Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Dari Dakwah Konfrontasi ke Komunikasi

Avatar photo
742
×

Dari Dakwah Konfrontasi ke Komunikasi

Share this article
Dari Dakwah Konfrontasi ke Komunikasi
Dari Dakwah Konfrontasi ke Komunikasi
‎‎Dakwah dengan cara mendebat ajaran lain pernah populer pada masanya. Saat SMA, aku kerap membeli CD debat agama dan menontonnya dengan penuh antusias. Tapi itu era ketika pengetahuan agama masih eksklusif, akses kitab suci terbatas, dan suara lawan mudah ditenggelamkan oleh sorak audiens. Waktu itu, memenangkan debat dianggap kemenangan iman—bukti bahwa agama yang diwakili paling rasional sekaligus paling benar.
‎Di beberapa tempat, model ini masih relevan. Di India, misalnya, debat teologis menjadi respons atas serangan brutal terhadap Islam. Ahmad Deedat di Afrika Selatan juga memakai debat untuk melawan misionaris agresif. Dalam konteks itu, strategi apologetik bisa menjadi pembelaan diri yang penting.
‎Namun, zaman berubah. Kini siapa saja dapat mengakses kitab suci, tafsir, kritik, bahkan ejekan lewat ponsel. Audiens tak lagi pasif; mereka jadi komentator yang kritis, sering kali lebih tajam dari para pendebat itu sendiri. Di ruang digital yang tanpa batas, gaya dakwah konfrontatif justru sering menuai resistensi.
‎Seperti pernyataan Gus Nadirsyah Hosen di postingan terbarunya, apakah strategi dakwah apologetik-konfrontatif masih relevan? Aku kira memang tidak. Ini era komunikasi, bukan konfrontasi. Dalam teori tindakan komunikatif, Habermas mengingatkan bahwa komunikasi sejati bukanlah soal siapa menang, siapa kalah. Dialog hanya mungkin terjadi ketika kedua pihak menghormati otonomi satu sama lain, bukan ketika salah satu pihak memonopoli kebenaran dan menjadikannya alat untuk membungkam.
‎Kebenaran tentang Tuhan mesti tunggal. Tapi bagaimana kebenaran itu disampaikan, tentu menjadi hal lain. Tidak semua kebenaran cocok disampaikan dengan Jidal, sama seperti tidak semua obat menyembuhkan penyakit jika tidak diberikan dengan takaran dan waktu yang tepat.
‎Pun, ketika kita melihat konteks Indonesia. Masyarakat di sini terbiasa dengan harmoni sosial yang diwariskan oleh Walisongo—pendekatan yang menekankan seni, budaya, dan persuasif. Dan faktanya kultur Indonesia kebanyakan lebih suka didekati secara persuasif. Lebih minim gejolak. Memaksakan model debat di ruang publik justru sering memunculkan resistensi, memperkeruh hubungan antarumat beragama, dan merusak citra dakwah itu sendiri.

Kunjungi selengkapnya

Model dakwah yang berfokus pada membantah keyakinan lain juga menyisakan persoalan etis. Di masyarakat yang plural, ruang sosial kita rapuh. Satu pernyataan keras dapat memicu gelombang kebencian. Ketika ajaran agama dijadikan objek untuk dijatuhkan, pihak lain merespons dengan cara yang sama. Yang muncul bukan pemahaman, tetapi dendam. Di titik ini, dakwah justru kehilangan wajah ramahnya.

‎Padahal, seperti yang dicatat Gus Nadir, Rasulullah memberi teladan lain. Ketika delegasi agama lain datang ke Madinah, beliau tidak menyiapkan strategi debat. Beliau menyediakan ruang, mendengar, dan menjawab dengan tenang. Bahkan ketika perbedaan tak terjembatani, tidak ada caci maki, tidak ada sorak kemenangan. Yang ada hanyalah penghormatan terhadap martabat manusia.
‎Bahkan para ulama klasik pun sepertinya jarang menggunakan pendekatan ini. Mereka lebih fokus memperkuat nilai ontologis dari teologi internal Islam sendiri daripada menyerang keyakinan lain.
‎Di era ini, kita membutuhkan pendekatan baru. Bukan dengan logika untuk membungkam, tetapi dengan dialog untuk memahami. Bukan dengan menyerang keyakinan lain, tetapi dengan memperdalam keyakinan diri sendiri hingga manfaatnya dirasakan oleh siapa pun di sekitar. Karena kebenaran yang membawa manfaat selalu lebih didengar daripada kebenaran yang hanya ingin menang. Apalagi sudah hanya ingin menang, tidak bisa menambal perut yang lapar pula. Repot.
‎Kita mungkin tidak bisa lagi membanggakan kemenangan debat. Tapi kita bisa menumbuhkan sesuatu yang lebih penting: kepercayaan. Dan kepercayaan lahir dari ketulusan untuk mendengar, bukan dari keinginan untuk mengalahkan.

Kontributor

  • Mabda Dzikara

    Alumni Universitas Al-Azhar Kairo Mesir dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sekarang aktif menjadi dosen di IIQ Jakarta.