Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Kunci Sukses adalah Produktif

Avatar photo
278
×

Kunci Sukses adalah Produktif

Share this article
Kunci Sukses adalah Produktif
Kunci Sukses adalah Produktif

Salah satu diantara kunci sukses dan keberhasilan serta kesuksesan individu maupun masyarakat bahkan suatu bangsa adalah produktivitasnya. Bangsa-bangsa yang maju dan individu yang sukses adalah mereka yang produktif.

Islam adalah agama yang mendorong umatnya untuk menjadi pribadi-pribadi yang produktif. Pribadi yang senantiasa “energetic” dan memiliki komitmen tinggi untuk senantiasa berprestasi dan meningkatkan kualitas diri.

Terkait dengan produktivitas, setidaknya di dalam Al-Qur’an ada lima istilah yang mendorong dan memotivasi kita untuk senantiasa menjadi orang-orang yang produktif.

Pertama, amalan, kedua fa’ala, ketiga kasaba, keempat sa’a, dan kelima shana’ah. Dalam banyak ayat Al-Qur’an sering kita menemukan penjelasan bagaimana Allah SWT. memerintahkan kepada umat Islam, kepada hambanya yang muttaqin untuk senantiasa beramal saleh.

Tentu saja, dalam beramal saleh tidak terbatas hanya melaksanakan amalan-amalan yang merupakan ibadah mahdhah, tetapi berarti kerja profesional. Dalam kaitannya dengan produktivitas, kita menemukan di dalam Al-Qur’an surah Al-An’am ayat 135 yang di dalamnya Allah SWT. memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW. agar menganjurkan kepada umatnya untuk senantiasa bekerja.

قُلْ يٰقَوْمِ اعْمَلُوْا عَلٰى مَكَانَتِكُمْ اِنِّيْ عَامِلٌۚ فَسَوْفَ تَعْلَمُوْنَۙ مَنْ تَكُوْنُ لَهٗ عَاقِبَةُ الدَّارِۗ اِنَّهٗ لَا يُفْلِحُ الظّٰلِمُوْنَ ۝١٣٥

Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai kaumku, berbuatlah menurut kedudukanmu, aku pun berbuat (demikian). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan memperoleh tempat (terbaik) di akhirat (nanti). Sesungguhnya orang-orang yang zalim tidak akan beruntung.” (Al-An’am [6]: 135).

Syahdan. Jika kita kaitkan antara produktivitas dengan kualitas dan dengan derajat manusia dalam kehidupannya, kita juga mendapatkan tuntunan Al-Qur’an bahwa betapa manusia itu memiliki harkat dan martabat dalam kehidupannya, baik dalam kaitan dengan profesinya maupun dalam kaitan dengan relasi antar manusia ditentukan oleh produktivitas dan bagaimana mereka bekerja yang profesional.

Allah SWT. berfirman di dalam surah Al-An’am ayat 132:

وَلِكُلٍّ دَرَجٰتٌ مِّمَّا عَمِلُوْاۗ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ ۝١٣٢

Artinya: “Masing-masing orang ada tingkatannya, (sesuai) dengan apa yang mereka kerjakan. Tuhanmu tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am [6]: 132).

Di dalam ayat yang lainnya Allah SWT. juga menegaskan bagaimana kita akan memperoleh sesuatu berdasarkan apa yang kita kerjakan, dan apapun yang kita kerjakan pada akhirnya akan kita nikmati dalam hidup di dunia dan akhirat nanti. Dalam surah An-Najm ayat 39 dan 40:

وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ ۝٣٩ وَاَنَّ سَعْيَهٗ سَوْفَ يُرٰىۖ ۝٤٠

Artinya: “Bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya. Bahwa sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).” (QS. An-Najm [53]: 39-40).

Itu sebabnya, dalam rangka menuju menjadi manusia dan pribadi yang produktif, Al-Qur’an memberikan tuntunan menjadi pribadi-pribadi yang memiliki komitmen dan memiliki kesungguhan untuk meninggalkan perbuatan dan perkataan yang tidak berguna. Di dalam surah Al-Mu’minun ayat 1-3 Allah SWT. berfirman:

قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَۙ ۝١ الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خٰشِعُوْنَ ۝٢ وَالَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُوْنَۙ ۝٣

Artinya: “Sungguh, beruntunglah orang-orang mukmin. (Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya. Orang-orang yang meninggalkan (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 1-3).

Sejalan dengan firman Allah SWT. di dalam surah Al-Mu’minun tersebut, Allah SWT. juga menegaskan di dalam surah Al-Furqan ayat 72 diantara ciri dari hamba Allah yang Maha Pengasih adalah mereka yang senantiasa meninggalkan hal-hal yang tidak berguna.

وَالَّذِيْنَ لَا يَشْهَدُوْنَ الزُّوْرَۙ وَاِذَا مَرُّوْا بِاللَّغْوِ مَرُّوْا كِرَامًا ۝٧٢

Artinya: “Dan, orang-orang yang tidak memberikan kesaksian palsu serta apabila mereka berpapasan dengan (orang-orang) yang berbuat sia-sia, mereka berlalu dengan menjaga kehormatannya.” (QS. Al-Furqan [25]: 72).

Karena itu, jika kita mengikuti berbagai macam teori tentang produktivitas dan pembeda antara masyarakat yang maju dengan masyarakat yang berkembang, sukses dan tertinggal dalam kehidupannya, kuncinya adalah produktivitas.

Sekali lagi, masyarakat yang maju dan berkemajuan adalah mereka yang senantiasa mengisi setiap waktu dengan hal-hal yang bermanfaat dan meningkatkan kualitas diri. Sebab, sesungguhnya kunci untuk sukses adalah peningkatan kualitas diri. Wallahu a’lam bisshawab.

Kontributor

  • Salman Akif Faylasuf

    Sempat nyantri di PP Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo. Sekarang nyantri di PP Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.