Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Karamah kubra seorang wali

Avatar photo
1054
×

Karamah kubra seorang wali

Share this article

Ketika menulis biografi Sayid Ahmad Al-Badawi, Syeikhul Azhar Abdul Halim Mahmud hampir tidak menyinggung cerita karamah yang sifatnya supranatural.

Asumsi saya, beliau ingin memberikan edukasi kepada pembaca bahwa kemampuan supranatural itu bukan menjadi tolok ukur seorang wali.

Jika tidak diluruskan, masyarakat akan beranggapan, semakin sakti seseorang maka maqam kewaliannya semakin tinggi. Akibatnya, akan muncul orang-orang yang mengaku wali untuk memperoleh keuntungan materi.

Selain itu, akan muncul citra buruk terhadap wali karena identik dengan sifat klenik dan jauh dari syariat Nabi Muhammad Saw.

Sebagai gantinya, Syekh Abdul Halim Mahmud menulis bab karamah kubra dengan sudut pandang lain. Menurutnya, karamah kubra dari Sayid Ahmad Al-Badawi adalah keberhasilannya dalam mendidik para sufi dari berbagai belahan dunia agar bertasawuf sesuai dengan ajaran al-Qur’an dan Sunnah.

Dalam berpakaian, Sayid Ahmad Al-Badawi senang dengan warna merah. Diriwayatkan, Rasulullah memakai pakaian merah ketika hari raya dan ketika acara perkumpulan. Selain itu, Sayid Ahmad Al-Badawi juga memilih warna merah sebagai panji simbol tarekatnya. Beliau berpesan kepada khalifahnya, Sidi Abdul ‘Al:

“Ketahuilah, aku memilih panji merah ini sebagai simbol untuk diriku sendiri ketika aku masih hidup, dan untuk khalifahku setelah aku meninggal nanti. Panji ini menjadi simbol orang yang mengikuti jalanku setelah aku wafat”

“Apa syarat bagi orang yang membawanya, Maulana?” Sidi Abdul ‘Al bertanya.

Sayid Al-Badawi kemudian menerangkan delapan pondasi tarekatnya.

Syarat pertama adalah jujur. Salah satu ciri orang yang berdakwah di jalan Allah adalah tidak pernah berbohong. Maka dari itu, ketika Rasulullah mengirim surat kepada Heraklius untuk mengajak masuk Islam, Raja Romawi itu bertanya kepada orang-orang Arab yang ada di sana, apakah Muhammad orang yang jujur.

Semua orang sepakat bahwa sepanjang hidupnya Muhammad tidak pernah berbohong. Bahkan persaksian ini juga diucapkan oleh Abu Sufyan yang sejatinya belum masuk Islam ketika itu.

Syarat kedua adalah menghindari perbuatan keji dan dosa besar. Karena sifat-sifat orang saleh yang disebutkan dalam al-Qur’an adalah

وَٱلَّذِينَ يَجۡتَنِبُونَ كَبَٰٓئِرَ ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡفَوَٰحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُواْ هُمۡ يَغۡفِرُونَ

“Dan orang-orang yang menjauhi dosa besar serta perbuatan keji. Dan ketika (ada yang berbuat buruk sehingga) marah, mereka memberi maaf” (QS. Asy-Syura [42]: 37)

Syarat ketiga adalah menundukkan pandangan terhadap sesuatu yang haram. Sebagaimana perintah al-Qur’an

قُل لِّلۡمُؤۡمِنِينَ يَغُضُّواْ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِمۡ وَيَحۡفَظُواْ فُرُوجَهُمۡۚ ذَٰلِكَ أَزۡكَىٰ لَهُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا يَصۡنَعُونَ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” (QS. An-Nur [24]: 30)

Syarat keempat adalah bersih dari noda. Maksudnya, seseorang tidak pergi ke tempat yang bisa menghilangkan kehormatannya.

Syarat kelima adalah bersih hatinya. Maksudnya, seseorang bisa menjaga tubuhnya, lisannya dan hatinya dari merendahkan orang lain.

Syarat keenam adalah selalu takut kepada Allah. Abu Bakar berkata: “Jangan pernah merasa aman dari azab Allah meskipun salah satu kakimu telah melangkah ke pintu surga”.

Syarat ketujuh adalah beramal sesuai tuntunan al-Quran.

Dalam banyak kesempatan Sayid Al-Badawi selalu menegaskan bahwa tarekat sufinya berlandaskan al-Qur’an dan Sunnah. Salah satu nasihat yang sering disampaikan para ulama sufi adalah “Jika kamu melihat seseorang yang dapat terbang di udara atau berjalan di atas air tetapi perilakunya bertentangan dengan syariat, maka ketahuilah bahwa ia adalah pengikut setan”.

Syarat kedelapan adalah selalu berzikir mengingat Allah dan berpikir melihat ciptaan-Nya. Sebagaiana perintah al-Qur’an

ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَٰذَا بَٰطِلٗا سُبۡحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imran [3]: 191)

Dengan demikian, sangat tidak tepat anggapan Sayid Ahmad Al-Badawi mengajarkan kebid’ahan atau laku supranatural yang bertentangan dengan syariat. Justru sebaliknya, keberhasilan seseorang menjadi wali menurut beliau itu diukur dari seberapa kuat ia berpegang dengan al-Qur’an dan Sunnah serta berakhlak mulia.

Kontributor

  • Muhammad Fazal Himam

    Asal dari Kedungleper, Bangsri, Jepara. Sedang menempuh kuliah S2 di Universitas Al-Azhar Jurusan Tafsir dan Ulumul Quran, Kairo Mesir. Pernah nyantri di Perguruan Islam Mathali’ul Falah Pati. Meminati kajian filsafat & quranic studies