Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Khutbah Jumat

Khutbah Jumat: Puasa dan Al-Quran, Dua Sahabat Penolong di Akhirat

Avatar photo
294
×

Khutbah Jumat: Puasa dan Al-Quran, Dua Sahabat Penolong di Akhirat

Share this article
Allah siapkan Ramadan ini sebagai "sekolah" untuk melatih hati kita agar tidak dikuasai oleh keinginan duniawi dan hawa nafsu.
Allah siapkan Ramadan ini sebagai "sekolah" untuk melatih hati kita agar tidak dikuasai oleh keinginan duniawi dan hawa nafsu.

KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَ شَهْرَ رَمَضَانَ سَيِّدَ الشُّهُوْرِ، وَأَنْزَلَ فِيْهِ الْقُرْآنَ نُوْرًا وَهُدًى لِلصُّدُوْرِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ النُّشُوْرِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

Hadirin Sidang Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Takwa dalam artian menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, di mana pun dan kapan pun kita berada.

Hadirin yang berbahagia, Segala puji bagi Allah yang kembali mempertemukan kita dengan bulan suci Ramadan. Bulan ini bukan sekadar pergantian kalender biasa. Bulan ini istimewa karena di dalamnya terkumpul dua ibadah besar: menahan nafsu melalui Puasa dan menerangi hati melalui Al-Qur’an.

Seringkali, kita menganggap puasa itu cuma soal menahan lapar dan haus dari subuh sampai magrib. Sering juga kita membaca Al-Qur’an hanya kejar setoran, ingin cepat tamat (khatam), tapi lupa merenungkan artinya. Padahal, Allah siapkan Ramadan ini sebagai “sekolah” untuk melatih hati kita agar tidak dikuasai oleh keinginan duniawi dan hawa nafsu.

Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 185, bahwa Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk.

…هُدًۭى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَـٰتٍۢ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ ۚ…

Artinya, saat perut kita lapar karena puasa, hati kita harus kenyang dengan petunjuk Al-Qur’an.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Nabi Muhammad SAW memberikan kabar gembira bagi kita. Bahwa Puasa dan Al-Qur’an itu bagaikan dua sahabat yang akan membela kita nanti di hari kiamat. akan melahirkan apa yang disebut sebagai syafaat ganda (pembelaan) di hari kiamat kelak. Dalam sebuah riwayat sahih dari Imam Ahmad, Rasulullah bersabda:

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُولُ الصِّيَامُ: أَيْ رَبِّ، مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ، وَيَقُولُ الْقُرْآنُ: مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ، قَالَ: فَيُشَفَّعَانِ

“Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat (pertolongan) kepada seorang hamba pada Hari Kiamat. Puasa akan berkata: ‘Wahai Tuhanku, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkan aku menolongnya.’ Dan Al-Qur’an akan berkata: ‘Wahai Tuhanku, aku telah menahannya dari tidur di malam hari (karena membacaku), maka izinkan aku menolongnya.’ Maka keduanya pun diizinkan memberikan pertolongan.”

Makna dari hadis ini sangatlah indah. Di siang hari, puasa menundukkan hawa nafsu dan menekan kesombongan kita. Perut yang kosong menyadarkan bahwa kita ini manusia yang lemah. Lalu di malam harinya, saat tubuh kita ingin tidur dan istirahat, kita isi jiwa kita dengan ketenangan dari membaca Al-Qur’an. Perpaduan inilah yang merubah kita dari hamba yang diperbudak nafsu, menjadi hamba yang taat.

Sidang Jumat yang dirahmati Allah,

Kalau kita melihat sejarah Nabi Muhammad dan para sahabat, puasa dan membaca Al-Qur’an sama sekali tidak membuat mereka malas atau lari dari urusan duniawi. Justru, ibadah di bulan ini membuat mereka semakin peduli pada orang lain.

Setiap malam di bulan Ramadan, Malaikat Jibril mendatangi Nabi Muhammad untuk menyimak dan mempelajari Al-Qur’an bersama. Apa hasilnya? Hadis Ibnu Abbas merekam dampaknya secara nyata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ… فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

“Rasulullah adalah manusia yang paling dermawan, dan kedermawanannya mencapai puncaknya pada bulan Ramadan ketika Jibril menemuinya… Sungguh, Rasulullah lebih dermawan dalam memberikan kebaikan daripada angin yang berhembus.” (HR. Bukhari).

Ibarat angin yang berhembus, menyejukkan semua orang tanpa pilih kasih, menyentuh siapa saja. Seperti itulah seharusnya efek ajaran Al-Qur’an di bulan Ramadan. Dekatnya kita dengan ayat Tuhan di malam hari, harusnya membuahkan aksi nyata di siang hari: yaitu lebih dermawan, suka berbagi, dan membela kaum yang lemah.

Sejatinya, puasa adalah cara Allah menyuruh kita “mencicipi kemiskinan”. Ini adalah program wajib agar kita bisa merasakan langsung pedihnya perut kosong yang sering dirasakan orang miskin. Sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu bahkan mendidik dirinya dengan keras: beliau tidak mau berbuka puasa kecuali duduk makan bersama kaum miskin. Ini bukti nyata bahwa puasa mengajarkan kita berbagi, bukan sekadar ibadah untuk pamer kesalehan sendiri. Kisah ini  dicatat oleh Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Latha’if al-Ma’arif

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ لَا يُفْطِرُ إِلَّا مَعَ الْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ، وَرُبَّمَا عَلِمَ أَنَّ أَهْلَهُ قَدْ رَدُّوهُمْ عَنْهُ فَلَمْ يُفْطِرْ فِي تِلْكَ اللَّيْلَةِ

“Dan adalah Ibnu Umar tidak berbuka puasa kecuali bersama anak-anak yatim dan orang-orang miskin. Dan terkadang beliau mengetahui bahwa keluarganya telah menolak (menyuruh pulang) mereka darinya, maka beliau pun menolak untuk berbuka puasa pada malam itu.”

Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Mari kita renungkan sejenak rutinitas keseharian kita hari ini. Kita hidup di zaman yang serba cepat dan luar biasa bising. Coba kita jujur pada diri sendiri; sering kali bangun tidur yang dicari pertama kali bukan air wudu atau sajadah, melainkan handphone.

Kita terlalu sibuk menatap layar. Mata kita dijejali oleh ribuan informasi, berita-berita viral yang memancing amarah, hingga tontonan di media sosial yang isinya sering kali hanya pameran kesuksesan dan kekayaan orang lain. Tanpa sadar, semua kebisingan digital itu membuat pikiran kita lelah. Dada kita tiba-tiba terasa sesak, kita menjadi mudah cemas, gelisah, kurang tidur, dan selalu merasa hidup ini penuh kekurangan karena terus membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Raga kita memang ada di rumah, tapi pikiran kita dijajah oleh urusan dunia yang tidak ada habisnya.

Oleh karena itu, hadirin sekalian… Allah Yang Maha Tahu akan kelemahan hamba-Nya, menghadirkan bulan Ramadan ini ibarat sebuah “Ruang Perawatan” atau tempat istirahat (jeda) bagi jiwa-jiwa kita yang kelelahan itu.

Ramadan menuntut kita untuk berani melakukan “Puasa Digital” atau membersihkan pikiran dari hal-hal yang tidak berguna. Waktu yang biasanya habis berjam-jam untuk scroll media sosial yang membuat hati cemas, mari kita ganti dengan memegang mushaf Al-Qur’an.

Hadirin yang mulia!

Ketahuilah bahwa membaca Al-Qur’an di bulan suci ini bukan sekadar urusan membunyikan huruf-huruf Arab atau mengejar target tamat bacaan semata. Lebih dalam dari itu, Al-Qur’an diturunkan sebagai Syifa—obat penenang paling mujarab bagi hati yang sedang berdarah dan pikiran yang sedang ruwet.

Ketika hidup terasa menghimpit, ekonomi terasa sulit, dan masalah datang silih berganti, Al-Qur’an hadir merangkul kita. Setiap ayat yang kita baca dan kita renungkan maknanya, ibarat sapaan langsung dari Allah yang sedang menenangkan hamba-Nya. Ia menyuntikkan harapan baru, menyadarkan kita bahwa dunia ini hanya sementara, dan memberikan kita ketenangan batin yang luar biasa kokoh dalam menghadapi kerasnya badai kehidupan.

Mungkin ada di antara kita yang bertanya: ” Jika ekonomi sedang sulit, beras mahal, cari uang susah, kenapa kita malah disuruh sibuk baca Al-Qur’an? Bukankah kita harusnya bekerja keras mencari nafkah?”

Ya, benar. Karena itulah Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk lari dari tanggung jawab. Kalau anak istri di rumah kelaparan, lalu kita hanya duduk di masjid membaca Al-Qur’an dan menolak bekerja, itu justru keliru dan berdosa. Bekerja mencari nafkah yang halal itu hukumnya wajib.

Sayyidina Umar bin Khattab pernah mengusir sekelompok pemuda yang hanya duduk berzikir di masjid dari pagi sampai sore dengan alasan bertawakal. Umar berkata: “Keluarlah kalian mencari rezeki! Kalian tahu persis bahwa langit tidak pernah menurunkan hujan emas dan perak!”

Hadirin sekalian!

Bekerja banting tulang mencari nafkah itu adalah ikhtiar raga kita. Sedangkan membaca Al-Qur’an adalah ikhtiar jiwa kita. Di tengah himpitan ekonomi yang serba susah, tekanan batin kita sangat tinggi. Kalau kita hanya mengandalkan fisik untuk bekerja tapi jiwa kita kosong, kita akan mudah stres, gampang putus asa, cepat emosi, atau bahkan gelap mata menghalalkan segala cara—seperti berutang pada rentenir, menipu, atau korupsi.

Di sinilah peran penting Al-Qur’an. Tadarus di malam hari bukan untuk menggantikan kewajiban kita bekerja mencari uang di siang hari. Justru, Al-Qur’an memberikan kita kewarasan, ketenangan, dan kesabaran. Rezeki itu Allah yang atur, tugas kita adalah berikhtiar dengan raga yang keras bekerja menjemput rezeki, dan jiwa yang tenang bersandar pada ayat-ayat-Nya.

Hadirin sekalian!

Keberhasilan ibadah puasa kita kelak tidak hanya dinilai dari seberapa kuat perut kita menahan lapar, atau seberapa cepat bibir kita menamatkan Al-Qur’an. Keberhasilan sejati itu bernama takwa, dan bukti nyatanya baru terlihat setelah Ramadan usai: seberapa santun lisan kita berbicara, seberapa jujur kita dalam mencari rezeki, dan seberapa peduli kita pada tetangga yang kesusahan.

Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk membumikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam denyut nadi kehidupan nyata kita, menjadikan kita hamba yang tangguh secara ekonomi dan kokoh secara spiritual.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ ِللّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ

 فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ   قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَأًصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ. وَعَلَيْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِماَتِ وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ يَا قَاضِيَ اْلحَاجَاتِ. رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِاْلحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ اْلفَاتِحِيْنَ

 اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا دَائِمًا، وَنَسْأَلُكَ قَلْبًا خَاشِعًا، وَنَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَنَسْأَلُكَ يَقِيْنَا صَادِقًا، وَنَسْأَلُكَ عَمَلًا صَالِحًا، وَنَسْأَلُكَ دِينًا قيمًا، وَنَسْأَلُكَ خَيْرًا كَثِيرًا، وَنَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ، وَنَسْأَلُكَ تَمَامَ الْعَافِيَةِ، وَنَسْأَلُكَ الشُّكْرَ عَلَى الْعَافِيَةِ، وَنَسْأَلُكَ الْغِنَاءَ عَنِ النَّاسِ،
اللَّهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلَاتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتَخْشُعَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَعَبُدَنَا وَتَمَمْ تَقْصِيرَنَا يَا اللهُ يَا اللهُ يَا اللَّهُ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرٍ خَلْقِهِ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ

Kontributor

  • Mabda Dzikara

    Alumni Universitas Al-Azhar Kairo Mesir dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sekarang aktif menjadi dosen di IIQ Jakarta.