Grand Syeikh Abdul Halim Mahmud dalam bukunya yang berjudul Sulṭān al-“Ārifīn Abū Yazīd al-Busṭāmī menulis di bagian akhir sub bab buku tersebut Khātimah fī Taqdīr Abī Yazīd (halaman 170-171) tentang sebuah riwayat yang didapat dari Ibnu Athoillah al-Sakandari saat menjelaskan qasidah Waliy Allāh Abī Madyan, bahwa beberapa penguasa biasa berziarah ke makam Abū Yazīd al-Busṭāmī.
Suatu ketika ada seorang penguasa bertanya pada khalayak saat dirinya berziarah, “Apakah ada di antara kalian yang pernah berkumpul dengan Abū Yazīd al-Busṭāmī?”
Salah satu dari khalayak itu menunjuk orang tua yang juga berada dalam kerumunan tersebut, dirinya mengatakan, “Orang tersebut pernah”.
Penguasa itu pun bertanya pada orang tua tersebut, “Apakah Anda pernah mendengar sesuatu dari Abū Yazīd al-Busṭāmī?” Orang tua tersebut menjawab, “Ya, saya pernah mendengar ia berkata:
من زارني لا تحرقه النار
“Barangsiapa menziarahiku maka ia tidak akan terbakar api Neraka.”
Mendengar jawaban itu, sang penguasa merasa janggal lalu bertanya lebih lanjut, “Bagaimana Abū Yazīd al-Busṭāmī dapat berkata itu? Abu Jahal saja yang pernah melihat Nabi saw. namun tetap terbakar api Neraka?”
Jawaban orang tua itu cukup mengesankan, “Abu Jahal itu tidak melihat Nabi saw., tapi ia melihat sosok anak yatim yang diasuh oleh Abu Thalib, seandainya ia melihat sosok Nabi saw., yaitu dengan memuliakan, hormat, yakin bahwa beliau adalah utusan Allah swt., maka ia tidak akan terbakar api Neraka.”
Baca juga:
Jawaban orang tua itu membuat sang penguasa takjub dan langsung mengerti apa yang dimaksud oleh Abū Yazīd al-Busṭāmī tadi.
Grand Syeikh Abdul Halim Mahmud menjelaskan, apa yang dimaksud oleh Abū Yazīd al-Busṭāmī dalam kalām tersebut sangat jelas yaitu bahwa dirinya ingin menyampaikan, “Sesungguhnya orang yang mencermati kehidupanku, mengamalkan apa-apa yang kutelah tulis, mengikuti jalanku, juga senang saat menziarahiku maka ia tidak akan terbakar api Neraka.”
Atau seakan-akan dengan kalām itu, kata Grand Syeikh dalam buku tersebut, Abū Yazīd al-Busṭāmī ingin berkata, “Sesungguhnya orang yang mengikuti Rasulillah saw. akan dipastikan selamat. Sesungguhnya saya telah mengikuti tuanku baginda Rasulilallah saw., dan saya menyeruh pada segenap manusia agar mengikuti beliau agar Allah swt. tetapkan atasnya keselamatan.”
Syeikh Saifuddin Muhammad Najmuddin dalam kitab al-Dalā’il al-‘Ulyā halaman 140 menjelaskan bahwa dari cerita Abū Yazīd al-Busṭāmī di atas dapat dipahami akan kesunnahan mengambil berkah (tabarrukan) pada para kekasih (Awliyā’) saat menziarahi makam-makam mereka. Sebab mereka itu telah berada pada kedudukan ruhaniyah tertinggi karena keutamaan mereka semasa hidup yang senantiasa berpegang teguh pada al-Qur’an dan Hadis baik dalam setiap ucapan maupun perbuatan mereka.
Tidak hanya itu, dalam setiap langkah mereka selalu menyontoh perbuatan Nabi saw. dan bahkan sangat berusaha sekuat tenaga mengikuti sisi kemanusiaan Nabi saw. sekalipun hanya berkaitan dengan hukum mubah.
Sebagaimana juga disampaikan oleh Imam Nawawi dalam al-Adzkār:
ويُسْتَحَبُّ الإكثار من الزيارة، وأن يكثر الوقوف عند قبور أهل الخير والفضل
“Disunnahkan untuk memperbanyak ziarah dan berdiam diri di makamnya seorang yang baik nan mempunyai keutamaan”
Keutamaan menziarahi orang-orang saleh ini dipaparkan secara komprehensif oleh Dār al-Iftā’ Mesir, yaitu bahwa dengan menziarahi orang-orang shaleh akan ada manfaat bagi peziarah dan yang diziarahi.
Dari sisi peziarah, ada sebuah pelajaran yang dapat dipetik, yaitu tentang bagaimana figur shaleh yang diziarahi ini semasa hidup hingga mendapat kedudukan tinggi. Bahkan dengan berziarah, doa akan mudah dikabulkan. Sedangkan manfaat bagi mayat yang diziarahi, ada kesenangan sebab menjawab salam yang disampaikan padanya dan banyak doa dipanjatkan untuknya.






Please login to comment