Setelah bebarapa hari tinggal di Quba’ dan membangun masjidnya, Nabi Muhammad Saw. melanjutkan perjalanan hijrah ke Madinah. Beliau sampai di Madinah setelah melaksanakan salat jumat terlebih dahulu di Bani Sālim bin ‘Auf, sekitar 3 km dari Madinah. Penduduk Madinah gegap gempita menyambut kedatangan Nabi Muhammad Saw. Mereka berkerumun di jalanan dan di atas atap rumah-rumah.
Uqbah bin ‘Amir tidak ikut menyambut kedatangan Rasul Saw. “Saya menerima berita kedatangan Rasul Saw. saat saya sedang menggembala kambing-kambingku (yang tak seberapa itu),”[1] katanya. Selain itu, tampaknya ia tinggal di pinggiran Madinah. Namun, ia segera meninggalkan kambing-kambingnya itu dan menghadap ke Baginda Rasul Saw. Ia datang bersama dua belas kawannya sesama penggembala.[2] Di pertemuan ini, ia dibaiat oleh Rasul Saw. dengan baiat hijrah, bukan baiat orang-orang desa. Abu Ja’far al Taḥāwiyy mengatakan bahwa mereka yang dibaiat hijrah wajib tinggal di Madinah semasa kanjeng Rasul Saw hidup, begitu juga sesudahnya untuk membantu para khalifah.[3] Hal ini menunjukkan bahwa meski ia tinggal di Madinah, tapi tampaknya berada di pinggiran.
Dia pun tinggal di Madinah bersama Rasulullah Saw., akan tetapi tampaknya ia tetap menjalankan pekerjaannya sebagai penggembala bersama teman-temannya dengan cara bergiliran. Sampai pada suatu saat ia pulang dari gilirannya dan mendapati Rasulullah Saw. sedang berdiri menyampaikan pelajaran tentang wudhu, kata beliau Saw., “Tidak seorang muslim pun yang melakukan wudhu dengan cara yang baik, kemudian ia berdiri menjalankan salat dua rakaat dengan sepenuh hati dan wajah, kecuali ditetapkan surga untuknya.” Ia (Uqbah) pun berkata, “Alangkah indahnya ini ..!” Seseorang menimpali, “(Pelajaran) yang sebelumnya lebih indah lagi!” Orang ini ternyata adalah Umar bin Al Khaṭṭab. Ia lalu menyampaikan pelarajaran yang disebutnya lebih indah itu.[4]
Dalam riwayat yang sangat dhaif disampaikan bahwa usai peristiwa ini, Rasul Saw. kembali mendatangi santri-santrinya. Uqbah bin Amir duduk di depan beliau, akan tetapi beliau memalingkan mukanya. Ia berdiri dan pindah di depannya dan beliau kembali memalingkan muka. Pada kali yang ke empat, ia mengatakan, “Wahai Nabi Allah, ayah dan ibuku menjadi tebusan bagi dirimu, mengapa engkau selalu memalingkan muka dariku? Beliau mengatakan, “Mana yang kamu lebih sukai, satu atau (bersama) dua belas?”[5]
Tampaknya, persistiwa inilah yang menjadikan Uqbah benar-benar meninggalkan pekerjaannya sebagai penggembala dan secara permanen menetap bersama Rasulullah Saw. di Suffah. Dalam berabagai rujukan ia dikenal sebagai salah satu ahlu al suffah. Wallāhu a’lam.
Uqbah bercerita, “Rasul keluar (dari rumah) kepada kami, saat kami berada di suffah. Beliau lalu berkata, “Siapa di antara kamu sekalian yang senang untuk berangkat pagi-pagi ke Buṭḥān atau ke al ‘Aqīq (dua pasar unta), lalu setiap hari ia membawa pulang dua unta yang besar punuknya dengan cara yang tak berdosa dan tanpa memutus rahim?” Kami menjawab, “Kami semua menyukai itu ..” Rasul Saw. lalu menimpali, “Jika begitu, apa tidak sebaiknya ada di antara kamu sekalian yang pagi-pagi pergi ke masjid, lalu belajar atau membaca dua ayat dari Kitab Allah ‘azza wa jalla. (Ini) lebih baik bagi dia daripada dua unta; tiga (ayat) lebih baik daripada tiga (unta), dan empat (ayat) lebih baik daripada empat (unta), dan begitu seterusnya.”[6]
Rasul Saw. seperti ingin memberi semangat terutama kepada pelajar di Suffah, bahwa jika kamu sekalian sekarang ini tidak memiliki harta karena sibuk belajar dan membaca Al Quran maka sesungguhnya itu jauh lebih baik. Wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad Saw. membutuhkan para penerus kerasulan yang siap berjuang untuk memahami dan menyebarkannya.
Pada penghujung tahun 6 Hijriyah, Kanjeng Nabi mengirim surat ke Muqauqis, pemimpin Mesir, untuk mengabarkan kenabian yang diembannya. Muqauqis tidak menyampaikan keimanan, akan tetapi ia menjawab surat itu dengan simpatik. Ia juga memberi hadiah kepada Rasul bagal (baġlah) berwarna kelabu (syahbā’) yang diberi nama “duldul.” Menurut berbagai sumber, Uqbah merupakan santri yang mendapatkan tugas mengurus bagal ini.
Pada suatu malam Rasul Saw. menaiki kendaraan (sebagian riwayat menyebut unta, sebagian lain menyebut bagal, dan sebagian lainnya lagi menyebut kendaraan) dan Uqbah menuntunnya. Di tengah jalan, Baginda Rasul turun dari kendaraan dan memerintahkan Uqbah untuk menaikinya. Tentu saja, Uqbah tak berani menaikinya sampai ada perintah yang ketiga kalinya. Uqbah tak lagi berani membantah. “Saya takut itu menjadi maksiat,” kata Uqbah. Ia pun naik kendaraan sesaat, lalu turun.
Kanjeng Rasul Saw. kembali naik kendaraan, kemudian berkata, “Maukah kamu saya ajari dua surat di antara dua surat terbaik yang dibaca oleh manusia?” Beliau lalu membacakan dua surah, “Qul a’ūżu bi rabb al-falaq” dan “Qul a’ūżu birabb an-nās.” Rasulullah Saw. melihat Uqbah tampak kurang bahagia. (Uqbah tampaknya ingin mendapatkan beberapa surat atau ayat lagi dari Rasulullah Saw. yang lebih panjang dari dua surat pendek itu). Karena itu, saat subuh tiba Rasulullah Saw. turun dari kendaraan dan salat subuh dengan membaca dua surat tersebut. Setelah salat, beliau berpaling kepada Uqbah dan berkata, “Wahai Uqbah, apa (sekarang) pendapatmu? Bacalah dua surat itu saat hendak tidur dan saat bangun dari tidur.”[7]
Pada kesempatan lain, ia menghadap kepada Baginda Rasul saat ada dua orang yang sedang berperkara. Kanjeng Nabi dawuh kepadanya, “Putusilah persoalan di antara keduanya!” Uqbah matur kepada beliau, “Ayah dan ibuku sebagai tebusan dirimu wahai Rasulullah, engkau lebih berhak.” Rasulullah Saw. mengulangi perintarnya, “Putusilah pesoalan di antar keduanya!” Uqbah lalu meminta bimbingan, “Dengan dasar apa wahai Rasulullah?” Rasul Saw. pun menjawab, “Berijtihadlah! Jika engkau benar maka engkau mendapat sepuluh kebaikan, dan jika engkau salah maka engkau mendapat satu kebaikan.”[8]
Peristiwa ini tampaknya agak belakangan, saat Uqbah sudah memiliki tempat tinggal sendiri dan tidak lagi tinggal di suffah. Ia mungkin sudah berkeluarga atau telah mampu membangun rumahnya sendiri. Namun, tampaknya ia secara rutin tetap pergi ke masjid. Dalam riwayat di atas, Uqbah menyampaikan bahwa ia sowan atau ngaji kepada Nabi, seperti sebuah isyarat bahwa ia tak lagi tinggal di suffah. Pondasi ilmu, mentalitas dan spiritualitas yang diserap dari Rasul Saw. juga pastinya sudah cukup untuk melangkah menapaki jalur kepemimpinan sehingga Rasul Saw. memberi kepercayaan untuk menjadi juru putus.







Please login to comment