Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Ketika Tuduhan Lama pada Al-Qur’an Muncul Lagi di Zaman Kini

Avatar photo
506
×

Ketika Tuduhan Lama pada Al-Qur’an Muncul Lagi di Zaman Kini

Share this article
Yuval menilai selama berabad-abad jutaan manusia bertahan dengan apa yang ia sebut sebagai ‘berita palsu’, hal-hal gaib seperti hari kebangkitan dan alam kubur, karena tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.
Yuval menilai selama berabad-abad jutaan manusia bertahan dengan apa yang ia sebut sebagai ‘berita palsu’, hal-hal gaib seperti hari kebangkitan dan alam kubur, karena tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.

Di Israel, ada seorang ilmuan ternama bernama Yuval Noah Harari. Ia adalah seorang peneliti, cendekiawan, dan profesor. Pemikiran serta gagasannya dituangkan dalam buku-bukunya yang kini telah tersebar ke berbagai penjuru dunia. Tak heran bila banyak orang tertarik membaca karyanya, termasuk saya. Argumentasi dan cara berpikirnya yang sangat logis membuat para pembaca seringkali ‘menganggukkan kepala’ saat membaca, sebagai tanda bahwa mereka sependapat dengan gagasannya.

Buku Yuval pertama kali saya baca berjudul 21 Pelajaran untuk Abad ke-21. Buku ini merupakan refleksi atas dua karya sebelumnya yaitu Sapiens dan Homo Deus. Meskipun saya belum membaca dua buku itu, saya mengetahui isinya dari sinopsis yang saya baca serta penjelasan teman saya yang sudah menamatkannya.

Dari hasil bacaan saya terhadap buku itu, secara garis besar saya menyimpulkan bahwa Yuval adalah pribadi yang memiliki kepedulian besar terhadap kemaslahatan manusia. Hal ini terlihat dari gagasan-gagasannya yang selalu mengedepankan kebaikan bagi umat manusia. Dalam bukunya 21 Pelajaran untuk Abad ke-21, ia menyoroti berbagai tantangan yang akan dihadapi oleh umat manusia di abad ke-21, seperti potensi kerusakan tatanan sosial akibat perkembangan teknologi, hadirnya kecerdasan buatan yang dapat menggantikan sebagian besar pekerjaan manusia, krisis ekologis yang dipicu oleh keserakahan manusia, dan berbagai persoalan lainnya.

“Revolusi teknologi boleh jadi akan segera mendorong milyaran manusia keluar dari pasar tenaga kerja dan menciptakan satu kelas baru yakni “kelas orang-orang tak berguna” dalam jumlah yang luar biasa besar, yang kemudian akan memicu pergolakan sosial dan politik. (21 Pelajaran untuk Abad ke-21, hlm 18) 

Untuk menghadapi disrupsi teknologi dan ekonomi abad ke-21, kita perlu mengambangkan model sosial dan ekonomi baru secepat mungkin. Model-model ini harus berpedoman pada prinsip melindungi manusia, bukan pekerjaan. Kita harus memusatkan perhatian pada pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan status sosial, dan harga diri manusia. (hlm 39)”

Dalam pandangan saya setelah membaca buku tersebut, gagasan-gagasan Yuval Noah Harari merupakan salah satu yang terbaik untuk kita pelajari dan renungkan. Meskipun ia berasal dari Israel, yang sering dipandang sebagai musuh umat Muslim, kita tidak seharusnya langsung menolak ide-idenya. Bagaimanapun juga, ia tidak menginginkan manusia lalai akibat perkembangan teknologi, tidak menginginkan krisis ekologis semakin parah karena keserakahan manusia, dan tak ingin manusia diperdaya oleh kecerdasan buatan.

Yuval juga menegaskan bahwa mencuri, memerkosa, dan membunuh adalah perbuatan yang salah, dan hal itu bahkan merupakan prinsip dasar kaum sekuler. Artinya, segala tindakan yang berpotensi merusak tatanan sosial, lingkungan, dan keharmonisan, tidak memerlukan legitimasi agama untuk dinilai buruk. Dengan naluri yang sehat dan akal yang jernih, manusia akan mampu menolaknya. Prinsip-prinsip seperti ini tidak sepatutnya kita abaikan, apalagi ditolak. Nilai-nilai semacam ini justru sejalan dengan ajaran Islam.

Namun, dalam persoalan agama, Yuval bukan ahlinya. Terlebih lagi ia adalah seseorang yang belum mempercayai keberadaan Tuhan. Saya cukup terkejut ketika membaca penjelasannya tentang Tuhan dalam bukunya. Yuval bukan hanya belum percaya, tetapi juga mengklaim seluruh kitab suci hanyalah hasil karya leluhur manusia, bukan wahyu dari dari Tuhan.

“Sebenarnya, kita tidak punya bukti bahwa kitab suci disusun oleh suatu kekuatan yang menentukan bahwa energi sama dengan massa dikalikan kecepatan cahaya kuadrat, dan bahwa proton bermassa 1.837 kali massa elektron. Berdasarkan pengetahuan ilmiah terbaik yang kita miliki, semua teks suci itu ditulis oleh Homo Sapiens yang imajinatif. Semua itu hanyalah cerita yang diciptakan oleh leluhur kita untuk melegitimasi norma sosial dan struktur politik. (hlm 202)”

Kita sama sekali tidak memiliki bukti ilmiah bahwa Hawa digoda oleh ular, bahwa jiwa orang kafir dibakar di neraka sesudah mereka mati, atau bahwa pencipta alam semesta tak suka ketika orang dari kasta Brahmana menikah dengan orang dari kasta Dalit, tetapi miliaran orang telah mempercayai semua itu selama ribuan tahun. Beberapa berita palsu bertahan selamanya. (hlm 240)

Fenomena Pengingkaran terhadap Al-Qur’an

Umat Islam meyakini bahwa al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Saw. Bahkan, mengimaninya termasuk rukun iman yang ke tiga. Mengingkarinya dihukumi kafir. Namun, orang-orang diluar Islam yang mengingkari al-Qur’an sebenarnya tidak perlu kita permasalahkan, dan Anda pun tidak perlu terkejut sebagaimana saya ketika membaca buku Yuval. Fenomena semacam ini telah terjadi sejak empat belas abad yang lalu. Dalam beberapa ayat al-Qur’an, kaum musyrik kerap menuduh Nabi sebagai penyair, penyihir, seseorang yang suka mengada-ngada, karena beliau membawa al-Qur’an sebagai kalam Allah.

Dalam QS. al-Anbiya ayat 5 Allah Swt. berfirman:

بَلْ قَالُواْ أَضْغَاثُ أَحْلاَمٍ بَلِ افْتَرَاهُ بَلْ هُوَ شَاعِرٌ فَلْيَأْتِنَا بِآيَةٍ كَمَا أُرْسِلَ الأَوَّلُونَ

Bahkan, mereka berkata, “(al-Qur’an itu buah) mimpi-mimpi kosong. Malah, dia (Nabi Muhammad) merekayasanya. Lebih dari itu, dia seorang penyair. Maka, hendaknya dia mendatangkan kepada kami suatu tanda (mukjizat) sebagai rasul-rasul yang diutus terdahulu.

Orang-orang musyrik tidak membenarkan hikmah yang terkandung dalam al-Qur’an, tidak pula meyakini bahwa al-Qur’an itu berasal dari Allah Swt. Mereka tidak mengakui bahwa ia adalah wahyu yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad. Bahkan sebagai mereka mengatakan: “Itu hanyalah khayalan mimpi yang Muhammad lihat ketika tidur.” Sebagian lainnya mengatakan: “Itu adalah kebohongan dan rekayasa yang Muhammad buat-buat sendiri.” Dan sebagian lagi mengatakan: “Muhammad itu seorang penyair, dan apa yang ia bawa kepada kita hanya syair.” Mereka menentang Nabi: “kalau begitu, biarlah Muhammad mendatangkan kepada kami tanda atau bukti jika ia memang benar.” (Tafsir al-Thabari, jilid 12, 225)

Ibnu ‘Asyur juga memberikan komentarnya terhadap ayat di atas. Menurut beliau, yang diingkari oleh kaum musyrik bukan hanya al-Qur’an, tetapi juga hari kebangkitan. Beliau menyatakan:

“قَالُوا أَضْغَاثُ أَحْلامٍ” أَرَادُوْا أَنَّ مَا يُخْبِرُكُمْ بِهِ مِنْ أَنَّهُ أُوْحِيَ إِليْهِ وَمِنْ أَخْبَارِ الْبَعْثِ وَالْحِسَابِ وَيَوْمِ الْقِيَامَةْ هُوَ أَحْلَامٌ يَرَاهَا.

“Maksud orang-orang musyrik adalah apa yang Muhammad kabarkan kepada kalian, bahwa wahyu telah turun kepadanya, serta tentang hari kebangkitan, perhitungan dan hari kiamat, semuanya hanyalah mimpi-mimpi yang ia lihat. (al-Tahrir wa al-Tanwir, jilid 17, 13)

Lalu bagaimana tanggapan al-Qur’an terhadap fenomena ini? Dalam ayat lain, Allah menantang balik orang-orang yang mengingkari kebenaran al-Qur’an. Sejak awal, tuduhan mereka tidak beralasan, karena itu Allah memerintahkan Nabi untuk menantang mereka:

“Kalau demikian tuduhan kalian terhadap al-Qur’an, maka datangkanlah sepuluh surat semisal. Ajaklah siapapun di antara kalian yang mampu merangkai kata dan menyusunnya menjadi kalimat seperti al-Qur’an. Jika kamu mengaku bahwa dirimu adalah orang-orang yang benar dan mampu, buktikanlah kebenaran ucapanmu itu. Sekalipun seluruh pujangga dan sastrawan dikerahkan untuk menyusun semisal al-Qur’an, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya, karena al-Qur’an bukanlah buatan manusia.” (Lihat: al-Baqarah: 23; Yunus: 38; al-Isra’: 88: al-Tur:34)

Beberapa Berita Palsu Bertahan Selamanya?

Umat Islam meyakini adanya hari kebangkitan, hari kiamat, alam kubur, dan seluruh perkara gaib yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw. Keyakinan ini dipegang teguh, bahkan terhadap hal-hal yang diluar nalar atau tidak terbukti secara ilmiah sekalipun. Jika Yuval mengatakan kalau sudah berabad-abad miliaran manusia telah bertahan dengan ‘berita palsu’, menurut saya hal itu hanya perbedaan sudut pandang. Yuval menginginkan segalanya harus dibuktikan secara ilmiah, sementara dalam ajaran Islam memang tidak segalanya bisa diilmiahkan.

Michael H. Hart, pengarang buku 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia, menempatkan Nabi Muhammad Saw. di peringkat pertama. Ia menghabiskan 28 tahun untuk meneliti dan menyusun bukunya tersebut. Ketika mempresentasikan hasil penelitiannya di London, ia dicemooh, diejek, dan diinterupsi. Para hadirin mempertanyakan alasannya menempatkan Muhammad sebagai tokoh paling berpengaruh dalam sejarah. Michael H. Hart kemudian menjawab:

“Muhammad berdiri sendirian di Mekah pada tahun 611 dan menyampaikan kepada seluruh penduduk saat itu, “Aku adalah Nabi dan utusan Allah”. Hanya empat orang yang mempercayainya: sahabatnya, istrinya, dan dua orang anak kecil. Namun lihatlah Sekarang. Setelah lebih dari 1.400 tahun, pengikut dia, umat muslim, telah mencapai lebih dari satu miliar orang dan akan terus bertambah. Jelas Muhammad bukanlah pembohong, karena kebohongan tidak akan mampu bertahan setelah lebih dari 1.400 tahun. Dan Anda tidak akan pernah mampu membohongi satu miliar manusia. Renungkanlah: setelah semua yang terjadi sepanjang sejarah, ratusan juta umat muslim tidak pernah ragu untuk mengorbankan jiwa dan raga mereka ketika ada yang mencoba menodai nama baik Nabi mereka yang tercinta.” 

Setelah mendengar penjelasan Michael H. Hart, suasana auditorium seketika hening dan mencekam. Tidak ada satupun yang mampu membantahnya. 

Michael H. Hart bukan orang muslim, melainkan seorang astrofisikawan Yahudi-Amerika. Sama-sama bukan muslim seperti Yuval, tetapi keduanya punya pandangan yang berbeda mengenai agama Islam dan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Bagi Yuval, selama berabad-abad jutaan manusia telah bertahan dengan apa yang ia sebut sebagai ‘berita palsu’, hal-hal gaib seperti hari kebangkitan dan alam kubur, karena tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Namun bagi Michael H. Hart, justru keteguhan keyakinan jutaan orang terhadap Nabi Muhammad selama lebih dari empat belas abad merupakan bukti yang sangat kuat dan rasional. Menurutnya, mustahil kebohongan dapat bertahan selama itu dan diikuti oleh begitu banyak manusia yang siap mempertaruhkan jiwa dan raganya. Dengan kata lain, Rasulullah jelas bukan pembuat khayalan apalagi pembohong.

Alhasil, Yuval Noah Harari tetaplah seorang peneliti, cendekiawan, dan profesor dengan gagasan-gagasan cemerlang mengenai kemaslahatan umat manusia di abad ke-21. Pemikirannya layak dipelajari dan direnungkan. Namun, saran dari saya, sebelum membaca karya-karya Yuval, kuatkan terlebih dahulu kualitas iman kita sebagai orang muslim dengan mempelajari karya ulama. Sebab, meskipun argumentasi Yuval logis dan didukung kerangka ilmiah yang kuat, pembahasannya tentang agama dan Tuhan bisa saja mempengaruhi umat muslim yang imannya masih lemah atau belum kokoh.

Kontributor

  • Ahmad Darwis

    Ahmad Darwis, berasal dari Pulau Kalimantan, Pontianak, saat ini nyantri di Ma’had Aly Situbondo