Setiap kali Hari Raya bertepatan dengan hari Jumat, pertanyaan yang kerap muncul adalah: apakah salat Jumat tetap wajib setelah melaksanakan salat Id? Perbedaan pendapat mengenai masalah ini bukanlah perkara baru dalam khazanah fikih Islam. Ulama telah berbeda pendapat dalam masalah ini sejak dahulu. Tulisan ini akan mengulas pandangan dari berbagai mazhab, sekaligus membedakan hukum antara orang yang tinggal dekat dengan masjid dan mereka yang berada di daerah terpencil yang jauh dari masjid.
Ragam pendapat ulama
- Orang yang tinggal dekat dengan masjid
Pertama, menurut mayoritas mazhab (Hanafīyah, Mālikīyah, dan Syāfiīyah), apabila hari Raya Idulfitri atau Iduladha bertepatan dengan hari Jumat, dan seseorang telah melaksanakan salat Id secara berjemaah, maka ia tetap diwajibkan menunaikan salat Jumat sebagaimana biasanya. Kewajiban ini tetap berlaku selama tidak ada uzur syar’i yang menghalanginya, seperti sakit atau hujan lebat yang menyulitkan untuk hadir ke masjid. Karena ibadah salat Id adalah sunnah, dan ibadah salat Jumat adalah wajib. Sedangkan sesuatu yang sunnah tidak bisa menggugurkan sesuatu yang wajib.
Berikut keterangan dari mazhab Hanafi :
قال العلامة ابن عابدين الحنفي في “رد المحتار” (2/ 166، ط. دار الفكر): [مذهبنا: فلزوم كل منهما. قال في “الهداية” ناقلًا عن “الجامع الصغير”: عيدان اجتمعا في يوم واحد؛ فالأول سنة، والثاني فريضة، ولا يُترك واحدٌ منهما] اهـ
Al-‘Allāmah Ibn ‘Ābidīn al-Hanafī berkata dalam Radd al-Muḥtār (2/166, cet. Dār al-Fikr): “Menurut mazhab kami (Ḥanafi) kedua salat (Jumat dan Id) itu wajib dilaksanakan. Dalam kitab al-Hidāyah, dinukil dari al-Jāmi‘ aṣ-Ṣaghīr dikatakan ‘Dua hari raya berkumpul dalam satu hari; yang pertama (Salat Id) adalah sunnah, sedangkan yang kedua (Salat Jumat) adalah fardu, dan tidak boleh meninggalkan salahsatunya”.
Keterangan dari mazhab Maliki :
قال القاضي عبد الوهاب المالكي في “الإشراف على نكت مسائل الخلاف” (1/ 335، ط. دار ابن حزم): [مسألة: إذا اتفق عيدٌ وجمعةٌ لم يسقط أحدهما بالآخر، خلافًا لأحمد بن حنبل.. ولأن شرائطها موجودة فلزمت إقامتها، أصله إذا لم يكن عيدٌ، ولأن صلاة العيد سنة لم تسقط فرض كصلاة الكسوف، ولأن الجمعة آكد؛ لأنها فرضٌ، فإذا كانت لا تسقط الأضعف كان الأضعف بأن لا يُسقط الآكدَ أولى] اهـ
Al-Qāḍī ‘Abd al-Wahhāb al-Mālikī berkata dalam al-Ishrāf ‘alā Nukat Masā’il al-Khilāf (1/335, cet. Dār Ibn Ḥazm) ” Terdapat sebuah pembahasan, yaitu jika hari raya Id dan hari Jumat jatuh pada hari yang sama, maka salah satunya tidak gugur karena yang lain. Pendapat ini berbeda dengan pendapat Aḥmad bin Ḥanbal. Sebab, syarat-syarat diwajibkan salat Jumat sudah terpenuhi, maka wajib dilaksanakan. Hal ini kembali kepada hukum asal jika tidak bertepatan dengan hari raya. Selain itu, Salat Id adalah sunnah yang tidak bisa menggugurkan sebuah kewajiban, sebagaimana salat Kusuf (gerhana) yang dilakukan pada hari Jumat. Bahkan, salat Jumat lebih ditekankan karena ia fardu”.
Keterangan mazhab Syafi’i :
قال الإمام النووي الشافعي في “المجموع” (4/ 491، ط. دار الفكر): [قال الشافعي والأصحاب: إذا اتفق يوم جمعة يوم عيد وحضر أهل القرى الذين تلزمهم الجمعة لبلوغ نداء البلد فصلوا العيد لم تسقط الجمعة
Imam an-Nawawī berkata dalam al-Majmū‘ (4/491, cet. Dār al-Fikr): “Imam asy-Syāfi‘ī dan para ulama mazhab (Syafi‘i) berkata: Jika hari Jumat bertepatan dengan hari raya (Id), lalu penduduk desa yang terkena kewajiban Jumat karena mendengar seruan azan datang dan melaksanakan salat Id, maka kewajiban salat Jumat tidak gugur”.
Kedua, menurut mazhab Hambali, apabila seseorang telah melaksanakan salat Id secara berjemaah, maka ia diperbolehkan untuk meninggalkan salat Jumat dan tidak berdosa. Namun sebagai gantinya, ia tetap wajib menunaikan salat Zuhur pada waktunya. Maka, seseorang yang tidak melaksanakan salat Id secara berjemaah, ia tetap berkewajiban mengikuti salat Jumat sebagaimana biasanya.
Berikut keterangan dari mazhab Hambali :
قال الإمام البهوتي الحنبلي في “كشاف القناع” (2/ 43، ط. دار الكتب العلمية): [(وإذا وقع عيد يوم جمعة فصلوا العيد والظهر جاز) ذلك (وسقطت الجمعة عمن حضر العيد) مع الإمام… وحينئذٍ: فتسقط الجمعة (إسقاط حضورٍ، لا) إسقاط (وجوب) فيكون حكمه (كمريضٍ ونحوه) ممن له عذرٌ أو شغلٌ يُبيح ترك الجمعة] اهـ
Imam al-Buhūtī al-Ḥanbalī berkata dalam Kashshāf al-Qinā‘ (2/43, cet. Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah): “Jika hari raya bertepatan dengan hari Jumat, lalu mereka melaksanakan salat Id dan salat Zuhur, maka hal itu diperbolehkan. Dan salat Jumat gugur bagi orang yang telah melaksanakan salat Id berjemaah bersama imam. Dalam hal ini, gugurnya salat Jumat memiliki arti gugur kewajiban hadir, bukan berarti salat Jumat tidak wajib. Maka hukumnya sebagaimana orang sakit dan orang yang memiliki uzur atau kesibukan yang memperbolehkan untuk meninggalkan salat Jumat.”
- Orang yang tinggal jauh dari masjid
Adapun seseorang yang tinggal di daerah yang tidak terdapat masjid, serta jauh dari masjid, seperti masyarakat pedalaman atau kawasan terpencil, lalu ia melaksanakan salat Id di daerah lain, maka menurut pendapat mu’tamad dalam mazhab Syafi’ dan satu riwayat Imam Malik ia tidak diwajibkan melaksanakan salat Jumat, karena tidak memungkinkan bagi mereka untuk kembali ke masjid guna mengikuti salat Jumat disebabkan jarak yang sangat jauh. Sebagai gantinya, ia wajib menunaikan salat Zuhur di tempat tinggalnya masing-masing.
Keterangan mazhab Syafi’I :
قال الإمام النووي في “روضة الطالبين” (2/ 79، ط. المكتب الإسلامي): [إذا وافق يوم العيد يوم جمعة، وحضر أهل القرى الذين يبلغهم النداء لصلاة العيد، وعلموا أنهم لو انصرفوا لفاتتهم الجمعة، فلهم أن ينصرفوا، ويتركوا الجمعة في هذا اليوم على الصحيح المنصوص في القديم والجديد. وعلى الشاذ: عليهم الصبر للجمعة] اهـ
Imam an-Nawawī berkata dalam Rauḍat al-Ṭālibīn (2/79, cet. al-Maktab al-Islāmī): “Jika hari raya bertepatan dengan hari Jumat, dan penduduk desa (yang tidak ada masjid di desa tersebut serta jauh darinya) mendengar seruan salat Id lalu datang guna melaksanakannya, serta mereka mengetahui bahwa jika mereka pulang salat Jumat akan terlewatkan, maka menurut pendapat yang sahih dalam kedua pendapat Imam Syafi‘i—baik yang lama maupun yang baru—mereka boleh kembali dan tidak mengikuti salat Jumat pada hari itu. Adapun menurut pendapat yang syādz, mereka wajib menunggu dan mengikuti salat Jumat.”
Keterangan Riwayat Imam Malik :
وقال الإمام المازري في “شرح التلقين” (1/ 1035- 1036، ط. دار الغرب الإسلامي) في “كون صلاة العيد عذرًا في التخلف عن الجمعة”: [اختلف المذهب فيه على الجملة. قال ابن حبيب: قد جاء أن النبي صلى الله عليه وآله وسلم أرْخص في التخلف عن الجمعة لمَن شهد صلاة الفطر والأضحى صبيحة ذلك اليوم من أهل القرى الخارجة عن المدينة؛ لما في رجوعهم من المشقة على ما بهم من شغل العيد، وقد فعله عثمان بإذنه لأهل العوالي ألَّا يرجعوا إليها، وروى مطرف وابن الماجشون نحوه عن مالك.. وهذا الذي حكاه ابن حبيب من الاختلاف إنما هو فيمن كان خارجًا عن المدينة …
Imam al-Māzarī berkata dalam Syarḥ at-Talqīn (1/1035–1036, cet. Dār al-Gharb al-Islāmī) tentang “Apakah Salat ‘Id Merupakan Uzur untuk Tidak Menghadiri Salat Jumat”: “Terdapat perbedaan pendapat dalam mazhab secara umum mengenai hal ini. Ibnu Ḥabīb berkata: Telah diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ memberikan keringanan untuk tidak menghadiri Salat Jumat bagi siapa saja yang telah melaksanakan salat Id al-Fiṭr dan Id al-Aḍḥā pada pagi hari itu, dari kalangan penduduk desa di luar Kota Madinah. Hal itu disebabkan karena adanya kesulitan bagi mereka untuk kembali (ke Madinah), terlebih dengan kesibukan mereka dalam merayakan hari raya. Sayyiduna ‘Utsmān juga pernah memberikan izin kepada penduduk ‘Awālī agar mereka tidak kembali ke Madinah. Telah meriwayatkan hal yang serupa dari Muṭarrif dan Ibn al-Mājisyūn dari Imam Mālik. Adapun perbedaan yang dinukil oleh Ibnu Ḥabīb ini, sebenarnya hanya berlaku bagi orang-orang yang berada di luar Kota Madinah”.
Kesimpulan
- Menurut mayoritas mazhab (Hanafīyah, Mālikīyah, dan Syāfiīyah ) :Salat Jumat tetap wajib bagi yang telah melaksanakan salat Id, karena salat Id adalah ibadah sunnah yang tidak bisa menggugurkan kewajiban salat Jumat.
- Menurut kaul mu’tamad mazhab Syafi’i, dan satu riwayat Imam Malik: Orang yang tinggal jauh dari masjid, seperti di pedalaman atau daerah terpencil, dan tidak memungkinkan kembali untuk salat Jumat setelah salat Id, maka tidak diwajibkan salat Jumat. Sebagai gantinya, ia wajib melaksanakan salat Zuhur di tempat tinggalnya.
- Menurut mazhab Hambali bagi seseorang yang telah salat Id secara berjemaah, diperbolehkan untuk tidak mengikuti salat Jumat dan tidak berdosa. Namun, ia tetap wajib menunaikan salat Zuhur. Sedangkan yang tidak mengikuti salat Id berjemaah, tetap berkewajiban melaksanakan salat Jumat.
Refleksi
Perbedaan pendapat mengenai salat Jumat yang bertepatan dengan Hari Raya bukanlah perkara baru.Ulama telah berselisih pendapat dalam masalah ini sejak dahulu, namun mereka tetap saling menghormati dan menjaga persaudaraan. Maka, tidak sepantasnya kita mencela orang yang mengikuti pendapat yang membolehkan tidak salat Jumat, atau tidak menghormati mereka yang tetap mewajibkannya. Sebab, keduanya memiliki dasar keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan. Yang lebih penting dari sekadar perbedaan hukum adalah menjaga adab, merawat ukhuah, dan menciptakan kedamaian di tengah umat. Perbedaan bukan celah untuk saling menyalahkan, tetapi jalan untuk saling melengkapi dalam kebaikan.









Please login to comment