Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

KH Ubaidullah Shodaqoh: Kramat Sekaligus Jimatnya NU

Avatar photo
1254
×

KH Ubaidullah Shodaqoh: Kramat Sekaligus Jimatnya NU

Share this article
KH Ubaidullah Shodaqoh: Kramat Sekaligus Jimatnya NU
KH Ubaidullah Shodaqoh: Kramat Sekaligus Jimatnya NU

Rentetan kejadian besar kadang-kadang menabrak logika umum. Seringnya, logika kita tidak siap menerima hal baru yang terlalu besar dan rumit. Untuk itu, kita perlu intuisi.

Munculnya KH Ubaidullah Shodaqoh (Mbah Ubed) misalnya, kiai yang viral karena membela pasangan romantis Munif dan Dera, seakan terlihat biasa saja pada awalnya.

Bahkan, Mbah Ubed sendiri mengaku heran mengapa dirinya viral hanya gara-gara membela aktivis lingkungan. Itu dia sampaikan saat menghadiri Haul Gus Dur Sabtu kemarin di Ciganjur.

Kata dia, sudah wajar kiai membela masyarakat. Apa lagi ini masyarakat yang membela masyarakat, membela kelestarian lingkungan, dan membela petani.

Pernyataan itu disampaikan di rumah Gus Dur. Tentu relevan dan tidak ada yang aneh. Karena pemilik rumah itu sendiri adalah sosok kiai yang sudah biasa membela masyarakat, tak mengenal ras, suku dan agama.

Faktanya, kiai macam Mbah Ubed ini sudah langka. Jadi memang wajar saja kalau viral. Tetapi, drama viralnya ini bersamaan dengan dua peristiwa besar: konflik PBNU dan banjir Sumatera.

Di sini saya mulai merasa ada yang tidak wajar.

Karena, konflik di PBNU ini tentang kepercayaan publik dan peran kiai-kiai sepuh yang seakan-akan tidak punya marwah sehebat dulu. Saya bilang “seakan-akan”, karena seruan mereka tidak digubris. Bukan karena mereka tidak hebat.

Kita tahu, ini bukan salah mereka. Tetapi salah kelompok yang tidak mau menggubris seruan itu. Karena, buktinya lebih dari 60 persen orang masih mau patuh kepada para sesepuh.

Dampaknya, seperti ada dua otoritas yang saling tarik-menarik pengaruh. Ini tontonan yang kurang etis, memang, tetapi faktanya begitu adanya. Sulit kita abaikan.

Dalam kondisi seperti ini, masyarakat butuh sosok yang benar-benar punya eksposur publik yang tinggi. Di sini nilai viralitas menjadi penting.

Ada semacam kesepakatan tak tertulis di zaman digital ini: viral berarti penting. Penting, berarti punya makna, entah makna kebaikan atau keburukan.

Viralnya Mbah Ubed ini, penting dan bermakna kebaikan.

Mbah Ubed, yang merupakan lulusan fakultas hukum hubungan internasional ini, tahu betul apa arti hukum dalam sebuah organisasi.

Yang dalam organisasi, hukum itu sama dengan aturan main, di NU, itu bentuknya AD/ART. Mbah Ubed stick to the core, dari babak pertama konflik ini berlangsung hingga sekarang. Berada di barisan yang taat AD/ART.

Ketua Syuriah PWNU Jawa Tengah ini memimpin sidang Musyawarah Kubro di Lirboyo Minggu kemarin. Memimpin sidang, sekaligus membacakan hasil kesepakatan sidang.

Semua sepakat, tanpa ada sanggahan sedikitpun.

Di antara hasil kesepakatan itu, adalah mengembalikan mandat Muktamar Lampung kepada pengurus cabang dan wilayah, bila seruan dalam kesepakatan itu tidak menemukan titik temu.

Masalahnya, ada puluhan pimpinan wilayah dan ratusan cabang. Siapa yang akan berperan sebagai Ketua DPR-nya? Saya ibaratkan pemberi mandat Muktamar ini warga NU, yang diwakilkan ke pengurus PW/PC itu, seperti peran DPR.

Tidak pernah ada istilah PW istimewah begitu, sehingga tidak ada PW tertentu yang secara otomatis menerima mandat Muktamar bila terjadi kebuntuan.

Tapi justru di sini keajaibannya. Seperti ada skenario Tuhan sedang berjalan. NU semacam kembali memunculkan gairah intuisinya, jimatnya muncul di saat yang tepat.

Anda makin paham apa yang ingin saya sampaikan. Saya akan membahas Mbah Ubed. Dia muncul, atau dimunculkan Tuhan lewat peristiwa yang sangat genuine: membela masyarakat kecil.

Pekerjaan yang sebenarnya sudah dia lakoni sejak lama. Kiai satu ini tidak hanya pandai mengaji, tetapi juga piawai memainkan peran sosial-kemanusiaan, sebuah peran yang agaknya mulai dilupakan.

Kalau mau tau peran dia lebih dalam, tanyakan kepada wartawan, aktivis, seniman hingga budayawan di Semarang. Pasti mereka mengenalnya dengan baik. Mbah Ubed punya semacam halaqoh rutinan bersama mereka ini.

Di sini kita tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali menerima peran Mbah Ubed, pasrah pada keputusan Musyawarah Kubro yang ia pimpin kemarin. Yang memang, keputusan itu terasa otentik dan bersih dari kepentingan.

Tidak ada yang bisa membantah keputusan itu. Mau bantah pakai dalil apa?

Nah, Jika ultimatum 3×24 jam itu masih tidak digubris lagi oleh kelompoknya Zulfa Musthofa, dan mandat Muktamar jatuh ke pengurus daerah, maka tidak ada nama lain yang paling layak menjadi pimpinan PW/PC yang paling representatif saat ini kecuali KH Ubaidullah Shodaqoh.

Saya merasa, kemunculan Mbah Ubed ini seperti kramatnya NU, biasanya hanya muncul di saat-saat genting.

Oleh Erik Erfinanto
Jakarta, 22 Desember 2025

Kontributor

  • Erik Erfinanto

    Part-time writer, serious reader, full-time editor. Loving books, movies, history and math. Living in Jakarta now.