Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Sisi Lain Bangsa Arab pada Masa Jahiliyah

Avatar photo
1582
×

Sisi Lain Bangsa Arab pada Masa Jahiliyah

Share this article
Jahiliyah tidak lantas menunjukkan bangsa Arab pra Islam itu bodoh dan terbelakang.
Jahiliyah tidak lantas menunjukkan bangsa Arab pra Islam itu bodoh dan terbelakang.

Fase kehidupan Bangsa Arab sebelum masuknya Islam dikenal dengan masa jahiliyah. Kata “jahiliyah” di sini diambil dari kata “jahl” yang biasanya diartikan dengan kebodohan. Tapi kita tidak bisa mengartikan dengan arti tersebut.

Prof. Dr. Abdul Majid Al-Nuti berpendapat kalau kata jahiliyah diambil dari kata “jahl” yang berarti rasa amarah dan sifat suka memberontak. Anonim kata “jahl” di sini bukan “ilmu”, tapi Islam, yang berarti tunduk dan taat.

Makna yang disampaikan oleh beliau adalah makna yang cocok, melihat di masa itu Bangsa Arab tidak berada dalam kebodohan dalam artian tidak punya peradaban dan pengetahuan. Banyak di antara mereka adalah orang-orang yang bijak dan cerdas.

Saat kita mengkaji keadaan masyarakat di masa tersebut, kita akui mereka hidup dalam keadaan yang cukup berantakan. Berisi peperangan antar suku, pelecehan wanita, anak perempuan yang dikubur hidup-hidup, perjudian, hingga kesyirikan, sehingga diutuslah kepada mereka seorang Rasul di akhir zaman, Sayyidina Muhammad.

Di sisi lain, kita tidak bisa menutup sebelah mata dan melupakan sisi baik masyarakat di masa itu. Mungkin ini yang sering dilupakan dan tidak diceritakan.

Sebelum kita telusuri lebih jauh ke buku sejarah, kita bisa melihat sifat jujur yang tertanam dalam diri orang Arab. di Shahih Al-Bukhari misalnya, saat Sufyan bin Harb, seorang pembesar Quraisy yang sedang berdagang di Romawi, dipanggil untuk menghadap ke Raja Heraclius untuk ditanyakan beberapa informasi tentang Rasulullah, ia tidak bisa berdusta tentang Rasulullah, padahal saat itu ia belum masuk Islam.

Ia berkata saat ingin mulai ditanya:

فو الله لولا الحياء من أن يأثروا علي كذبا لكذبت عليه

“Demi Allah, seandainya bukan karena rasa malu jika aku akan dikatakan sebagai pendusta, pasti aku akan berdusta tentang Rasulullah”.

Fakta menariknya, ucapan ini diucapkan oleh orang yang dulu hidup di masa jahiliyah dan belum masuk Islam.

Sifat Terpuji Bangsa Arab Jahiliyah

Bangsa Arab di masa jahiliyah dikenal memiliki sifat setia dan loyal. Pantang ingkar janji, apapun yang terjadi. Samaw’al salah seorang tokoh di masa jahiliyah pernah dititipkan oleh Umrul Qais 100 baju perang dan pedang yang sangat banyak.

Suatu hari, musuh Umrul Qais datang untuk mengambil senjata itu. Ia tidak melihat apapun kecuali hanya ada anak dari Samaw’al. Dia pun menculik anak itu dan mengancam Samaw’al, “Kalau kamu tidak serahkan senjata itu, maka akan aku bunuh anakmu!”.

Samaw’al enggan memberikan senjatanya karena sifat setia yang ia miliki. Anaknya pun dibunuh. Nama Samaw’al kini dikenal dan dijadikan sebagai lambang kesetiaan oleh Bangsa Arab. Hingga Al-A’sya mengabadikan kisahnya dalam bait-bait syiir:

خيّره خطتي خسف، فقال له • اعرضهما هكذا اسمعهما حار

فقال: ثكل وغدر أنت بينهما • فاختر، وما فيهما حظ لمختار

فشك غير طويل ثم قال له • اقتل أسيــرك إني مانــع جاري

“Dia disuruh pilih dua pilihan yang hina, ia berkata tawarkan keduanya. Begini yang aku dengar, wahai Harits”.

“Dia menawarkan: “aku bunuh anakmu atau aku lepaskan, maka pilihlah”, tidak ada bagian untuk memilih di antara keduanya”.

“dia tidak ragu, kemudian berkata: “bunuh saja sandramu itu, aku akan mencegahmu dari senjata Umrul Qais”.

Status Sosial Perempuan Arab di Masa Jahiliyah

Perempuan di masa jahiliyah tidak semuanya dianggap aib. Di antara mereka ada yang menjadi pembesar kaumnya, didengar suaranya, dan diterima pendapatnya. Sebut saja Khansa yang dikenal dengan syiirnya, atau Su’da bint Hisn yang dikenal dengan pendapatnya yang sangat bijak.

Su’da bint Hisn ini punya anak yang bernama Aus bin Haritsah. Anaknya ini pernah dicaci oleh seorang penyair yang bernama Bisyr bin Abi Khazim. Karena tidak terima dicaci, Aus bin Haritsah mengancam sang penyair, “Aku akan memotong lidahmu dan aku kurung hingga mati, atau aku akan potong kaki dan tanganmu lalu aku melepaskanmu di Padang pasir”.

Mendengar ucapan anaknya yang dinilai terburu-buru, Su’da bint Hisn menasehatinya dengan sangat bijak, ia berkata kepada anaknya: “Ayahmu sudah wafat, jika kamu lakukan itu, maka tidak akan ada lagi yang membersihkan namamu.”

Anaknya menjawab: “Lalu apa yang harus aku lakukan?”

Ibunya berkata: “Pakaikan ia baju terbaikmu, naikkan ia di atas kudamu, dan iringi dia dengan 100 unta terbaik. Nanti penyair itu akan memujimu, sehingga caciannya yang tadi akan terhapus dalam benakmu”

Anaknya pun melakukan saran ibunya, dan apa yang diharapkan terjadi. Sang penyair kini hidup untuk memuji Aus bin Haritsah.

27 November 2024

Kontributor

  • Fahrizal Fadil

    Mahasiswa Indonesia di Mesir, asal dari Aceh. Saat ini menempuh studi di Universitas Al-Azhar, Fakultas Bahasa dan Sastra Arab. Aktif menulis di Pena Azhary. Suka kopi dan diskusi kitab-kitab turats.