Sudah mafhum bahwa hati kotor tidak akan bisa menangkap sinyal-sinyal atau getaran yang datang dari langit. Salah satu cara agar merasakan itu adalah dengan cara lapar (puasa). Dengan lapar rohani akan semakin aktif. Tetapi ini perlu dicatat, jalan rohani ini harus dilakukan dengan lapar yang disengaja, bukan tidak disengaja.
Semua orang tahu bahwa kata “shiyam” atau “puasa” berasal dari kata “al-imsak”, yang berarti “menahan diri”. Kami menahan diri untuk tetap diam. Makan dan minum adalah salah satu hal yang dihindari selama ibadah puasa ini. Dengan kata lain, kita dengan sengaja mengeluarkan makanan dari perut kita.
Gus Ulil mengatakan bahwa kelaparan terdiri dari dua jenis: yang pertama disebabkan oleh kemiskinan, yang kedua disebabkan oleh pilihan seseorang untuk menempuh jalan rohani. Kemiskinan menyebabkan orang lapar, dan ini harus ditangani.
Rasulullah SAW. bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Na’im:
كَادَ اْلفَقْرُ أَنْ يَكُوْنَ كُفْرًا
Artinya: “Kemiskinan itu dekat kepada kekufuran.”
Ini menunjukkan bahwa lapar karena miskin adalah bahaya. Itu sebabnya, secara politik, kerusuhan sosial dapat terjadi jika banyak orang lapar di suatu negara atau masyarakat.
Kelaparan, kata Gus Ulil, bagaimanapun, kadang-kadang menjadi pilihan. Dengan kata lain, ada orang yang lapar karena mereka memilih lapar sebagai pilihan spiritual. Ketika kita berpuasa, kita sebenarnya melakukannya karena lapar, bukan karena miskin; kita secara sengaja melepaskan diri kita sendiri.
Kenapa lapar disebut sebagai jalan rohani?
Karena lapar seringkali dapat membantu kita menjadi lebih rohani. Seseorang yang tidak memiliki makanan biasanya memiliki kualitas rohani yang lebih baik daripada seseorang yang memiliki makanan.
Artinya, ketika kita lapar, vibrasi spiritual kita lebih kuat dan intens daripada ketika kita kenyang. Karena apa? Karena kenyang seringkali membuat pikiran tidak fokus. Orang yang kenyang tidak akan bisa membaca dan menulis dengan konsentrasi.
Berbeda dengan lapar, kata Gus Ulil, saat kita lapar, jiwa kita lebih sensitif terhadap energi ilahiyah. Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa ketika kita kenyang, hati dan jiwa kita biasanya seperti cermin yang kotor dan tidak dibersihkan dalam waktu yang lama.
Untuk menjadi seorang yang beriman, seseorang harus memiliki jiwa dan rohani yang mampu menerima pengetahuan dan ilham dari Allah SWT. Karena hati seseorang yang beriman seperti diikat dengan tali yang menghubungkannya dengan Allah SWT.
Lalu kenapa mendapatkan ilham?
Gus Ulil menyatakan bahwa ilham adalah sesuatu yang berasal dari Allah SWT. Ilham adalah pengetahuan yang kita pelajari dari pengalaman batin dan rohani kita sendiri, bukan dari buku atau guru. Pengalaman rohani inilah yang akan meningkatkan kualitas seorang mukmin.
Lebih dari itu, iman seorang muslim dapat bersifat sederhana, seperti ucapan syahadat, “Asyhadu allah ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadan Rasulullah”. Gus Ulil menyatakan bahwa iman seperti ini tidak berguna karena tidak mengubah diri. Sederhananya, ia hanya mengucapkan “Lailahaillallah”, tetapi ia tidak merasakan kata “Lailahaillallah”.
Namun, lanjut Gus Ulil, iman yang disertai dengan pengalaman iman adalah iman yang memiliki kemampuan untuk mengubah diri kita. Pengalaman iman ini berasal dari ilham, dan ilham tidak dapat datang jika jiwa dan rohani tidak bersih. Dengan kata lain, kita tidak dapat mendapatkan pengalaman spiritual jika rohani tidak dibersihkan.
Masih tentang syahadat. Anda tahu bahwa rasa yang terkandung dalam syahadat tidak dapat diperoleh tanpa pengalaman rohani. Kenapa begitu? Karena pengalaman rohani berasal dari ilham, dan hati adalah sumber ilham.
Atas dasar ini, tak keliru jika dikatakan bahwa lapar adalah jalan terpenting menuju pengalaman rohami. Minimal kita lakukan setahun sekali dalam waktu satu bulan.
Dengan begitu, kita akan merasakan nikmatnya iman yang tidak sekedar kita kerjakan sebagai tradisi yang kita warisi dari orang-orang tua, melainkan juga sesuatu yang kita alami secara pribadi.
Itulah yang membuat kita bisa menikmati Islam, Iman, Ihsan serta menikmati hidup sebagai sesuatu yang bernilai secara spiritual, bukan hidup yang kita jalani sebagai rutinitas. Disinilah letak dan pentingnya lapar sebagai jalan rohani. Wallahu a’lam bisshawab.






Please login to comment