Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Ramadan, Bulan Mengasihi Sesama

Avatar photo
195
×

Ramadan, Bulan Mengasihi Sesama

Share this article
Ramadan, Bulan Mengasihi Sesama
Ramadan, Bulan Mengasihi Sesama

Tak lama lagi, dalam hitungan hari, Ramadan akan hadir menyapa kita semua selaku kaum muslim. Ini bulan yang dinanti, karena kelimpahan rahmat, berkah dan ampunan, tercurah ruah di dalamnya. Juga bulan merefresh atau men-defrag diri menjadi lebih baik lagi, secara lahir maupun batin.

Pada bulan ini, kewajiban membaca/belajar juga meneliti dimandatkan (Qs. al-‘Alaq: 1-5), puasa wajib sebulan penuh dititahkan (Qs. al-Baqarah: 183), al-Quran sebagai petunjuk dan rahmat bagi seluruh umat diturunkan (Qs. al-Baqarah: 185), Malam Qadar yang lebih baik dari 1000 bulan dianugerahkan (Qs. al-Qadar: 3), kepedulian sosial ditekankan melalui zakat (Qs. al-Taubah: 103) dan banyak lagi keistimewaan lainnya.

Tak heran, dibanding 11 bulan lainnya dalam kalender Hijriyah, Ramadan menempati posisi yang spesial. Ibarat 12 putera Nabi Ya’qub, Ramadan adalah Nabi Yusufnya. Saking utamanya Nabi Yusuf, ia bahkan bermimpi melihat 11 bintang, matahari, juga rembulan, semuanya bersujud padanya (Qs. Yusuf: 11). Mimpi yang oleh Nabi Ya’qub, ayahnya, terlarang disampaikan pada siapapun, karena bisa memantik iri dengki dalam hati saudara-saudaranya.

Begitulah kiranya gambaran keutamaan Ramadan, jika dianalogikan dengan Nabi Yusuf yang tampan, gagah, saleh, berwibawa, santun, pemaaf, peduli dan bahkan berpangkat tinggi. Siapapun merindukan dan ingin berdekatan dengannya. Sebab itu, dalam bait syair disebutkan dengan indah pengibaratan Ramadan dengan Nabi Yusuf ini:

Ya’qub punya 12 putra. Yusuf di antaranya.

Satu tahun 12 bulan. Ramadan salah satunya.

Yusuf anak emas Ayahnya.

Ramadan bulan tercinta Penciptanya.

Yusuf penyabar. Memaafkan kejahatan saudara-saudaranya

Ramadan bulan ampunan. Diampunilah dosa bulan-bulan lainnya

Kala paceklik tiba, Yusuf memenuhi kebutuhan sebelas saudaranya

Kala amal tak seberapa, Ramadan menambal celah-celah sebelas bulan lainnya

Ya’qub yang buta mencium aroma Yusuf dan terusap oleh bajunya,

maka terang kembali penglihatannya.

Bila hati ini buta, hiruplah harum Ramadan dan giatlah di dalamnya,

maka benderang kembali hati kita.

Untaian syair indah nan puitis di atas diungkapkan oleh Imam Abu al-Faraj Jamal al-Din bin al-Jauzi (508 H-597 H) dalam karyanya, Bustan al-Wa’idhin wa Riyadh al-Sami’in. Ungkapan ini menggambarkan betapa Ramadan merupakan bulan terpenting bagi kaum muslim (tentu bukan bermaksud mengecilkan urgensi bulan-bulan lainnya). Semua berkepentingan dengannya. Semua merindukannya, bak merindu kehadiran kekasih hati. Siang malam, Ramadan menjadi pujaan.

Dan Ramadan, jikan benar-benar dirindukan dan ingin digumuli dengan mesra, sudah semestinya menjadikan seluruh kaum muslim fokus untuk beribadah di dalamnya; puasa, baca al-Quran, shalat tarawih, shalat malam, berzakat wajib atau bersedekah sunnah, menjaga nafsu makan, menjaga lisan dan pandangan, juga menjaga perilaku buruk lainnya.

Pada Ramadan, berbeda dengan bulan lainnya, bahkan empat pilar (rukun) Islam dijalankan sekaligus oleh kaum muslim: syahadat, shalat, puasa dan zakat. Tiga yang awal berupa ibadah individual dan satu yang terakhir berupa ibadah sosial. Ini bermakna bahwa ibadah tidak cukup hanya untuk kepentingan diri sendiri, namun juga harus berdampak pada orang lain, khususnya mereka yang kesulitan ekonomi atau kaum dhu’afa.

Bahkan Rasulullah Saw bersabda, sebagaimana diriwayatkan Imam al-Tirmidz dari Anas bin Malik. Suatu ketika, beliau ditanya: “Wahai Rasulullah, sedekah apa yang nilainya paling utama?” “Sedekah di bulan Ramadhan,” jawabnya. Sebab, pada bulan ini, segala bentuk ibadah dilipatgandakan kebaikannya di hadapan Allah Swt.

Untuk itu, sudah semestinya, di bulan ini nilai-nilai kasih sayang pada sesama, lebih ditingkatkan. Kebaikan pada sesama, apapun bentuknya, dipicu dan dipacu lagi kuantitasnya, sehingga kebaikan sosial ini bisa memercik menjadi life-style atau gaya hidup keseharian di bulan-bulan lain selain Ramadan.

Itulah Ramadhan, bulan penuh kasih sayang. Jika di bulan ini, baik pikiran, hati maupun perilaku benar-benar fokus tertuju pada Allah Swt, maka pikiran tidak akan memandang buruk pada yang lain, hati tidak akan dihinggapi prasangka jelek pada yang berbeda dan perilaku naif tidak akan mengganggu mereka yang tidak sama, baik pada sesama muslim maupun pada non-muslim.[]

Ditulis oleh H. Nurul H. Maarif (Guru Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak-Banten). Tulisan ini tayang pertama kali dalam Buletin Rumah Wasathiyah

Kontributor

  • Redaksi Sanad Media

    Sanad Media adalah sebuah media Islam yang berusaha menghubungkan antara literasi masa lalu, masa kini dan masa depan. Mengampanyekan gerakan pencerahan melalui slogan "membaca sebelum bicara". Kami hadir di website, youtube dan platform media sosial.