Scroll untuk baca artikel
SanadMedia
Pendaftaran Kampus Sanad
Kisah

Perang Bani Mushthaliq: Perang bersejarah yang terjadi pada bulan Sya’ban

Avatar photo
38
×

Perang Bani Mushthaliq: Perang bersejarah yang terjadi pada bulan Sya’ban

Share this article

Sebagaimana jamak diketahui, perjalanan dakwah Rasulullah dalam menyebarkan risalah yang diterima olehnya tidak segampang membalikkan tangan, banyak rintangan yang harus dihadapinya, selain dari keluarga dan koleganya, juga banyak dari masyarakat semenanjung Arab yang tidak menyukai, bahkan perkataan sumpah serapah hingga permusuhan mereka sampaikan kepada Rasulullah.

Banyaknya ujian dan rintangan tak membuat Rasulullah pasrah hingga meninggalkan ajaran dan amanahnya, ia terus berdakwah sekali pun pada akhirnya harus berujung pada peperangan. Perang pada masa Rasulullah merepresentasikan salah satu dari sekian fase dakwah Islam pada masa itu, dan bukan merupakan ketentuan hukum yang mendasari konsep jihad dalam Islam. Oleh karenanya, fase perang pada masa itu hanyalah bersifat defensif (bertahan/membela diri), bukan untuk menyerang.

Di antara jumlah peperangan yang terjadi dalam Islam pada masa Rasulullah saw adalah Perang Bani Mushthaliq. Perang ini menurut mayoritas ulama ahli sejarah terjadi pada bulan Sya’ban tahun 5 hijriah.

Sebab Terjadinya Perang Bani Mushthaliq

Pada mulanya, hubungan antara umat Islam dengan orang-orang kafir Madinah sangat ramah dan tidak ada sikap saling curiga. Namun, Rasulullah sebagai pembawa ajaran baru di lingkungan yang mayoritas menolak pada ajaran itu tentunya masih memiliki sikap curiga dan antisipasi kepadanya. Selain takut ajaran nenek moyang mereka semakin terkikis dengan dakwah Rasulullah yang sangat pesat, mereka juga hawatir agama yang dibawa olehnya akan menyerang mereka.

Menurut Syekh Ali Muhammad ash-Shalabi, perang ini dipicu disebabkan adanya rencana jahat dari Bani Mushthaliq untuk menyerang umat Islam. Dan benar saja, rencana itu tidak hanya sebatas kata. Mereka benar-benar mempersiapkan diri untuk menyerang umat Islam di bawah pimpinan Harits bin Dhirar. (ash-Shalabi, Sirah Nabawiyah ‘Irdu Waqai’ wa Tahlilu Ahdatsin, [Beirut, Darul Ma’rifah: 2008], halaman 572).

Bani Mushthaliq benar-benar siap untuk menyerang umat Islam dengan pimpinan mereka. Mereka sangat yakin bahwa kemenangan akan bersama dengannya, melihat jumlah umat Islam yang masih sedikit di Madinah. Beragam rencana telah mereka buat untuk menyetel perang dengan sangat gampang, singkat, dan pada akhirnya bisa meluluhlantakkan umat Islam dengan satu kali serangan.

Kabar dari rencana jahat itu akhirnya sampai pada Rasulullah dan para sahabatnya. Namun, sebelum umat Islam bersiap-siap menghadapi Bani Mushthaliq, terlebih dahulu Rasulullah mengutus sahabat Buraidah bin Hasib al-Aslami untuk mencari tahu kebenaran dan kenyataan mereka untuk menyerang umat Islam, sekaligus mencari tahu titik lokasi yang akan dijadikan tempat perang oleh mereka.

Setelah semua bukti sudah sangat nyata, dan Bani Mushthaliq benar-benar akan menyerang umat Islam, saat itu pula Rasulullah langsung bergerak dan keluar dari Madinah untuk menemui mereka dengan membawa 700 pasukan dan 30 pasukan penunggang kuda.

Sesampainya di lokasi perang, kedua belah pihak langsung berhadap-hadapan. Peperangan berlangsung sengit, strategi musuh yang di prakarsai oleh Harits bin Dhirar cukup ampuh untuk membuat pasukan Islam lari tunggang-langgang dan terpecah di mata air bernama Muraisi’. Pasukan kaum Muslimin tidak memperhatikan keadaan sekitar, dan celah itulah menjadi target musuh untuk menyerang Rasulullah dan para sahabatnya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits,

أَغَارَ رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى بَنِى الْمُصْطَلِقِ وَهُمْ غَارُّونَ

Artinya, “Rasulullah saw telah berperang dengan Bani Mushthaliq dan mereka juga berperang (dengan Rasulullah).” (HR. Ibnu Umar)

Pada fase pertama, umat Islam sempat dipukul mundur oleh musuh. Namun, di saat berkecamuknya perang saat itu, Allah memberikan ketenangan kepada mereka, dan memunculkan semangatnya kembali.

Seketika itu Allah menghunjamkan rasa takut ke dalam hati orang-orang musyrik, sehingga mereka kalah, dan segala kesombongan yang semula tampak dalam diri mereka kini telah sirna. Sebagian dari mereka berhasil dibunuh pasukan Muslimin, sementara sebagian lagi dijadikan tawanan perang. Tawanan-tawanan itu lalu digelandang ke hadapan Rasulullah.

Setelah peperangan selesai dan kemenangan diraih umat Islam, Rasulullah membagikan empat perlima harta rampasan perang (ghanimah) untuk pasukan Muslim. Untuk prajurit pejalan kaki mendapat satu bagian dan prajurit berkuda mendapat dua bagian dari ghanimah yang dibagikan.

Hikmah Perang Bani Mushthaliq

Dari kisah di atas dapat diambil hikmah, bahwa kemenangan tidak akan pernah berpihak kepada orang-orang yang sombong, sebagaimana yang terjadi pada perang Bani Mushthaliq. Dengan bermodalkan jumlah yang lebih banyak, kesombongan mereka sangat tinggi saat itu. Namun, mereka lupa bahwa jumlah umat Islam meski sedikit namun disertai dengan keimanan dan ketakwaan yang kuat, tak akan pernah dikalahkan oleh siapa pun, sebagaimana firman Allah swt dalam Al-Qur’an,

كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

Artinya, “Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah [2]: 249)

Jumlah mereka yang sangat banyak dan melebihi umat Islam, mampu dikalahkan dengan sangat gampang dan mudah. Pasukan yang banyak tidak artinya jika disertai dengan kesombongan, begitu juga sebaliknya, pasukan sedikit yang memiliki keyakinan dan keimanan kuat kepada Allah laksana pasukan besar melebih pasukan musuh, yang dengan gampang bisa meluluhlantakkan mereka.

Kontributor

  • Sunnatullah

    Pegiat Bahtsul Masail dan Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Bangkalan Madura.