Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

‎Maulid; Cinta Nabi, Daya Bangsa

Avatar photo
770
×

‎Maulid; Cinta Nabi, Daya Bangsa

Share this article
‎Maulid; Cinta Nabi, Daya Bangsa
‎Maulid; Cinta Nabi, Daya Bangsa

‎Hari kelahiran Nabi Muhammad, 12 Rabiul Awal, selalu dirayakan dengan penuh cinta oleh umat Islam. Di Nusantara, peringatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan ruang untuk mempererat silaturahmi, memperkuat iman, dan mengekspresikan kerinduan kepada Rasulullah.

‎Sejarah mencatat, Maulid pertama kali dipelopori oleh Sultan Al-Muzaffar di Irbil, Irak, pada abad ke-6 Hijriah. Ia menggelar perayaan besar: ulama hadir, para sufi berdzikir, dan rakyat makan bersama. Dari sinilah tradisi Maulid menyebar ke seluruh dunia Islam.

‎Para ulama pun memberi pandangan. Ibn Hajar al-Asqalani, ulama besar abad ke-9 Hijriah, menulis dalam Al-Durar al-Kamina:

‎“Pada dasarnya, pelaksanaan Maulid adalah bid’ah yang tidak diriwayatkan dari generasi awal umat Islam, namun perayaan ini mengandung kebaikan dan keburukan. Barang siapa yang mencari kebaikan dalam perayaan ini dan menjauhi keburukan, maka itu menjadi bid’ah hasanah.”

‎Al-Suyuthi, ulama besar abad ke-10 Hijriah, bahkan menegaskan dalam risalahnya Husn al-Maqsid fi Amal al-Mawlid:

‎“Adapun dalam perayaan Maulid di mana makanan disajikan dan kegembiraan ditunjukkan, tidak ada yang salah dalam hal itu, bahkan hal tersebut adalah baik.”

‎Dengan demikian, sejak awal para ulama menempatkan Maulid sebagai ruang cinta—bukan ibadah wajib, tetapi ekspresi kerinduan kepada Nabi Muhammad, selama diisi dengan kebaikan dan jauh dari kemungkaran.

‎Di Nusantara, jejak Maulid mulai tampak sejak abad ke-13 hingga 16, bersamaan dengan tumbuhnya kerajaan-kerajaan Islam. Kesultanan Demak menjadi salah satu pelopornya. Bagi mereka, Maulid bukan sekadar ritual, tapi juga sarana dakwah sekaligus legitimasi politik.

‎Di sinilah catatan seorang sejarawan Prancis, Denys Lombard (1938–1998), menjadi penting. Melalui karya monumentalnya Nusa Jawa: Silang Budaya, Lombard menunjukkan bahwa Maulid di istana Demak dan Cirebon berlangsung dengan kemegahan: gamelan dipukul, wayang dimainkan, rakyat tumpah ruah dalam pesta.

‎Bagi Lombard, Maulid tidak hanya religius, tapi juga sarana politik. Ia menjadi medium para sultan untuk meneguhkan wibawa, merangkul rakyat, dan sekaligus mempertemukan Islam dengan budaya lokal. Lombard melihat Maulid sebagai “ruang simbolik”: ekspresi cinta pada Nabi, namun juga proyek kebudayaan yang membuat Islam menyatu dengan denyut masyarakat Nusantara.

‎Seiring waktu, tradisi Maulid di Nusantara tumbuh dengan wajah yang beragam, namun dengan denyut cinta yang sama. Di Aceh, masyarakat menggelar Khanduri Maulod, pesta rakyat penuh doa dan jamuan. Di Minangkabau, tradisi Baraok mempertemukan warga dalam semangat berbagi. Dari pesisir Jakarta, gema Maulid Kwitang menyatukan ribuan jamaah dalam lantunan shalawat.

‎Di tanah Jawa, perayaan Maulid berpadu dengan budaya lokal: Sekaten dan Grebeg Maulid menampilkan gamelan, gunungan, dan doa rakyat. Di Madura, barzanji bergema dari kampung ke kampung, sementara di Banjarmasin, kitab Simtudduror dilantunkan semalam suntuk. Berlayar ke timur, Bugis-Makassar merayakan Maudu’ Lompoa dengan perahu-perahu hias penuh syukur.

‎Di Lombok, Maulid Adat Bayan mempertemukan Islam dan tradisi leluhur. Bahkan di Papua, dengan sederhana, umat berkumpul dalam shalawat dan hadrah, menyalakan cahaya cinta kepada Nabi. Semua berbeda dalam rupa, namun satu dalam jiwa: kerinduan kepada Rasulullah.

‎Bung Karno, proklamator bangsa, pernah berkata: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya.” Maulid Nabi di Nusantara adalah bagian dari sejarah itu sendiri—sejarah cinta yang diwariskan turun-temurun. Bagi Bung Karno, Islam bukan hanya agama, melainkan tenaga penggerak revolusi. Karena itu, Maulid, dengan segala kemeriahannya, adalah bukti bahwa iman dan kebudayaan bisa berjalan beriringan.

‎Dari alunan gamelan Sekaten di Jawa hingga perahu hias Maudu’ Lompoa di Makassar, semuanya adalah cara bangsa ini merayakan Nabi dengan jiwa merdeka: merdeka untuk mencintai, merdeka untuk mengekspresikan iman.

‎Hari ini, ketika kita berkumpul di masjid, di lapangan, atau di rumah-rumah sederhana, kita sesungguhnya sedang menyambung mata rantai sejarah panjang itu. Dari Irbil ke Demak, dari Aceh sampai Papua—Maulid adalah bukti bahwa cinta kepada Rasulullah tak pernah padam. Ia adalah cahaya yang menembus batas ruang dan waktu, sekaligus pengikat sosial umat.

‎Dan sebagaimana pesan Bung Karno, Maulid mengajarkan kita bahwa cinta kepada Nabi harus diterjemahkan menjadi cinta kepada manusia, cinta kepada tanah air, cinta kepada keadilan. Karena mencintai Rasulullah bukan sekadar mengenang kelahirannya, tapi juga meneladani perjuangannya: membela yang lemah, menegakkan yang benar, dan menghadirkan rahmat bagi semesta.

‎Semoga Maulid Nabi  terus menjadi lentera, menerangi Nusantara, dan menuntun kita menuju cinta yang sejati.

Kontributor

  • Mabda Dzikara

    Alumni Universitas Al-Azhar Kairo Mesir dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sekarang aktif menjadi dosen di IIQ Jakarta.