mada Patih Amangkubhumi, sira Gajah Mada: ‘Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, ring seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa.'”
Artinya: “Saya, Gajah Mada, tidak akan melepaskan puasa (amukti palapa) sebelum menguasai seluruh Nusantara, menaklukkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Bali, Sunda, Palembang, dan Tumasik.”
Sumpah Palapa ini dinilai mengandung ambisi politik yang berlebihan, namun perlu diakui bahwa tahun tersebut disebut sebagai titik nol persatuan Nusantara yang kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya Nusantara modern, atau Indonesia.
Ucapan sang Patih itu masih relevan sampai sekarang. Semangat mempersatukan keragaman itu masih berkobar di dalam sanubari bangsa ini. Warisan semangat mempersatukan itu harus terus dijaga, tidak boleh padam, bahkan harus terus membara.
Selanjutnya, Islam masuk ke Nusantara dan disambut baik oleh penduduknya. Ulama Nusantara, dengan keahlian dan pengetahuan agama yang mereka miliki, berperan dalam menyebarkan ajaran Islam yang damai dan memberikan solusi atas perubahan sosial yang terjadi.
Cara hidup baru yang dibawa oleh Islam diterima dengan baik oleh warga Nusantara. Setelah puas menjalankan cara hidup baru ini, warga pun ingin lebih dalam mengetahui dan memahami ajaran Islam. Dalam waktu yang relatif singkat, Islam pun menjadi agama mayoritas di negara kepulauan ini.
Tanpa senjata, apalagi darah, ulama Nusantara mengajarkan agama dengan ilmu yang sewajarnya. Namun, cinta kasih yang diajarkan oleh agama ini terbukti laris diterima oleh warga. Prinsip “Rahmatan lil ‘alamin” bukanlah slogan biasa, melainkan merasuk ke dalam sanubari bangsa.
Dalam menghadapi penjajah, Islam memberi solusi: “Hubbul wathon minal iman” – cinta terhadap tanah air adalah bagian dari iman. Spirit ini diteruskan menjadi semangat perjuangan bangsa melawan penjajah. Ini bukanlah semangat perjuangan biasa, tetapi perjuangan yang didasari oleh iman kepada Sang Pencipta.
Perjuangan Diponegoro menjadi penanda perjuangan Islam melawan penjajah. Diponegoro adalah seorang panglima perang yang mengerti agama. Pasukannya menyebar ke seluruh pelosok Nusantara, mengajarkan Islam di tempat-tempat yang mereka datangi.
Perjuangan Diponegoro mencerminkan semangat kebangsaan dan cinta tanah air yang kuat. Ia tidak hanya berjuang untuk kebebasan politik, tetapi juga untuk melindungi nilai-nilai agama dan keadilan. Melalui pemahaman agama dan semangat kebangsaan yang dipadukan, Diponegoro berhasil menggalang persatuan dan memimpin perjuangan melawan penindasan.
Perjuangan Diponegoro dan peristiwa-peristiwa penting lainnya, seperti Perang 10 November dan peran Mbah Hasyim, mencerminkan semangat nasionalisme dan patriotisme yang memperkuat rasa cinta terhadap tanah air.
Dalam era globalisasi dan semakin terbukanya dunia, nasionalisme dan patriotisme tetap menjadi nilai-nilai yang penting dalam memperkokoh persatuan dan membangun kebangsaan yang berkeadilan. Ulama Nusantara terus berperan dalam membumikan kebangsaan dan cinta tanah air melalui pendidikan agama yang mengajarkan nilai-nilai kebangsaan dan ketaqwaan kepada Tuhan.
Dengan memahami dan menghargai peran ulama Nusantara dalam membumikan kebangsaan dan cinta tanah air, kita dapat menjaga semangat persatuan dan melanjutkan warisan perjuangan mereka untuk membangun Indonesia yang maju, berkeadilan, dan berdikari. Semangat mempersatukan keragaman dan mencintai tanah air harus terus dijaga agar Indonesia tetap menjadi negara yang kuat dan berdaulat di tengah-tengah tantangan global yang semakin kompleks.






Please login to comment