Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Dewasa Dalam Beragama Di Tengah Sibuknya Politik

Avatar photo
604
×

Dewasa Dalam Beragama Di Tengah Sibuknya Politik

Share this article
Dewasa Dalam Beragama Di Tengah Sibuknya Politik
Dewasa Dalam Beragama Di Tengah Sibuknya Politik

Sejarah sering kali terasa jauh, padahal ia adalah cermin. Apa yang terjadi pada masa Umayyah dan Abbasiyah bukan sekadar kisah lama tentang dinasti, konflik, dan aliran, melainkan potret berulang tentang bagaimana agama diuji ketika bersentuhan dengan kekuasaan. Di sana kita melihat bagaimana iman bisa dimuliakan, tetapi juga bagaimana ia bisa diseret menjadi alat pembenaran, pembatas kritik, bahkan senjata politik.

Pada masa Umayyah, kekuasaan membutuhkan stabilitas, dan stabilitas itu dibungkus dengan teologi jabr. Manusia dianggap sekadar menjalani takdir, sementara penguasa berdiri sebagai pelaksana kehendak Tuhan. Bagi rakyat kecil, ini terasa seperti tembok tinggi: ketidakadilan tak bisa dilawan, karena melawannya berarti melawan Tuhan. Reaksi pun bermunculan. Ada yang melawan dengan keras, ada yang menyusun perlawanan ideologis, ada pula yang memilih jalur sunyi: bertahan, mengajar, dan menjaga agama agar tidak sepenuhnya larut dalam permainan politik.

Ketika Abbasiyah berkuasa, harapan sempat tumbuh. Namun sejarah mengajarkan satu hal pahit: kekuasaan jarang benar-benar berubah, ia hanya berpindah tangan. Kelompok yang dulu oposisi kini menjadi penguasa. Rasionalisme yang sebelumnya menjadi alat kritik berubah menjadi ideologi resmi. Agama kembali ditarik ke pusat politik, kali ini dengan wajah yang berbeda. Fanatisme pun berganti kostum, tetapi wataknya tetap sama: merasa paling benar karena dekat dengan kekuasaan.

Di tengah dinamika inilah Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah sering disalahpahami. Mereka tidak lantang berteriak, tidak pula memimpin revolusi. Namun justru di situlah letak kedewasaan sikap mereka. Ahl al-Sunnah memilih menjaga jarak: tidak menghalalkan kezaliman, tetapi juga tidak membakar umat dengan fanatisme. Mereka memahami bahwa agama yang terlalu dekat dengan politik akan kehilangan ruhnya, sementara politik yang disucikan akan sulit dikoreksi.

Sikap ini kemudian menemukan bentuk intelektualnya dalam Asy‘ariyah. Asy‘ariyah bukan mazhab yang lahir di ruang akademik yang steril, tetapi respons terhadap kegaduhan zaman. Ia hadir untuk menenangkan akal yang terlalu angkuh dan menyejukkan teks yang dipahami secara kaku. Dalam praktiknya, Asy‘ariyah mengajarkan satu hal penting: beragama tidak harus ekstrem agar bermakna.

Jika kita tarik ke konteks hari ini, tantangannya terasa sangat akrab. Polarisasi politik, klaim kebenaran atas nama agama, dan fanatisme identitas kembali meramaikan ruang publik. Media sosial mempercepat emosi, memperpendek kesabaran, dan sering kali mengaburkan perbedaan antara iman dan opini politik. Banyak orang merasa sedang membela agama, padahal yang dibela sering kali hanyalah kelompoknya sendiri.

Di sinilah pelajaran Asy‘ariyah menjadi sangat relevan. Pertama, ia mengajarkan pemisahan yang sehat antara agama dan kepentingan politik. Agama hadir sebagai kompas moral, bukan sebagai bendera partai. Ia membimbing hati nurani, bukan mengikat pilihan politik dengan ancaman iman. Sikap ini membuat agama tetap dihormati, bahkan oleh mereka yang berbeda pandangan.

Kedua, Asy‘ariyah membiasakan umat hidup dengan perbedaan. Ikhtilaf tidak dianggap ancaman, melainkan kenyataan yang harus dikelola dengan adab. Dalam politik hari ini, ini berarti menolak logika “kami versus mereka” yang memecah umat menjadi kubu-kubu saling curiga. Perbedaan pilihan tidak otomatis berarti perbedaan iman.

Ketiga, tradisi Ahl al-Sunnah Asy‘ariyah menekankan pentingnya stabilitas sosial tanpa menutup mata terhadap keadilan. Perubahan tidak harus lahir dari kegaduhan, dan kritik tidak harus berbentuk permusuhan. Sejarah menunjukkan bahwa fanatisme sering melahirkan kerusakan baru, bukan perbaikan yang berkelanjutan.

Yang paling penting, Asy‘ariyah mengajarkan kedewasaan beragama. Kekuasaan tidak disucikan, tetapi juga tidak dijadikan musuh abadi. Penguasa dinilai dengan etika, bukan dipuja dengan dalil. Oposisi dihormati sebagai kontrol, bukan dikultuskan sebagai penyelamat. Sikap inilah yang membuat Ahl al-Sunnah mampu bertahan lintas zaman.

Belajar dari Umayyah dan Abbasiyah, kita diajak untuk kembali berfikir: fanatisme ideologi sering kali bukan tanda kecintaan pada agama, melainkan ketakutan kehilangan pengaruh. Jalan Asy‘ariyah mengingatkan bahwa agama tidak membutuhkan teriakan untuk tetap hidup. Ia membutuhkan ketenangan, kebijaksanaan, dan keberanian untuk tidak larut dalam arus kekuasaan.

Di zaman yang sibuk ini, mungkin sikap paling revolusioner justru adalah menjadi waras: beragama dengan akal yang jernih, berpolitik dengan etika, dan menjaga iman agar tidak menjadi alat pertarungan. Itulah warisan Ahl al-Sunnah Asy‘ariyah yang paling manusiawi—dan paling dibutuhkan hari ini.

Kontributor