Pernahkah kita berhenti sejenak dan merenungkan, siapa sosok di balik kesuksesan para pria hebat yang kita kenal? Entah mereka pemimpin perusahaan, seniman, atau ulama terkemuka. Sejarah mencatat bahwa di balik banyak kesuksesan, selalu ada seorang wanita, seorang istri, yang menjadi tiang penyangga yang kokoh. Robert T. Kiyosaki, penulis “Rich Dad, Poor Dad,” sering kali dengan bangga menyebut nama istrinya, Kim Kiyosaki, sebagai partner sejati yang mendukungnya melalui jatuh bangunnya perjalanan bisnis mereka. Dari Bill Gates hingga Mark Zuckerberg, kisah mereka menjadi bukti bahwa kesuksesan tidak diraih sendirian, melainkan dalam kemitraan yang kuat.
Fenomena ini tidak terbatas pada duniawi. Dalam ranah spiritual, kita juga menemukan pola yang sama. Seorang ulama besar asal Betawi, Syekh Ahmad Nahrawi, yang mendedikasikan hidupnya untuk menyebarkan ilmu kepada masyarakat, mendapatkan dukungan tak terhingga dari istrinya. Istrinya adalah sosok yang memastikan Syekh bisa fokus mengabdi, tanpa harus khawatir soal urusan domestik. Demikian pula dengan gurunda Syekh Muhammad Salim, yang bahkan di usia senja, mampu terus produktif menulis buku dan berkarya berkat dukungan penuh sang istri. Mereka menunjukkan bahwa sebuah pernikahan bisa menjadi ladang ibadah dan inspirasi yang tak terbatas.
Tentu saja, teladan teragung datang dari Sayyidah Khadijah, istri tercinta Rasulullah. Beliau bukan hanya mendampingi, melainkan juga menguatkan Rasulullah saat beliau menerima wahyu pertama, di saat tak seorang pun tahu apa yang harus dilakukan. Kisahnya adalah potret sempurna dari dukungan tanpa syarat. Pola serupa juga terlihat pada kisah Habib Hasan bin Ahmad Baharun, pendiri Pondok Pesantren Darul Lughah wad Dakwah. Istrinya, Hubabah Khadijah al-Hinduwan, menjadi sandaran kuat yang memungkinkan beliau mewujudkan cita-citanya membangun lembaga pendidikan yang kini menjadi mercusuar ilmu. Cerita-cerita ini menegaskan bahwa kesuksesan seorang pria seringkali adalah buah dari kesetiaan dan pengorbanan seorang istri.
Karena, cinta sejati, bukan menuntut kesempurnaan. Akan tetapi saling memperbaiki dan menerima kekurangan.
Dalam kehidupan modern, idealisme ini sering kali tergerus oleh ekspektasi yang keliru. Kita sering melihat fenomena di mana pasangan saling menuntut untuk menjadi sempurna. Seorang suami yang membaca buku tentang Sayyidah Khadijah, tiba-tiba menuntut istrinya untuk memiliki akhlak yang sama. Ia membandingkan, mengkritik, dan tanpa sadar menciptakan jurang kekecewaan. Begitu pula sang istri, setelah membaca kisah Rasulullah, ia menuntut suaminya untuk menjadi kepala keluarga yang sempurna. Hubungan mereka berubah menjadi ajang kritik dan saling tuduh. Cinta yang seharusnya menjadi kekuatan, kini menjadi sumber kekecewaan yang tak ada habisnya.
Padahal, kunci dari sebuah hubungan yang sehat adalah bagaimana kita memandang diri kita, bukan pasangan kita. Alih-alih menuntut, pasangan sebaiknya fokus pada perbaikan diri. Suami membaca dan mendalami buku “Rasulullah Kepala Keluarga yang Teladan,” sementara istri membaca dan menghayati buku “Sayyidah Khadijah Teladan yang Baik Menjadi Istri.” Dengan cara ini, mereka tidak lagi saling menyalahkan, tetapi sibuk membandingkan diri dengan teladan yang sesungguhnya.
Setiap lembar yang mereka baca akan menjadi pengingat betapa jauhnya mereka dari kata sempurna. Suami akan menyadari banyak kekurangannya dan dengan tulus meminta maaf pada istrinya. Begitu pula sang istri. Proses ini tidak akan berhenti, dan justru akan menguatkan ikatan mereka. Mereka akan semakin sering saling meminta maaf, saling menerima, dan saling belajar. Mereka akan menyadari bahwa pernikahan bukanlah tentang menemukan kesempurnaan pada orang lain, melainkan tentang membangun kesempurnaan bersama melalui perbaikan diri.
Kita harus jujur pada diri sendiri bahwa kita takkan pernah menemukan pria yang 100% sebaik Nabi Muhammad, dan kita takkan menemukan wanita yang 100% seperti Sayyidah Khadijah. Maka, seperti pesan Prof. Dr. Manshur Rifa’I secara tersirat, “Jika salah memilih pasangan, maka kamu mempunyai dua pilihan: engkau memilih untuk menyelesaikan rasa sakit (berpisah) atau memilih rasa sakit yang tak pernah selesai.”
Jadi, pilihlah untuk menyelesaikan rasa sakit, dengan berani memulai perubahan dari diri sendiri. Belajarlah untuk menjadi pasangan yang lebih baik, sebelum menuntut pasanganmu menjadi sempurna. Karena sesungguhnya, dukungan terbesar dalam sebuah hubungan datang dari kemauan untuk terus-menerus memperbaiki diri.









Please login to comment