Kenapa moratorium Gus Dur penting? Pasalnya deforestasi yang tidak terukur terlampau barbar merampas apa yang menjadikan hutan disebut hutan, yaitu pepohonan. Sesederhana itu.
Mari diurai sejenak.
Sebagai sosok pemimpin berjiwa besar, Gus Dur tentu memiliki pandangan yang holistis tentang lingkungan hidup. Bukan hal yang mengejutkan bila pada tahun 2010, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) memberinya gelar penghormatan selaku tokoh pejuang lingkungan hidup.
Beberapa prestasi Gus Dur di bidang ekologi perlu digali dan ditelaah kembali, semata sebagai upaya menyegarkan kembali pemahaman holistis tentang lingkungan hidup melalui pendekatan hifzh al-bi’ah (menjaga lingkungan) sebagai salah satu organ penting dalam membangun peradaban.
Gus Dur paham betul arti penting holisme lingkungan hidup, terekam dalam bermacam kebijakannya menunjukkan aksi dari pemahaman ini. Bila selama ini kita menyandarkan nomenklatur-nomenklatur penting kepada Gus Dur semisal HAM, demokrasi, pluralisme, kajian keagamaan; maka sudah saatnya menegaskan bahwasannya Gus Dur bukan sekadar sosok humanis, beliau juga ulung sebagai ekologis maupun environmentalis.
Gus Dur selalu berkacamata holistis sekaligus futuristis ketika memandang persoalan lingkungan hidup. Pada hutan misalnya, ia memiliki kebijakan berupa moratorium (penangguhan) tebang hutan minimal sepuluh tahun demi kelestarian ekosistem, hal ini diupayakan sembari mewujudkan restorasi-restorasi berkala, serta jeda untuk mengevaluasi ulang regulasi serta kebijakan yang dinilai merusak sumber daya alam. Lebih-lebih bila yang dirusak adalah paru-paru dunia.
Ambil misal selusin hektar hutan di Sumatra. Di sana, boleh dikata jumlah spesies tumbuhan dan hewan yang berbeda lebih banyak daripada yang ada di seluruh daratan Eropa. Sehingga misalkan satu spesies burung punah, resiko rusaknya ekosistem akan lebih kecil daripada, katakanlah, di gurun Mesir, di mana jumlah organismenya tidak seberapa.
Masalahnya deforestasi kita tidak hanya membuat satu spesies burung punah, kita telah jauh lebih barbar dari itu.
Saya meyakini deforestasi dilakukan bukan atas dasar tidak tahu, namun dengan pengetahuan dan kesadaran penuh bahwa itu sangat membahayakan ekosistem tertinggi negara ini. Meskipun hutan tropis di Sumatra dan hampir seluruh hutan Indonesia merupakan salah satu ekosistem tertangguh di dunia, tanpa moratorium yang jelas dan terlaksana dengan baik yang diperbuat terhadapnya hanya akan berdampak semakin mengkhawatirkan di tahun-tahun mendatang. Besar kemungkinan generasi sesudah kita menyesali sesuatu yang tidak pernah mereka perbuat.
Alam ini bisa diibaratkan sapu lidi yang rapat ikatannya, bila beberapa lidinya ditarik otomatis ikatannya akan kendor sehingga lidi-lidi lain turut lepas satu persatu. Demikian pula ekosistem di Sumatra dan lain sebagainya, penebangan hutan tidak hanya berdampak kehilangan pohon sehingga menimbulkan banjir, lebih berbahaya dari itu ia akan memicu bencana-bencana berikutnya. Satu hal yang sangat disadari Gus Dur.
Ketika selusin hektar hutan ditebang, serentak sekian spesies yang hidup di sana kehilangan habitat. Sebagian akan hijrah ke tempat lain, sebagian yang lain memilih mati di tempat. Mereka yang tidak sanggup beradaptasi dengan habitat baru akhirnya mati juga. Jelas banyak hal yang akan terjadi, pasalnya yang rusak tidak hanya ekosistem setempat, tetapi juga ekosistem sebelahnya. Dan sebelahnya. Lalu sebelahnya. Kemudian sebelahnya lagi. Hingga seterusnya.
Semua pohon berfungsi mengatur aliran air hujan, tidak hanya menyerap tetapi juga memperlambat limpasan, membiarkan air meresap ke dalam tanah, sebelum perlahan-lahan membuat jalur ke sungai lalu kemudian ke laut. Ketika pepohonan ditebang, air yang baru menyentuh tanah menjadi tidak terkendali sehingga menyebabkan erosi dan banjir. Tidak hanya itu, air yang sampai ke laut hasil erosi tentu tidak steril seperti semestinya, alhasil ekosistem laut turut tercemar.
Penebangan hutan dalam skala besar dapat menyebabkan dampak lain, yakni perluasan lanskap kering yang tidak produktif atau yang disebut sebagai desertifikasi.
Deforestasi maupun desertifikasi masing-masing membatasi ruang gerak ragam hayati dalam ekosistem yang sebelumnya lestari. Berkurangnya pohon yang tiada henti bersedekah oksigen dan menyerap karbon dioksida, menampakkan ancaman yang disebabkan kemudian, yaitu labilitas iklim.
Karbon dioksida yang tidak terserap mengawang-awang memenuhi lapisan atmosfer sehingga mengakibatkan polusi udara dan menjadikan suhu bumi bertambah panas. Kenyamanan seluruh makhluk hidup, tidak terkecuali manusia, otomatis terganggu. Malangnya itu berlangsung bersamaan ketika kendaraan berikut mesin-mesin industri melepaskan gas rumah kaca dengan membakar bahan bakar fosil. Pukulan ganda inilah yang kemudian mendorong terjadinya pemanasan global, atau perubahan iklim ke arah antah-berantah.
Semua itu berawal dari deforestasi, penggundulan hutan.
Tuhan tidak perlu dibela, demikian salah satu jargon terkenal Gus Dur yang juga menjadi salah satu judul kumpulan esai beliau. Mari sepakat, karena yang amat sangat perlu diberi pembelaan adalah alam lingkungan dari kerusakan-kerusakan oleh sebab tangan manusia sendiri.












Please login to comment