Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Dari Sekularisme ke Deisme

Avatar photo
305
×

Dari Sekularisme ke Deisme

Share this article
Dari Sekularisme ke Deisme
Dari Sekularisme ke Deisme
Melepaskan paham ateisme dari beban sejarahnya, bagi saya, adalah analisis yang buru-buru, jika enggan menyebutnya trivial. Apalagi mengemas suatu paham menjadi sekadar efek psikologis, itu tak lebih daripada kemalasan berpikir. Setiap paham bergerak melalui alur sejarah yang tidak singkat, bergelut dengan berbagai aliran dan pandangan dunia (world-view) yang melingkupi zamannya. Ateisme, sebagai suatu paham, lahir dalam sejarah sebagai anak dari sekularisme, di mana sekularisme sendiri memastikan paham lain yang berkelindan seperti deisme dan agnostisisme.

Sekularisme sendiri adalah suatu paham yang tidak bisa diperas dari pemikir tunggal. Bibit-bibitnya sudah kentara semenjak Yunani Kuno dan Romawi Klasik dengan munculnya pembedaan antara ‘Yang Sakral’ dan ‘Yang Profan’, antara ‘Yang Ilahi’ dan ‘Yang Dunawi’. Melintas ke awal tradisi Kristen, terdapat dualisme kekuasaan antara Gereja vs. Negara-Bangsa. Sampai akhirnya, bibit itu tumbuh lewat tangan William of Ockham dengan gagasan ‘Pisau Cukur Metodologis’. Ockham, sebagaimana sudah disinggung dalam tulisan sebelumnya, menolak universal sebagai realitas objektif, menguatkan voluntarisme Tuhan, dan sekalogus melucuti dunia dari struktur rasional metafisis yang stabil. Alhasil, dunia menjadi wilayah kontingen, dapat diteliti tanpa merujuk pada makna teologis. Di sinilah akhirnya, filsafat (termasuk di dalam sains yang belum dinamai ‘sains’), mengobjek dunia tanpa terbebani pengandaian-pengandaian metafisis. Ockham bukan hanya menyederhanakan ontologi, ia juga mengosongkan dunia dari kepadatan metafisis. Bagi Ockham, setelah Tuhan dimutlakkan dalam terang disiplin teologis, kontingensi alam semesta diserahkan kepada ilmu dunia yang tidak merasa punya beban teologis untuk menjelaskan hakikat melalui pengandaian ‘Yang Ilahi’. Dengan begitu, dunia dipahami sebagai yang kontingen sekaligus profan. Hukum-hukum alam bisa dicari dengan akal budi, tanpa harus mendasarkannya dari wahyu atau ilham orang suci.

Gagasan Ockham tidak sepenuhnya baru. Mazhab nominalisme Ockham telah dikenal dalam Ilmu Kalam. Klaim Ockham sesungguhnya beririsan dengan klaim Ilmu Kalam, yakni soal staus ontologis makna universal (dalam hal ini, Kategori Aristotelian). Ockham menolak paham relisme Skolastik Thomisme yang memandang bahwa universalia itu memiliki status ontologis. Ockham berpandangan bahwa (1) Universal hanyalah nama (nomina); (2) Yang ada hanyalah individu-individu; dan (3) Relasi dan bentuk tidak memiliki keberadaan objektif. Dengan begitu, bagi Ockham, dunia kehilangan struktur internal yang dapat dibaca secara metafisis. Ilmu Kalam, jauh sebelum Ockham, juga berpandangan serupa: Kategori Aksidental Aristotelian, kecuali Tempat (al-Aina), tidak memiliki status ontologisnya dalam realitas eksternal. Mereka hanyalah makna yang dihadirkan untuk kepentingan pemahaman. Namun, kedua tradisi yang serupa ini, nyatanya harus melewati dimensi sejarah yang berbeda. Di Barat, ontologi Ockham menjadi dasar bagi ilmu kealaman (sains dengan berbagai variannya), sementara di Timur, Ilmu Kalam menyiapkan jalan bagi filsafat Iluminasi (Isyraqiyyah) dan Transenden (al-Hikmah al-Muta’aliyah)—(lihat, misalnya: Suhrawardi, Thusi dan Shadra). Maka tidak mengherankan apabila di Barat René Descartes memulai filsafatnya dengan skeptisisme metodologis, di Timur, Mulla Shadra semakin tegak dengan filsafat transendennya.

Setelah melalui satu tahap penting dalam sejarah, ontologi Ockham merambat sebagai dasar penting bagi sekularisme. Tahap sejarah itu adalah Reformasi Protestan abad ke-16, di mana agama dipaksa bergeser ke ruang privat, agama dipindakan ke iman personal, dan negara mengambil alih hukum, pendidikan, dan administrasi. Akhirnya, hal ini memuluskan jalan bagi sekularisme struktural. Di sini, ontologi Ockham dipandang sebagai basis dimulainya ilmu alam sekuler. Bekerjasama dengan basis metodologi ilmiah Roger Bacon, rasionalisme Cartesian, dan matematisme Galileo dan Newton, ontologi Ockham membentuk dunia ilmiah yang kita kenal sampai hari ini. Di sinilah akhirnya sekularisme melahirkan anak baru bernama deisme.
Paham deisme adalah satu tahap menuju agnostisisme dan ateisme. Di abad pencerahan, Tuhan tidaklah dinegasikan. Para ilmuan dan filsuf masih mengakui adanya Tuhan. Namun, peran Tuhan di alam semesta, oleh mereka digeser. Apabila dulunya Tuhan dianggap berperan aktif mengatur alam dan bahkan ikut turun tangan mengurusi manusia, kini Tuhan digambarkan sedang duduk di singgasa menyaksikan hukum alam bekerja dengan sendirinya. Ciri-ciri paham deisme (dari kata ‘deus’, Tuhan) adalah: (1) alam dipahami sebagai mesin matematis, (2) kausalitas mekanis menggantikan teleologi, dan (3) Tuhan direduksi menjadi first cause (Penyebab Pertama) atau clock-maker (Pembuat Jam). Dengan demikian, deisme adalah anak pertama dari sekularisme. Jika Tuhan tidak lagi diperlukan untuk menjelaskan mekanisme bagaimana alam bekerja, maka lama-lama Tuhan dianggap tak penting sama sekali, bahkan bagi terciptanya alam itu sendiri. Farnz Magnis-Suseno dalam bukunya ‘Menalar Tuhan’ berkata:

“Deisme membuka jalan untuk kemudian “mencoret” Tuhan sama sekali. Kalau Tuhan hanya diperlukan pada permulaan dan kemudian dapat dilupakan, maka pada akhirnya Tuhan juga akan dianggap tidak perlu di permulaan. Alam dianggap sebagai kenyataan yang ada, kita tidak tahu kena apa, sudah. Jadi deisme tepat dianggap sebagai langkah pertama ke arah ateisme. Namun ada juga unsurnya yang benar. Tuhan memang jangan dianggap “pengisi lobang”, lobang ketidak-pengetahuan. Di mana untuk apa yang tidak dapat kita jelaskan secara alami, kita mengatakan bahwa itulah tangan Tuhan.”

Dengan demikian, di Barat, suatu paham tidak lahir dari ruangan hampa. Butuh berabad-abad lamanya bagi paham tertentu untuk memantapkan langkahnya. Termasuk dalam hal ini ateisme yang belum lahir, namun sudah dibidani dan dikandung oleh paham deisme. Sejarah inilah yang tidak bisa ditukar dalam konteks peradaban lain. Kita, umat Islam, kadang silau dengan kemajuan sains dan teknologi di dunia Barat, tanpa berusaha menengok “tumbal” yang harus diserahkan. Kita mengakui bahwa sekularisme di Barat mengantarkan kepada kemajuan yang gemilang, namun kita juga tak tahan jika keyakinan personal kita peram sendiri dalam lubuk tanpa terekspresikan. Di Barat, nyatanya, kemajuan ditukar dengan konsekuansi natural berupa deisme. Apakah kita berani meyakini bahwa Tuhan, Allah, pasca menciptakan alam raya, hanya duduk-duduk di singgasana Arys tanpa peduli dengan doa-doa panjang kita? Saya rasa umat Islam tak akan sanggup menghadapi tumbal ideologi semacam ini. Belum lagi soal ateisme yang memuncak setelah di abad ke-18, abad Aufklärung, Immanuel Kant menyediakan jalan kepada agnonstisisme yang merupakan satu langkah lebih maju menuju ateisme.

Lantas, jika umat Islam ingin maju secara sains dan teknologi tanpa mengorbankan tumbal, maka harus dimulai dari mana? Jawaban dari pertanyaan ini membutuhkan abstraksi yang tidak singkat.

Kontributor

  • M.S. Arifin

    M.S. Arifin, lahir di Demak 25 Desember 1991. Seorang penyair, esais, cerpenis, penerjemah, dan penyuka filsafat. Bukunya yang sudah terbit: Sembilan Mimpi Sebelum Masehi (antologi puisi, Basabasi, 2019) dan Mutu Manikam Filsafat Iluminasi (terjemahan karya Suhrawardi, Circa, 2019). Bisa dihubungi lewat: ms.arifin12@gmail.com.