Pernahkah kamu duduk menyaksikan seseorang berbicara panjang lebar dengan penuh keyakinan – gesturnya meyakinkan, suaranya menggelegar, kata-katanya tertata – namun setelah semuanya selesai, kamu bertanya-tanya: apa sebenarnya yang baru saja ia sampaikan? Dan yang lebih mengusik: apakah ia sendiri tahu?
Imam Ghazali, sembilan abad sebelum kita ramai memperbincangkan krisis kepemimpinan, sudah memberi nama pada fenomena ini. Ia menyebutnya al-maghūr. Orang yang tertipu. Bukan ditipu oleh orang lain, melainkan tertipu oleh dirinya sendiri. Tertipu oleh jabatan yang ia sandang, oleh tepuk tangan yang ia terima, oleh cermin yang terlalu sopan untuk menunjukkan wajah aslinya.
Dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Ghazali mengurai ghurūr bukan sebagai satu wajah, melainkan berlapis-lapis – seperti bawang yang semakin dikupas semakin menyengat. Di antara lapisan yang paling berbahaya adalah ghurūr al-jāh – tertipu oleh kedudukan – yang bersanding dengan ghurūr al-‘ilm – merasa tahu padahal tidak – dan ghurūr al-‘amal – merasa sudah cukup bekerja padahal belum.
Ketiganya bisa hadir sekaligus dalam satu tubuh, satu jabatan, satu ruang rapat.
Yang membuat al-maghūr begitu berbahaya bukan karena ia jahat. Justru sebaliknya, ia seringkali tulus. Ia sungguh-sungguh percaya bahwa ia sedang melakukan yang terbaik. Ia hadir di setiap forum, ia berbicara di setiap kesempatan, ia menandatangani setiap dokumen dengan penuh keyakinan. Tapi keyakinan tanpa kejernihan akal adalah seperti kompas yang jarumnya patah. Tetap berputar, tapi tidak menunjuk ke mana pun.
Ghazali menyebut akar dari semua ini adalah ‘ujub – kagum pada diri sendiri – yang ia namakan aṣl al-āfāt: akar segala bencana. Bukan bencana yang datang dari luar, melainkan bencana yang tumbuh dari dalam, perlahan, tanpa terasa, hingga sudah terlambat untuk disadari.
Bayangkan sebuah pertemuan. Ruangannya megah, kursinya nyaman, udaranya dingin. Di sana duduk para pemegang kepentingan politik atau apapun, mereka yang dipilih, ditunjuk, atau mendaku diri sebagai wakil dan pelayan publik.
Tapi lihatlah lebih dekat.
Ada yang matanya terpejam – bukan sedang berpikir mendalam, melainkan sedang tidak berpikir sama sekali. Ada yang jarinya sibuk di layar kaca – bukan mencatat poin penting, melainkan sedang berada di tempat lain sepenuhnya. Ada yang berbicara panjang, mengutip angka-angka, menyebut istilah-istilah asing, namun ketika ditanya lebih dalam, jawabannya berputar kembali ke titik yang sama: kosong.
Dan di luar ruangan itu, orang-orang yang seharusnya mereka wakili sedang menunggu. Petani yang tanahnya terancam. Buruh yang upahnya dipotong. Ibu yang anaknya tidak bisa berobat. Mereka menunggu bukan dengan harapan yang besar – mereka sudah lama belajar untuk tidak berharap terlalu banyak – mereka menunggu hanya dengan satu pertanyaan sederhana: apakah ada yang sungguh-sungguh memikirkan kami di dalam sana?
Jawabannya, seringkali, adalah tidak.
Bukan karena mereka membenci rakyat. Bukan karena mereka berniat jahat. Tapi karena mereka al-maghūr, tertipu oleh posisi mereka sendiri hingga lupa untuk apa posisi itu ada.
Al-maghūr tidak lahir dalam ruang hampa. Ia adalah produk dari sebuah ekosistem yang dengan sabar dan konsisten membesarkannya.
Ibn Khaldun dalam Muqaddimah sudah memperingatkan dengan sangat jernih: ketika ‘aṣabiyyah (solidaritas kelompok, loyalitas, kedekatan) mengalahkan kafā’ah (kompetensi dan kapabilitas) sebagai dasar pengangkatan jabatan, maka kehancuran institusi hanya tinggal soal waktu.
Kita hidup di tengah sistem yang seringkali lebih menghargai siapa yang kamu kenal daripada apa yang kamu mampu. Lebih menghormati senioritas tanpa rekam jejak daripada kemampuan tanpa koneksi. Lebih nyaman dengan loyalitas yang tidak bertanya daripada kompetensi yang kritis.
Imam Al-Māwardī dalam Al-Aḥkām al-Sulṭāniyyah menetapkan dengan tegas bahwa salah satu syarat mutlak seorang pemimpin adalah al-kafā’ah, kompetensi yang relevan dan nyata. Bukan niat baik semata. Bukan senioritas semata. Bukan kedekatan semata. Ini bukan idealisme, ini adalah standar minimum yang sudah dirumuskan oleh peradaban Islam seribu tahun yang lalu. Tapi kita, dengan segala kemajuan yang kita banggakan, masih kesulitan menerapkannya.
Dan ada sesuatu yang lebih gelap lagi: al-maghūr, ketika telah mendapat kekuasaan, secara naluriah cenderung merekrut orang-orang yang lebih rendah darinya. Bukan karena ia berencana jahat, tapi karena kehadiran orang yang lebih kompeten terasa seperti ancaman bagi ketenangan batin yang sudah ia bangun. Ghazali menyebut ini bagian dari fasād al-niyyah, kerusakan niat yang tersembunyi bahkan dari pemiliknya sendiri.
Maka sistem ini mereproduksi dirinya sendiri. Al-maghūr melahirkan al-maghūr. Generasi demi generasi. Institusi demi institusi.
Ada ironi yang menyakitkan dalam fenomena ini.
Mereka yang paling fasih berbicara tentang perubahan seringkali adalah mereka yang paling sedikit memahami apa yang perlu diubah. Mereka yang paling lantang menyuarakan kepentingan rakyat seringkali adalah mereka yang paling jauh dari kehidupan rakyat. Mereka yang paling banyak menghadiri forum dan seminar tentang pembangunan seringkali adalah mereka yang paling tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di lapangan.
Lisannya berbunga harum, indah, memikat. Tapi akalnya berdebu dan berkarat. Terbengkalai, tidak terpakai, terlupakan di sudut yang tidak pernah dibersihkan.
Ini bukan hanya tentang kemampuan intelektual. Ini tentang kesadaran diri — tentang kejujuran untuk mengetahui batas kemampuan sendiri. Seorang yang bijak bukan yang tahu segalanya, melainkan yang tahu dengan tepat apa yang ia tidak tahu. Socrates menyebutnya episteme, mengetahui ketidaktahuan diri sendiri sebagai awal dari kebijaksanaan sejati. Ghazali menyebutnya ma’rifat al-nafs – mengenal diri – sebagai pintu pertama menuju kebenaran.
Tapi al-maghūr justru telah kehilangan pintu itu. Jabatan telah menutupnya rapat-rapat. Tepuk tangan telah menguncinya dari dalam. Dan tidak ada yang berani mengetuknya dari luar, karena dalam budaya yang lebih menghormati kursi daripada kebenaran, menyampaikan kritik adalah tindakan yang membutuhkan keberanian yang tidak biasa.
Di akhir semua ini, ada pertanyaan yang harus kita tanyakan dengan jujur: siapa yang paling menanggung beban dari semua ini?
Bukan si al-maghūr. Ia tidur nyenyak di kursinya yang empuk, merasa telah menunaikan tugasnya dengan baik.
Yang menanggung adalah mereka yang tidak punya suara. Mereka yang nasibnya diputuskan dalam rapat-rapat yang tidak pernah benar-benar membicarakan mereka. Mereka yang wakilnya hadir secara fisik tapi absen secara nurani. Mereka yang aspirasinya menguap sebelum sempat menjadi kebijakan.
Rasulullah Saw pernah bersabda dengan sangat tegas:
“Idzā wussida al-amru ilā ghayri ahlihi fantaẓir al-sā’ah”
“Apabila urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran.”
(HR. Bukhari).
Ini bukan kutukan. Ini adalah hukum sebab-akibat yang berlaku dengan sangat konsisten sepanjang sejarah peradaban manusia. Ketika amanah jatuh ke tangan yang salah – bukan karena takdir, tapi karena sistem yang membiarkannya – maka konsekuensinya bukan hanya ditanggung oleh si pemegang amanah. Ia ditanggung oleh semua yang berada di bawah naungan kekuasaannya.





