Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Tiga Cara Mengendalikan Marah Sesuai Tuntunan Nabi

Avatar photo
957
×

Tiga Cara Mengendalikan Marah Sesuai Tuntunan Nabi

Share this article

Seseorang meminta solusi perihal
cara mengendalikan diri ketika dikuasai kemarahan. Permintaanya itu menggerakkan
saya untuk menulis tentang apa yang mesti seorang lakukan bila sedang dalam
kondisi marah.

Marah atau emosi acap kali timbul
sebagai reaksi psikologis atas kejadian yang tidak menyenangkan dalam sebuah
interaksi. Jika emosi sudah mendominasi, seringnya hal-hal buruk yang justru terjadi.

Interaksi
sosial sebenarnya mengikat setiap individu agar saling memahami, mengerti serta memaklumi akan sikap serta perangai satu
sama lain.

Terkadang,
seseorang harus mengerti watak serta tabiat diri sendiri terlebih dahulu,
sebelum ia mampu menyesuaikan hal tersebut dalam interaksi dengan orang lain.

Rasulullah
saw. mengajarkan kepada kita, kaedah serta rumus dasar yang wajib diterapkan
oleh setiap individu dalam
berinteraksi sosial. Beliau bersabda:

لا يؤمن أحدكم، حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه

“Tidaklah
sempurna iman seseorang, hingga ia mampu mencintai untuk saudaranya apa
-apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari, no: 13)

Namun,
terkadang seseorang tak mampu
menahan emosi
dan
mengontrol
amarah, ketika timbal balik yang tak diinginkannya muncul dari perbuatan orang
lain. Lantas, bagaiman kiat  atau cara
untuk mengontrol amarah?

Pertama:
Padamkan Amarah dengan Air Wudhu

Cara
ini dinilai sangat mujarab untuk menurunkan tensi tinggi yang disebabkan oleh
amarah. Rasulullah saw. menghimbau umatnya dalam sabdanya,

 إن الغضب من
الشيطان، وإن الشيطان خلق من النار، وإنما تطفأ النار بالماء، فإذا غضب أحدكم
فليتوضأ

“Sungguh
amarah muncul dari setan dan setan tercipta dari bara api, serta api hany akan
padam dengan air. Maka ketika salah seorang dari kalian marah, maka
berwudhulah.” (HR. Abu Dawud, no: 4784)

Pakar
psikologi berasumsi dengan dalih hadits ini, bahwa minum segelas air putih
sedikit bisa menenangkan jiwa serta menurunkan tensi tubuh, setelah amarah meluap-luap.

Kedua:
Berpindah Posisi

Ketika
seseorang meluapkan amarahnya dalam posisi berdiri, maka hendaklah dia beranjak
dari tempat tersebut dan mencari tempat yang tenang untuk duduk guna me
nurunkan tensi tubuhnya.

Hal
tersebut telah disarankan oleh Rasulullah saw. dalam hadits,

إذا غضب أحدكم وهو قائم فليجلس، فإن ذهب عنه الغضب وإلا
فليضطجع

“Ketika
salah seorang dari kalian marah dalam posisi berdiri, maka hendalklah dia duduk,
karena itu akan menghilangkan amarahnya. (Jika masih tidak hilang), maka
berbaringlah.”
(HR. Abu Dawud, no: 4782)

Imam
Al-Ghazali menjelaskan maksud dan hikmah dari perintah Rasulullah saw. tersebut.
Beliau berkata:

فإن سبب الغضب الحرارة وسبب الحرارة الحركة

“Karena
(amarah) disebabkan oleh panas (suhu tubuh) yang naik. Serta naiknya suhu
tersebut karena sebab (gerakan tubuh), maka suhu tersebut bisa turun ketika
seseorang menenangkan gerakan tubuhnya.”
(Lihat Ihya’ Ulûm ad-Dîn: 3/174)

Ketiga:
Membaca Taawudz dan Istigfar

Hendaknya
seseorang meminta ampunan serta memohon perlindungan kepada Allah (taawudz)
setelah ia meluapkan amarahnya.

Rasulullah
saw. bersabda,

كان
إذا غضبت عائشة أخذ بأنفها وقال يا عويش قولي اللهم رب النبي محمد اغفر لي ذنبي
وأذهب غيظ قلبي

“Adapun
sikap Rasulullah saw. ketika Aisyah marah, maka beliau mencubit hidungnya
seraya berkata, ‘Wahai Uwaisy (panggilan
sayang
Nabi kepada
Aisyah), ucapkanlah doa: Allahumma rabban-nabi Muhammad, ighfir
li dzanbi wa adzhib ghaidha qalbi (Ya Allah Tuhan Nabi Muhammad,
beristighfarlah!! Serta mohonlah kepada
Allah swt. agar meredam amarahmu!!’ (HR. Ibnu as-Sunni, dalam kitab A’mal
Al-Yaum wa Al-Lailah
)

Namun,
yang paling mulia
adalah ketika seorang hamba mampu menahan
amarahnya, serta memilih untuk tidak melampiaskannya.

Dalam
riwayat
disebutkan bahwa Nabi Ayub as. menghimbau,

 حلم ساعة
يدفع شرا كثيرا

“Menahan amarah serta memilih bersabar sejenak,
mampu menghindarkan beribu-ribu masalah (yang muncul ketika ia meluapkan
amarahnya).” Wallahu
a‘lam bis Showab.

Kontributor

  • Muhammad Fahmi Salim

    Alumni S1 Univ. Imam Syafii, kota Mukalla, Hadramaut, Yaman. Sekarang aktif mengajar di Pesantren Nurul Ulum dan Pesantren Al-Quran As-Sa'idiyah di Malang, Jawa Timur. Penulis bisa dihubungi melalui IG: @muhammadfahmi_salim