Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Khutbah Jumat

Spiritualitas yang Menggerakkan: Aktualisasi Disiplin Ramadan untuk Mengejar Ketertinggalan Umat

Avatar photo
819
×

Spiritualitas yang Menggerakkan: Aktualisasi Disiplin Ramadan untuk Mengejar Ketertinggalan Umat

Share this article
KHUTBAH IDUL FITRI SPIRITUALITAS YANG MENGGERAKKAN: AKTUALISASI DISIPLIN RAMADAN UNTUK MENGEJAR KETERTINGGALAN UMAT 1 SYAWAL 1447 H
KHUTBAH IDUL FITRI SPIRITUALITAS YANG MENGGERAKKAN: AKTUALISASI DISIPLIN RAMADAN UNTUK MENGEJAR KETERTINGGALAN UMAT 1 SYAWAL 1447 H

KHUTBAH PERTAMA

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينُ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وأَعَزَ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إِلَهَ إِلَّا الله واللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بَلَغَنَا رَمَضَانَ وَأَكْرَمَنَا بِالصِّيَامِ وَالْقِيَامِ، وَجَعَلَهُ شَهْرَ التَّرْبِيَةِ وَالمُجَاهَدَةِ وَالرَّحْمَةِ. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى مَا أَفَاضَ عَلَيْنَا مِنْ فُضُولِهِ، وَنَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَرْسَلَهُ اللَّهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. هَا هُوَ شَهْرُ رَمَضَانَ يُشْرِفُ عَلَى نِهَايَتِهِ، وَهَا هِيَ نَفَحَاتُ العِيدِ تَلُوحُ فِي الْأُفُقِ. فَطُوبَى لِمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، وَسَعَى فِيهِ لِتَرْسِيخِ الِانْضِبَاطِ وَتَقْوِيَةِ العَزِيمَةِ. فَإِنَّ العِيدَ حَقِيقَةً لَيْسَ فِي لُبْسِ الثَّيَابِ الجَدِيدَةِ، وَإِنَّمَا فِي تَجْدِيدِ الهِمَّةِ، وَإِتْقَانِ العَمَلِ، وَالسَّعْيِ لِنَهْضَةِ الأُمَّةِ وَرِفْعَتِهَا.

نَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى أَنْ يَجْعَلَ عِيدَنَا عِيدًا مَبَارَكًا وَيَتَقَبَّلَ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَأَنْ يَجْعَلَنَا مِنَ الْعَائِدِينَ الْفَائِزِينَ قَالَ تَعَالَى : وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكْبَرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ وَ قَالَ تَعَالَى: ﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ وَاجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الفَوْزِ وَالقَبُولِ وَاغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَالِجَمِيعِ المُسْلِمِينَ وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

Jamaah Salat Idul Fitri yang dimuliakan Allah Swt!

Pagi ini kita berkumpul dalam suasana bahagia. Tapi mari kita ingat satu hal yang nyata: Lebaran bukanlah garis akhir. Lebaran bukan waktunya kita pensiun berbuat baik, membuang kedisiplinan, dan kembali pada kebiasaan lama yang melalaikan. Justru, Idul Fitri adalah cermin untuk menilai diri kita. Apakah puasa sebulan kemarin berhasil mengubah karakter kita menjadi lebih baik, membuat kita lebih rajin bekerja, dan punya tujuan hidup yang lebih terarah? Atau justru sebaliknya.

Kadang kala kita terbawa suasana, merasa bahwa puasa adalah alasan yang wajar untuk bersantai dan mengurangi pekerjaan. Padahal, kalau kita membuka kembali lembaran sejarah Islam, Ramadan justru tercatat sebagai bulan yang penuh pergerakan, bulan semangat menuntut ilmu, dan bulan perjuangan nyata.

Wahyu pertama (Iqra) turun di bulan Ramadan, menandai dimulainya peradaban ilmu pengetahuan dan rasionalitas Islam yang mendobrak kejahiliyahan. Perang Badar yang sangat menentukan eksistensi umat Islam saat itu terjadi di bulan Ramadan, membuktikan bahwa kondisi fisik yang berpuasa tidak menjadi penghalang untuk meraih kemenangan gemilang. Begitu pula dengan peristiwa Fathu Makkah, sebuah pencapaian strategi politik dan diplomasi tingkat tinggi yang dilakukan Rasulullah, terjadi di bulan suci ini.

Tidak berhenti di era kenabian, lembaran sejarah kebesaran umat terus berlanjut. Pada bulan Ramadan tahun 92 Hijriah, Panglima Thariq bin Ziyad memimpin pembebasan Andalusia , menancapkan tonggak fondasi peradaban sains dan pendidikan Islam yang menerangi Benua Eropa. Bahkan kemerdekaan bangsa kita sendiri, diproklamasikan tepat pada hari Jumat, 9 Ramadan 1364 Hijriah. Para pendiri bangsa kita mendobrak belenggu penjajahan justru di saat mereka sedang menahan lapar dan dahaga puasa. Semua fakta historis yang tak terbantahkan ini menegaskan satu hal: Spirit Ramadan adalah spirit perjuangan habis-habisan, bukan pembenaran untuk kemalasan!”

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

Hadirin sekalian!

Hari ini, bentuk perjuangan umat Islam tidak lagi berada di medan perang fisik atau hunusan pedang. Medan kompetisi kita hari ini jauh lebih kompleks. Ia berada di laboratorium sains, di bursa ekonomi, di ruang-ruang kelas perguruan tinggi, di meja perumusan kebijakan teknologi, dan di dalam ruang keluarga kita masing-masing.

Realitas hari ini menuntut kita untuk jujur: umat Islam secara global masih memiliki banyak ketertinggalan dibandingkan bangsa-bangsa lain di bidang ekonomi, penguasaan teknologi, dan literasi pendidikan. Kita tidak boleh menutup mata terhadap fakta ini. Allah SWT berfirman dengan sangat tegas dalam Al-Qur’an:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi…” (QS. Al-Anfal: 60)

Kekuatan (quwwah) dalam ayat ini tidak terbatas pada kekuatan militer semata. Para ulama kontemporer sepakat bahwa penguasaan ekonomi, kemandirian pangan, ketahanan keluarga, dan kualitas sumber daya manusia adalah bentuk quwwah yang wajib dipersiapkan umat hari ini.

Bahkan, Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin telah menegaskan bahwa menguasai ilmu-ilmu duniawi yang menopang hajat hidup masyarakat—seperti ilmu kedokteran, matematika, ekonomi, dan industri—hukumnya adalah Fardhu Kifayah. Artinya, seluruh umat Islam di suatu wilayah akan berdosa jika tidak ada dari kalangan mereka yang ahli dan mandiri di bidang-bidang tersebut, sehingga umat ini terus-menerus bergantung dan menjadi konsumen bagi produk bangsa lain.

Bahkan, Syekh Ibnu Taymiyyah mengatakan: “Sesungguhnya pekerjaan-pekerjaan yang berstatus fardu kifayah ini, apabila tidak ada yang bisa melakukannya kecuali orang tertentu saja, maka statusnya berubah menjadi fardu ain (wajib secara individu) atas dirinya, jika orang lain tidak mampu melakukannya. Oleh karena itu, jika masyarakat sedang sangat membutuhkan keahlian bertani, menenun (membuat pakaian), atau membangun (konstruksi) dari sekelompok orang, maka pekerjaan tersebut menjadi wajib.

Prinsip yang ditekankan oleh Ibnu Taimiyah tersebut berlaku mutlak di abad modern ini. Jika di masa lalu ketahanan umat diukur dari keahlian bertani dan menenun, maka hari ini hajat hidup umat Islam sangat bergantung pada penguasaan teknologi dan sains terapan. Mencetak pakar kecerdasan buatan, ahli keamanan siber, insinyur energi terbarukan, peneliti medis, hingga praktisi ekonomi digital adalah fardu kifayah zaman sekarang. Jika kita gagal melahirkan tenaga ahli di sektor-sektor strategis ini—sehingga memaksa bangsa kita terus-menerus tunduk dan bergantung pada teknologi buatan bangsa lain—maka secara kolektif umat ini sedang menanggung dosa atas kelemahan dan ketertinggalannya sendiri.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

Hadirin sekalian!

Bagaimana kita mengejar ketertinggalan tersebut? Jawabannya ada pada prinsip kausalitas yang Allah tetapkan dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11,

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”

Perubahan besar bagi kemajuan umat ini tidak akan pernah turun dari langit secara instan melalui doa yang tidak dibarengi dengan keringat dan ikhtiar yang cerdas. Mari kita resapi ketegasan Amirul Mukminin, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.

Suatu hari, Khalifah Umar mendapati sekelompok orang yang hanya duduk berdiam diri di sudut masjid pada jam kerja. Ketika ditanya, mereka berdalih sedang bertawakal menanti rezeki dari Allah. Mendengar jawaban itu, Umar marah, mengusir mereka agar keluar bekerja, dan melontarkan sebuah teguran yang keras juga rasional:

لَا يَقْعُدُ أَحَدُكُمْ عَنْ طَلَبِ الرِّزْقِ يَقُولُ: اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي، فَقَدْ عَلِمْتُمْ أَنَّ السَّمَاءَ لَا تُمْطِرُ ذَهَبًا وَلَا فِضَّةً

“Janganlah salah seorang dari kalian hanya duduk berpangku tangan enggan mencari rezeki lalu berdoa, ‘Ya Allah, berilah aku rezeki.’ Padahal kalian tahu persis bahwa langit tidak pernah meneteskan hujan emas dan perak!”

Sikap Umar ini adalah pukulan telak bagi mentalitas umat yang pasif. Kejayaan agama, kemajuan ekonomi, dan kemapanan pendidikan bangsa kita tidak bisa diraih hanya dengan menadahkan tangan. Kehormatan umat ini terletak pada kemandiriannya, dan kemandirian itu harus direbut dengan kerja keras di semua lini kehidupan.

Oleh karena itu, kebangkitan umat harus didesain dan diupayakan dari medan juang yang paling mendasar, yaitu dari unit terkecil di masyarakat: individu dan keluarga. Jangan pernah merasa bahwa rutinitas keseharian kita tidak ada kaitannya dengan kejayaan Islam. Di sinilah letak patriotisme kita hari ini. Tidak ada peran yang tidak berarti. Setiap dari kita memiliki porsi perjuangan masing-masing:

Bagi seorang Ibu dan Ayah: Keluarga adalah garis pertahanan pertama umat. Mendidik anak agar memiliki adab, mental baja, kedisiplinan tinggi, dan semangat literasi adalah perjuangan Anda. Memastikan nafkah yang halal masuk ke rumah adalah kurikulum nyata bagi kesuksesan anak. Allah berpesan tegas:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6).

“Neraka” di dunia ini bukan sekadar ancaman siksa di akhirat kelak, tetapi juga wujud nyata dari “neraka” kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan. Sebuah kondisi yang menyiksa di mana generasi kita kalah bersaing, menjadi beban masyarakat, terpinggirkan secara ekonomi, dan hidupnya terus dikendalikan oleh bangsa lain. Membekali anak-anak kita dengan pendidikan yang kuat, kemandirian, dan mental pantang menyerah adalah ikhtiar paling rasional untuk menyelamatkan mereka dari jurang keterpurukan tersebut.

Bagi Mahasiswa, Pelajar, dan Anak: Medan tempur kalian hari ini bukan lagi mengangkat senjata, melainkan mengangkat pena dan menundukkan kemalasan diri sendiri. Duduk tekun membaca buku, merampungkan studi tepat waktu, dan menguasai sains serta teknologi adalah wujud nyata bela negara dan bela agama. Ingatlah, bangsa dan umat yang bodoh akan selamanya menjadi budak dan konsumen bagi peradaban bangsa lain. Maka, berprestasialah dan berbaktilah kepada orang tua, karena dedikasi kalian di bangku sekolah adalah kontribusi paling konkret untuk memutus rantai penjajahan intelektual dan ekonomi yang menimpa umat hari ini.

Bagi Dosen dan Guru: Ruang kelas, sekolah, dan kampus adalah benteng pertahanan ideologi bangsa. Perjuangan Anda sama sekali bukan sekadar menggugurkan kewajiban administratif atau rutinitas mencari gaji, melainkan memahat karakter dan merakit masa depan negara. Lahirkanlah pemikir yang kritis, ilmuwan yang berani bersaing di tingkat global, dan generasi muda yang berintegritas. Di tangan Andalah nasib muruah agama dan martabat bangsa ini dipertaruhkan; apakah ke depan kita hanya akan menjadi bangsa kuli, atau bangkit menjadi bangsa pemimpin.

Bagi Pegawai, Pekerja, Pedagang, dan Aparatur Negara: Meja kerja, pasar, dan kantor pemerintahan adalah ladang amal dan medan pembuktian iman kalian sesungguhnya. Kedisiplinan waktu, kejujuran dalam berniaga, pelayanan publik yang maksimal, dan keberanian menolak korupsi sekecil apa pun adalah bentuk jihad konstitusional yang paling mulia hari ini. Sebuah negara tidak akan hancur semata-mata karena musuh dari luar, melainkan akan runtuh karena rapuhnya moral dan mental korup para aparat serta pekerjanya dari dalam. Bekerja profesional dan menjaga kebersihan harta adalah cara terbaik kita menjaga kehormatan Islam sekaligus menyelamatkan masa depan ibu pertiwi.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

Hadirin sekalian!

Agama ini sangat membenci pengangguran, kelemahan, dan etos kerja yang buruk. Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah memberikan teguran keras. Beliau berkata: “Sungguh, aku melihat seorang laki-laki dan fisiknya mengagumkanku. Namun ketika ditanyakan kepadaku: ‘Apakah dia memiliki pekerjaan/keterampilan?’ lalu dijawab ‘Tidak’, maka jatuhlah kehormatan orang itu dari pandanganku.”

Islam menuntut umatnya untuk mandiri dan bekerja keras. Mari kita merujuk pada prinsip fundamental yang diajarkan Rasulullah Saw. Dalam hadis sahih riwayat Imam Bukhari, beliau menegaskan keutamaan orang yang bekerja dengan keringatnya sendiri:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ، كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

‘Tidak ada seorang pun yang memakan makanan yang lebih baik daripada memakan hasil dari kerja tangannya sendiri. Dan sungguh Nabi Allah Dawud ‘alaihissalam selalu makan dari hasil kerja tangannya sendiri.’ (HR. Bukhari).

Hadirin, pesan hadis ini sangat jelas dan meruntuhkan mentalitas pemalas. Nabi Dawud bukan sekadar utusan Allah; beliau adalah seorang raja dan pemimpin negara dengan kekuasaan yang luas. Namun, sejarah mencatat beliau tidak gengsi bekerja fisik dan memiliki keahlian sebagai pandai besi (pembuat baju zirah) untuk menghidupi dirinya sendiri.

Jika seorang nabi sekaligus raja saja pantang berpangku tangan dan menolak menjadi beban bagi orang lain, sungguh ironis jika hari ini ada di antara umat Islam yang malas berinovasi, enggan menuntut ilmu profesi, dan membiarkan dirinya terus-menerus bergantung pada produksi bangsa lain. Kemandirian ekonomi dan penguasaan teknologi adalah kunci kehormatan umat saat ini.

Hadirin sekalian!

Sebagai penutup khutbah ini, mari kita ubah paradigma kita. Kemenangan Idul Fitri bukanlah sekadar perayaan kembali makan dan minum. Kemenangan sejati adalah ketika kedisiplinan, ketangguhan mental, dan pengendalian diri yang kita tempa selama sebulan penuh di bulan Ramadan, berhasil kita transformasikan menjadi etos kerja nyata di ruang kuliah, di laboratorium, di meja kantor, dan di sektor publik.

Peradaban umat ini tidak akan bangkit hanya dengan bernostalgia pada kejayaan masa lalu. Kebangkitan itu harus direbut kembali dengan kerja keras yang rasional. Umat ini baru akan sungguh-sungguh merdeka ketika generasi mudanya menguasai sains dan teknologi, ketika para pakarnya mandiri secara ekonomi, dan ketika para profesionalnya memiliki integritas yang tidak bisa dibeli.

Mari kita buktikan bahwa muruah Islam tidak hanya hidup di dalam masjid, tetapi juga memimpin di garis depan kemajuan peradaban. Jangan sampai kita menjadi umat yang rajin beribadah secara ritual, namun rela menjadi penonton dan konsumen di negeri sendiri. Bangkitlah, rebut kembali kemandirian kita, dan jadikan ilmu serta profesionalitas sebagai bentuk ibadah tertinggi kita hari ini!”

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هُذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِوَالِدِي وَلِوَالِدَيْكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. فَاسْتَغْفِرُوه إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

KHUTBAH KEDUA

أللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ

اَلْحَمْدُ ِللّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ

فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَأًصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ. وَعَلَيْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِماَتِ وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ يَا قَاضِيَ اْلحَاجَاتِ. رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِاْلحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ اْلفَاتِحِيْنَ اَللهُمَّ إِنَّا نَسْـأَلُكَ اِيْمَانًا دَائِمًا، وَنَسْأَلُكَ قَلْبًا خَاشِعًا، وَنَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَنَسْأَلُكَ يَقِيْنًا صَادِقًا، وَنَسْأَلُكَ عَمَلاً صَالِحًا، وَنَسْأَلُكَ دِيْنًاقَيِّمًا، وَنَسْأَلُكَ خَيْرًا كَثِيْرًا، وَنَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ وَنَسْأَلُكَ تَمَامَ الْعَافِيَةِ، وَنَسْأَلُكَ الشُّكْرَ عَلَى الْعَافِيَةِ، وَنَسْأَلُكَ الْغِنَاءَ عَنِ النّاس اَللّٰهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتَخُشُّعَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا يَا اَللهُ يَااَللهُ يَااَللهُ يَااَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

Ya Allah, Tuhan Yang Maha Kuat dan Maha Menggenggam Takdir, Di hari kemenangan ini, kami bersimpuh memohon ampunan-Mu atas segala kemalasan, kelalaian, dan waktu yang terbuang sia-sia dari hidup kami. Ampunilah kami jika selama ini kami salah dalam memahami agama-Mu, menjadikan ibadah sebagai pelarian dari tanggung jawab duniawi.

Ya Allah, anugerahkanlah kepada umat ini kekuatan untuk bangkit. Tanamkanlah etos kerja yang kuat, kedisiplinan yang kokoh, dan semangat untuk terus belajar ke dalam dada-dada kami dan generasi penerus kami. Jauhkanlah kami dari mental peminta-minta, kemiskinan, dan kebodohan yang dapat meruntuhkan keimanan.

Jadikanlah keluarga kami madrasah terbaik yang melahirkan generasi cerdas, mandiri, dan bermartabat, agar umat ini tidak lagi tertinggal, diremehkan, atau bergantung pada bangsa lain. Berkahkanlah tangan para ayah yang bekerja keras mencari nafkah, dan berkahkanlah kesabaran para ibu yang mendidik tunas-tunas peradaban ini.

رَبَّنَا أَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهىَ عَنِ اْلفَحْشَاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

جَعَلَناَ الله ُوَإِياَّكُمْ مِنَ العاَئِدِيْنَ وَالفَآئِزِيْنَ وَأَدْخَلَناَ وَاِيَّاكُمْ فِيْ زُمْرَةِ عِباَدِهِ المُتَّقِيْنَ والشّاكِرِيْنَ و اَلْحَمْدُ ِللّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

 

 

 

 

 

 

Kontributor

  • Mabda Dzikara

    Alumni Universitas Al-Azhar Kairo Mesir dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sekarang aktif menjadi dosen di IIQ Jakarta.