Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Puasa Media Sosial: Refleksi Qur’ani dari Kisah Sayyidah Maryam

Avatar photo
388
×

Puasa Media Sosial: Refleksi Qur’ani dari Kisah Sayyidah Maryam

Share this article
Puasa Media Sosial: Refleksi Qur'ani dari Kisah Sayyidah Maryam
Puasa Media Sosial: Refleksi Qur'ani dari Kisah Sayyidah Maryam

Puasa Ramadan dapat menjadi ajang latihan bagi kita untuk mengontrol dan mengendalikan diri. Terutama di media sosial, yang dewasa ini seseorang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berinteraksi, berbicara, dan berkomunikasi dengan satu sama lain.

Sebagaimana dijelaskan dalam surah Maryam ayat 26, Allah menggunakan redaksi ‘shaum’ untuk memberitakan puasanya Sayyidah Maryam, seorang perempuan suci yang dari rahimnya lahir Nabi Isa dalam konteks untuk menahan diri untuk tidak berbicara.

فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

Maka makan, minum dan bersenanghatilah engkau. Jika engkau melihat seseorang, maka katakanlah, “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini”. (QS. Maryam [19]: 26)

Puasa Sayyidah Maryam

Ayat di atas sejatinya mengandung pesan esoteris dari makna puasa. Sayyidah Maryam ketika menghadapi situasi sosial yang sangat berat. Masyarakat Bani Israil menuduhnya melakukan perzinaan karena membawa bayi tanpa memiliki suami, padahal ia dikenal sebagai perempuan suci dari keluarga baik-baik.

Sayyidah Maryam diperintahkan untuk diam dan mengisyaratkan kepada mereka bahwa, “Aku telah berjanji kepada Allah Yang Maha Kasih untuk melakukan shaum.” apabila mendengar seseorang bertanya perihal bayinya.

Prof Qurasih Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, bahwa bentuk shaum serupa dengan mengheningkan cipta, tidak berbicara. Kemudian, dalam konteks ini Allah bermaksud membungkam semua yang meragukan kesucian Sayyidah Maryam melalui ucapan bayi yang dilahirkan.

Dalam kondisi emosional masyarakat yang penuh tuduhan dan penghakiman, klarifikasi verbal dari Sayyidah Maryam tidak akan berguna. Mereka tidak akan percaya pada pembelaan dirinya. Oleh karena itu, Allah memerintahkannya diam agar bukti nyata (mukjizat) yang menjawabnya.

Menahan Diri, Menjaga Lisan

Kita dapat mengambil refleksi qurani, bahwa esensi puasa (menahan diri) memiliki spektrum yang luas, diantaranya menjaga lisan. Yakni menahan diri dari ucapan yang tidak perlu, perdebatan yang tidak produktif, atau klarifikasi yang sia-sia di hadapan orang yang enggan menerima kebenaran.

Istilah puasa tersebut, jika dikorelasikan dengan ajaran puasa yang terdapat dalam risalah Rasulullah, bahwa puasa dapat menjadi tameng seseorang dan menghindarkan dirinya dari perilaku ataupun perkataan buruk.

Sebagaimana dalam hadis dikatakan, dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda: “Puasa adalah perisai maka janganlah berkata kotor dan jangan pula bertindak bodoh. Jika seseorang hendak menyerang atau mencacimu maka jawablah, “sesungguhnya aku sedang puasa”. Bahwa orang yang berpuasa disunahkan untuk menahan diri dari ucapan-ucapan yang buruk, baik dari lisan ataupun ketikan jari tangan.

Kontrol Diri dalam Bermedia Sosial

Jika dihubungkan dengan konteks dewasa ini, puasa Sayyidah Maryam juga dapat dijadikan sebagai instrumen untuk bermedia sosial dengan bijak. Kita bisa berusaha menghindari informasi dan pembicaraan yang sia-sia. Kita tidak ikut terlibat untuk menggaungkan ujaran kebencian, ataupun perbuatan kurang baik lainnya.

Misalnya, jika kita membaca kolom komentar di media sosial yang bernuansa hate speech; maka kita berlatih tidak mudah terprovokasi untuk membalasnya. Sama halnya, jika kita terbiasa mengirim ulang atau membagikan berita-berita yang membicarkan orang lain (gosip), atau dalam hal ini belum terbukti kebenarannya, dan lain sebagainya dari akun-akun kontroversial, maka di bulan suci ini kita harus berusaha untuk menghindarinya.

Semua ini juga berdasarkan pada pesan Rasulullah: “Lima hal yang menjadikan puasa batal (pahalanya), yaitu: berbohong; menggunjing; mengadu domba, melihat dengan syahwat dan sumpah palsu.” Hadis ini mengajarkan kita agar menjauhi perilaku-periaku tersebut, karena khawatir  puasa kita sia-sia, yang seharusnya ibadah kita persembahkan untuk Allah dan mendapat jaminan balasan dariNya, namun karena tindakan buruk itu, kita hanya merasakan lemas, lapar, dan dahaga saja. Wallahu a’lam bi ash-shawwab.

Kontributor