Kuliah Al-Farabi (259/872-339/950) oleh Prof. Osman Bakar membuka perspektif kita tentang relevansi warisan pemikiran Al-Farabi di era modern. Kuliah itu disampaikan dalam acara International Webinar Forum dengan tema Al-Farabi, the Universal Thinker, Selasa 24 November 2020 lalu.

Webinar Al-Farabi digelar atas kerjasama ISTAC-IIUM, Embassy of Republic of Kazakhstan in Malaysia dan Al-Farabi Kazakh National University. Prof. Osman Bakar tidak tampil sendiri, beliau dipanel Prof. Dr. Aliya Masalimova dari Al-Farabi Kazakh National University, dan Prof. Dr. Mohd. Hazim Shah Murad dari University Utara Malaysia.

Dalam dunia internasional Prof. Osman Bakar dikenal salah-satu sarjana yang intens di filsafat Islam. Spesisialisasi Bakar di filsafat Al-Farabi ditunjukkan dengan riwayat akademik dan karya Bakar itu sendiri. Salah-satunya, Al-Farabi: Life, Thought and Significance.

Tajuk webinar Al-Farabi, the Universal Thinker dimaksudkan untuk membicarakan isi buku tersebut sekaligus memeringati 1150 tahun kelahiran filsuf muslim peripatetik besar yang sangat dikagumi oleh Ibn Sina itu.

Baca juga: Mengenang al-Urmawi, Pakar Fikih yang Lihai Bermusik

Buku Al-Farabi: Life, Thought and Significance belum tersedia versi gratis di jagat maya. Buku Prof. Osman Bakar yang beredar adalah Classification of Knowledge in Islam: a Study of Islamic Philosophies of Science yang merupakan Disertasi Doktoral dari Temple University, AS.

Dilihat dari isi disertasi –sepertinya– buku Al-Farabi: Life, Thought and Significance merupakan bagian dari tema disertasinya.

Disertasi Prof. Osman Bakar mengkaji basis filosofis klasifikasi ilmu Al-Farabi yang dikomparasikan dengan klasifikasi ilmu menurut Abu Hamid Al-Ghazali (450/1058-505/1111) dan Qutb Al-Dîn Al-Shirazi (634/1236-710/1311). Komparasi ketiga pemikir besar tersebut sangat penting karena mewakili perspektif aliran besar dalam pemikiran Islam, yaitu filsafat peripatetik (masyâiyyah) Al-Farabi, teologi Al-Ghazali, dan filsafat illuminasi (isyrâqiyyah) Qutb Al-Dîn Al-Shirazi.

Al-Farabi Sebagai Pemikir Universal

Prof. Osman Bakar secara terang-terangan menyebut Al-Farabi pemikir universal karena karya-karyanya menghimpun seluruh disiplin keilmuan di masanya. Jika semua karya Al-Farabi dihimpun, tidak kurang dari 1000 buku yang pernah ditulisnya. Namun sayang sebagian karya-karya itu tidak sampai di tangan kita dan hanya sebagian yang selamat.

Selain luasnya keilmuan yang didalami, pemilik nama lengkap Abu Nashr Muhammad bin Muhammad bin Tarkhan ibn Uzalagh Al-Farabi dalam Ihshâ al-Ulûm (Enumeration of Sciences) mampu mengomentari secara komprehensif pelbagai rumpun keilmuan Yunani dan menjelaskan obyek kajiannya.

Al-Farabi menyusun hirarki ilmu yang cukup impresif. Dimulai dari ilmu bahasa, logika yang diambil dari Organon Aristoteles, matematika dan seluruh cabangnya, fisika, metafisika dan terakhir adalah ilmu politik. Klasifikasi ilmu tersebut merupakan usaha cerdas yang ditampilkan Al-Farabi bagaimana menghubungkan superioritas bangunan ilmu filsafat dengan ilmu agama (Bakar, 1998, p. 124).

Universal thinker Al-Farabi merujuk universal mind. Penguasaan ilmu dan kemampuan menjelaskan batasan ilmu membentuk pola pandangan Al-Farabi yang humanis. Dalam Classification of Knowledge in Islam, Prof. Osman memperlihatkan dasar etis hirarki ilmu Al-Farabi untuk kebahagiaan manusia. Menurut Al-Farabi, kebahagiaan sempurna manusia di dunia diraih dengan pengetahuan yang paripurna.

Pengetahuan sempurna adalah modal bagi kebahagiaan di akhirat (Bakar, 1998, p. 107). Dari wisdom pengetahuan menghasilkan wisdom kehidupan. Itulah di antara alasan kuat mengapa Prof. Osman menyebut warisan filsafat Al-Farabi begitu sangat penting dewasa ini. Al-Farabi menyadarkan bahwa manusia tergantung pada pengetahuannya.

Baca juga: Urgensi Berpikir Sehat di Era Milenial

Signifikansi klasifikasi ilmu Al-Farabi merupakan dasar bagi kurikulum filsafat dan ilmu pengetahuan. Perlu diketahui warisan itu tetap relevan dan bertahan hingga hari ini. Setidaknya klasifikasi Al-Farabi tersebut kini dijumpai dalam pembagian program studi di kampus-kampus modern.

Prof. Osman memberi catatan atas klasifikasi ilmu Al-Farabi:

Pertama, klasifikasi ilmu Al-Farabi sebagai petunjuk umum tentang perbedaan bidang ilmu sehingga para pelajar dapat menentukan bidang ilmu yang diinginkan.

Kedua, klasifikasi ilmu Al-Farabi menunjukkan hirarki ilmu pengetahuan.

Ketiga, klasifikasi bidang ilmu Al-Farabi telah dijelaskan batasan spesifik sehingga memudahkan pelajar untuk menempuh langka spesialisasi ilmu.

Keempat, klasifikasi ilmu Al-Farabi dapat memandu pelajar apa yang perlu dipelajari sebelum memastikan pakar di bidang tertentu (Bakar, 1998, p. 124).

Pendidikan Filsafat

Dari mana wawasan Al-Farabi yang begitu luas dan komprehensif itu diperoleh? Tentunya dari pendidikan filsafat yang ditekuninya. Guru pertamanya adalah Yuhanna ibn Haylam, seorang pengikut Kristen Nestor.

Di bawah bimbingan Haylan, Al-Farabi muda belajar filsafat Aristoteles. Kepiawaian Al-Farabi menjelaskan logika Organon Aristoteles berikut kejeniusannya dalam mendefinisikan batas dan cakupan obyek pengetahuan membuatnya dijuluki al-mu’allim al-tsâni, the second teacher, atau guru kedua, di mana guru pertama adalah Aristoteles (Bakar, 1998, p. 30).

Wawasan keilmuan Al-Farabi meluas. Selain fasih berbahasa Arab yang ia pelajari saat di Baghdad, ia juga paham bahasa Yunani. Prof. Osman Bakar menyebut Al-Farabi belajar bahasa Yunani dari pada para sarjana Kristen di Konstantinopel.

Al-Farabi belajar logika, bahasa, matematika, bahkan secara serius mendalami musik. Al-Farabi menulis karya tersendiri tentang musik yaitu Kitâb al-Mûsîqâ. Bukan hanya membahas teori musik, Al-Farabi juga piawai memainkan alat musik. Bakar mengatakan teori musik Al-Farabi memengaruhi para sarjana Yahudi.

Al-Farabi adalah filsuf yang mengerti betul ilmu politik sebagaimana ditunjukkan dalam Ârâ Ahl al-Madînah al-Fâdhilah. Pembacaan Al-Jabiri dalam Nahn wa al-Turâts mengaitkan gagasan politik ideal Al-Farabi tidak dapat dilepaskan dari capaian luar biasa negara pada masanya. Maksud Al-Jabiri jelas, meski dipengaruhi Plato, Al-Farabi tidak menulis ulang Republic Plato. Dialektika filsafat Islam tidak sepenuhnya copy-paste Yunani, justru filsafat Islam tumbuh dari kondisi khasnya sendiri (Al-Jabiri, 2006).

Baca juga: Menjadi Tekstualis Tanpa Linguistik? Diskursus Majas dalam Al-Qur’an

Ârâ Ahl al-Madînah al-Fâdhilah Al-Farabi tidak hanya beredar di wilayah Arab-Timur (Masyriq), tapi meluas hingga ke pembaca di wilayah Arab-Barat (Maghrib). Karya Al-Farabi tersebut memengaruhi filsuf Muslim Andalusia Abu Walid Ibnu Rushd atau Averroes saat mengomentari Plato dalam Talkhîs al-Siyâsah. Gagasan filsafat politik Al-Farabi mempertegas politik untuk kebahagiaan (happiness). Kebahagiaan tersebut bukan diraih dari perspektif personal melainkan kolektif atau komunal.

Saat memberi closing remark, Prof. Osman Bakar mendeskripsikan Al-Farabi sebagai berikut: universal thinker, universal education, his ideas and massages is about humanity, his mind looks the whole reality.

Referensi:

  1. Al-Jabiri, M. A. (2006) Nahnû wa al-Turâts: Qirâ’ah Mu`âshirah fî Turâtsinâ al-Falsafî. Beirut: Markaz Diraat Wihdah Arabiyyah.
  2. Bakar, O. (1998) Classification of Knowledge in Islam: a Study in Islamic Philosophies of Science. Cambridge: The Islamic Texts Society.