Ratusan santri dan masyarakat memadati Gedung Menara Kudus, Ahad malam (13/7/2025), untuk menghadiri Pengajian Akbar & Launching Kitab Fathul ‘Aliyyil Karīm fī Mawlidin Nabiyyil ‘Aẓīm (Kemenangan Tertinggi pada Maulid Sang Nabi Agung)
Kitab ini merupakan karya ulama asal Kudus, Syekh Abdul Hamid, yang dinilai sebagai salah satu kontribusi penting ulama Nusantara dalam tradisi penulisan maulid Nabi.

Acara yang berlangsung khidmat diawali dengan pembacaan Fathul ‘Aliyyil Karīm secara murūr oleh para masyayikh yang hadir. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemutaran video biografi Syekh Abdul Hamid Kudus yang menggugah para hadirin tentang sosok ulama yang jarang diketahui publik.
Kitab Fathul ‘Aliyyil Karīm menarik perhatian karena menjadi salah satu teks maulid Nabi yang ditulis langsung oleh ulama Nusantara. Selama ini, tradisi maulid di Indonesia didominasi karya-karya Timur Tengah seperti Barzanjī, Dibā’ī, dan Simṭud Durar. Meski ada nama besar Syekh Nawawi al-Bantani yang mensyarah Barzanjī lewat Madārij as-Su‘ūd ilā Iktisā’i al-Burūd serta syarah Qaṣīdah al-Burdah, belum ada gubahan maulid murni dari ulama lokal yang dikenal luas.
Kitab ini telah ditahqiq oleh Lajnah Taḥqīq bi Turāts ‘Ulamā Quds, mengikuti pola penulisan klasik Barzanjī dengan sentuhan khas Syekh Abdul Hamid Kudus.
Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Musthafa dalam pengantarnya tentang program Jelajah Turats Nusantara (Jalantara) menekankan pentingnya menghidupkan karya ulama-ulama Nusantara. Baginya, peluncuran kitab ini menjadi bukti bahwa peradaban Islam di Indonesia telah lama berdiri di atas warisan ilmu para ulama lokal.
“Peradaban dibangun dengan turāts atau peninggalan para ulama. Inilah wajah Nahdlatul Ulama yang sejati—menghidupkan ilmu dan karya ulama Nusantara,” ujarnya.
Senada, Syekh Syadi ‘Arbasy , Ulama asal Damaskus yang menjadi guru dari banyak pentahqiq muda NU menegaskan tiga hal sebagai yang penting: menghormati ulama, menjaga peninggalan mereka, dan memperhatikan tarjamah (biografi) ulama. Ia juga menyebut, hasil penelitian para ulama muda Nahdlatul Turats berhasil menjawab simpang siur nisbah “Quds” pada nama Syekh Abdul Hamid. Penyebutan “Quds” bukan merujuk pada kota al-Quds di Syam atau Yaman, tetapi pada Kudus, Indonesia. Temuan ini menguatkan bahwa Syekh Abdul Hamid adalah ulama asli Nusantara, sebagaimana ditegaskan sendiri dalam karyanya.
“Menjaga karya mereka adalah salah satu hak yang harus kita tunaikan kepada para ulama,” ucapnya.
Rais Aam Syuriah PBNU KH. Miftahul Akhyar dalam tausiyahnya mengingatkan jamaah untuk tidak menjadi umat yang inmā‘ah—latah dan tanpa pendirian. Ia mengutip sabda Rasulullah SAW agar umat Islam tidak hanya mengikuti arus, tetapi memiliki sikap tegas dalam menjaga warisan ulama.
“Selama ini kita tidur dan kagetan. Semoga momentum ini mendorong kita untuk bangkit dan kembali meneladani para ulama,” ujarnya.
Acara ini juga dihadiri tokoh-tokoh nasional dan para masyayikh terkemuka, antara lain KH. Munir Abdillah, KH. Muhibbil Aman Aly, KH. Muhammad Fathan, KH. Arifin Fanani, KH. Yahya Mutamakkin, KH. Ubaidillah Shadaqah, KH. Abdul Ghafur Rozin, Habib Luthfi al-Attas, Habib Ahmad Idrus al-Habsyi, serta para penggiat turats Nusantara dari berbagai daerah.
Peluncuran Fathul ‘Aliyyil Karīm tak hanya menjadi momen historis bagi warga Kudus, tetapi juga mengukuhkan kembali komitmen Nahdlatul Ulama untuk merawat warisan intelektual Islam Nusantara.






Please login to comment