Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Perempuan, Infertilitas, dan Kesalingan (Menemukan makna keluarga di luar narasi melahirkan)

Avatar photo
483
×

Perempuan, Infertilitas, dan Kesalingan (Menemukan makna keluarga di luar narasi melahirkan)

Share this article
Perempuan, Infertilitas, dan Kesalingan (Menemukan makna keluarga di luar narasi melahirkan)
Perempuan, Infertilitas, dan Kesalingan (Menemukan makna keluarga di luar narasi melahirkan)

 Ekspektasi besar sering membebani perempuan dalam berbagai ruang sosial. Ekspektasi ini mencakup menikah, melahirkan, dan berfungsi sebagai penerus garis keturunan. Narasi ini telah mengakar kuat, menyebabkan seseorang Perempuan yang tidak dikarunia anak dapat dicap kurang atau bahkan dianggap gagal menjalankan fungsi keperempuanan nya. Kata “mandul” acap kali dilontarkan, seringkali dengan nada merendahkan. Padahal, kenyataan media menunjukkan bahwa infertilitas bukanlah persoalan perempuan semata. Dalam banyak kasus, laki-laki juga bisa menjadi factor penyebab. Bahkan ada kondisi di mana infertilitas merupakan hasil dari interaksi Kesehatan keduanya. Namun, beban stigma hamper selalu ditimpakan pada Perempuan. Di sinilah perspektif kesalingan menjadi penting. Infertilitas bukanlah aib yang harus ditanggung sendiri oleh Perempuan. Ia adalah ujian Bersama, yang semestinya dihadapi dengan cinta, empati, dan Kerjasama, bukan dengan tuduhan atau penghakiman.

Infertilitas dalam Bayang Stigma Social

Budaya kita kerap menempatkan kesuburan sebagai simbol harga diri Perempuan. Seorang istri yang belum memiliki anak sering mendapat pertanyaan tajam seperti “kapan punya momongan?” atau “kenapa belum isi juga?”, seakan-akan keberhargaan dirinya hanya diukur melalui Rahim semata. Tekanan ini tidak hanya melukai psikologis Perempuan, tetapi juga dapat mengganggu keharmonisan rumah tangga. Banyak Perempuan yang merasa bersalah, minder, hingga mengalami depresi akibat stigma yang dilekatkan kepadanya. Padahal, dari sisi medis, infertilitas bisa berasal dari banyak factor seperti kesehatan sperma, kondisi Rahim, factor hormonal, hingga gaya hidup. Artinya, menyalahkan Perempuan saja adalah bentuk ketidakadilan. Perspektif mubadalah menuntut kita untuk menggeser cara pandang bahwa infertilitas adalah tanggung jawab berdua, bukan satu pigak.

Islam dan Makna Keluarga yang Lebih Luas

Islam sejatinya tidak pernah menempatkan  Perempuan sebagai alat reproduksi semata. Al-Qur’an dengan jelas menekankan bahwa tujuan pernikahan adalah menghadirkan ketentraman (Sakinah), cinta (mawaddah), dan kasih sayang (Rahmah). Allah berfirman dalam QS. Rum ayat 21, yang berbunyi:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”

Ayat ini menegaskan bahwa inti dari rumah tangga bukanlah anak, melainkan relasi penuh cinta antara suami dan istri. Anak adalah karunia, bukan syarat sah atau tolak ukur keberhasilan sebuah pernikahan. Lebih jauh, Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa anak adalah pemberian Allah yang tidak bisa dipaksa oleh manusia, sebagaimana termaktub dalam QS. Asy-Syura ayat 49-50, yang berbunyi:

لِلّٰهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُ ۗيَهَبُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ اِنَاثًا وَّيَهَبُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ الذُّكُوْرَ ۙ اَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَّاِنَاثًا ۚوَيَجْعَلُ مَنْ يَّشَاۤءُ عَقِيْمًا ۗاِنَّهٗ عَلِيْمٌ قَدِيْرٌ

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan anak laki-laki dan perempuan, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.”

Ayat ini dengan sangat jelas menunjukkan bahwa infertilitas bukan aib, melainkan bagian dari kehendak Allah, maka tidak ada alasan untuk merendahkan Perempuan karenanya. Al-Qur’an juga menghadirkan teladan kisah para Nabi yang bergulat dengan isu keturunan. Nabi Zakariya misalnya, lama berdoa agar dikaruniai anak, hingga akhirnya Allah mengabulkan nya di usia tua dengan kelahiran Nabi Yahya, sebagaimana dituliskan dalam QS. Maryam ayat 2-9. Kita juga mengenal kisah Sarah, istri Nabi Ibrahim, yang baru melahirkan di usia senja. Kisah-kisah ini mengajarkan tentang kesabaran, doa, dan penyerahan diri kepada Allah. Namun, Sejarah juga mencatat banyak orang mulia yang tetap dihormati meski tidak memiliki keturunan biologis. Kemuliaan manusia ditentukan oleh takwa dan kontribusinya, bukan jumlah anak yang ia miliki.

Perspektif mubadalah menegaskan bahwa hubungan suami istri berlandaskan kesalingan. Infertilitas bukanlah beban istri atau aib Perempuan, melainkan tantangan Bersama yang menuntut komunikasi, empati dan Kerjasama dari keduanya. Rasulullah bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini seolah menegaskan bahwa kualitas laki-laki tidak diukur dari keberhasilan istrinya melahirkan, melainkan dari bagaimana ia memperlakukan keluarganya dengan penuh kasih. Pada praktiknya, banyak pasangan yang justru semakian kuat ikatan cintanya karena saling menopang di Tengah infertilitas. Ada yang memilih mengasuh keponakan, ada yang menjadi orangtua asuh, ada pula yang mencurahkan kasih sayang melalui aktivitas social. Semua pilihan tersebut merupakan bentuk keluarga yang bermakna, walaupun tanpa memiliki anak kandung.

Menemukan Makna Keluarga di Luar Narasi Melahirkan

Keluarga tidak harus selalu diartikan secara biologis. Islam memberi ruang luas untuk memahami keluarga sebagai lingkaran kasih sayang. Mengasuh anak yatim, mendidik generasi, atau terlibat aktif dalam Masyarakat juga bagian dari mewujudkan nilai keluarga. Rasulullah bersabda:

“Apabila seorang anak Adam meninggal dunia, maka amalnya terputus kecuali dari tiga hal seperti sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Hadis ini memang menyebut ‘anak saleh’, tetapi menegaskan bahwa jalan menuju pahala abadi tidak Tunggal. Sedekah dan ilmu juga bisa menjadi warisan yang terus mengalir, bahkan bagi mereka yang tidak memiliki anak biologis. Dengan demikian, nilai seorang Perempuan tidak bisa direduksi hanya pada kemampuan reproduksi. Ia adalah manusia seutuhnya, dengan martabat, potensi, dan peran besar di luar urusan melahirkan.

Infertilitas bukanlah dosa, bukan pula kutukan. Ia adalah bagian dari takdir Allah yang seharusnya disikapi dengan kesabaran dan kesalingan. Menyalahkan Perempuan hanya karena tidak bisa melahirkan adalah bentuk ketidakadilan yang bertentangan dengan nilai Islam. Melalui perspektif mubadalah kita belajar bahwa makna keluarga jauh lebih luas dari sekadar melahirkan anak. Keluarga adalah perwujudan Sakinah, mawaddah, warahmah. Esensinya terletak pada saling menopang, menguatkan, dan menebar kasih sayang baik kepada pasangan, maupun kepada Masyarakat luas. Maka, mari kita hentikan stigma terhadap Perempuan yang tidak memiliki anak. Sebab, keluarga yang sejati bukanlah keluarga yang selalu dikaruniai keturunan, melainkan yang menegakkan cinta, keadilan, dan kesalingan dalam setiap keadaan

Kontributor

  • Maharani Wulandari

    Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAIN Samarinda. Meminati kajian keislaman, moderasi dan kebangsaan dan tafsir Al-Qur’an