Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani adalah sosok alim allamah, pakarnya pakar hadits dengan karya-karya yang luar biasa. Di antara karya hebat beliau adalah Fath al-Bari Syarah Shahih al-Bukhari.

Di antara pujian para ulama atas kehebatan kitab ini adalah: “Andai ini adalah satu-satunya karya Al-Hafidz Ibnu Hajar, cukuplah ini sebagai pembukti kepakaran beliau.”

Seorang dengan karya-karya hebat ini tentulah orang yang sangat istimewa. Di antara keistimewaannya adalah kecerdasan yang dimilikinya jauh di atas rata-rata.

Diceritakan oleh pentahqiq karya beliau yang berjudul Ahwal al-Mayyit, bahwa sejak kecil beliau memiliki kecerdasan dan kecepatan menghafal yang luar biasa. Beliau antara lain mampu menghafal surat Maryam hanya dalam sehari dan diceritakan pula bahwa untuk menguasai suatu kitab, beliau hanya butuh dua kali bacaan; sekali untuk mentashhih bacaan kitab, bacaan kedua langsung hafal. Pada bacaan ketiga beliau sudah siap mempresentasikan kitab tersebut di luar kepala. Luar biasa.

Ahwal al-Mayyit merupakan salah satu karya beliau. Dalam cover, bisa kita saksikan judul kitab ini secara lengkap, yaitu Ahwal al-Mayyit min hiin al-Ikhtidhar ila al-Hasyr. Kitab ini kurang lebih berisi seratusan hadits tentang hal ihwal kematian, adab kita ketika mengetahui kematian seseorang, tajhiz al janazah hingga rangkaian doa yang diajarkan Hadhratur Rasulullah dalam shalat dan setelah pemakaman kemudian di akhir kitab ditutup dengan serangkaian ayat dan bait-bait yang bernuansa kematian.

Di antara yang menarik perhatian kami dalam kitab ini adalah cerita Sayyidina Abbas yang menampar seseorang karena menyatakan bahwa ayah beliau, yaitu Sayyiduna Abdul Muthallib bin Hasyim; kakek Hadhratur Rasul adalah penghuni neraka. Lelaki itu ditampar oleh Sayyidina Abbas. Lalu ia dan kaumnya tidak terima, sehingga mereka berniat akan membalas tamparan Sayyidina Abbas.

Begitu Hadhratur Rasul mendengar ini, beliau bersabda:

من أكرم الناس على الله؟ قالوا أنت قال إن العباس مني وأنا منه لا تسبوا أمواتنا فتؤذوا به الأحياء

Siapakah orang yang paling mulia di sisi Allah?Mereka menjawab, “Panjenengan.” Lalu Hadhratun Nabi melanjutkan, “Abbas adalah keluargaku dan akupun keluarganya. Janganlah kalian mencela keluarga kami yang telah meninggal sehingga itu akan menyakiti kami yang masih hidup.

Lebih tajam lagi, Al-Hafidz Ibnu Hajar memaparkan Sayyidina Ikrimah, putra Abu Jahal yang mengadukan ketidaknyamanan beliau bahwa saat di Madinah banyak sahabat lain mengatai beliau dengan Ibn 'Aduw Allah; putra musuh Allah, yaitu Abu Jahal. Menghadapi aduan ini, Hadhrotur Rasul bersabda:

لا تؤذوا مسلما بكافر

Pantang menyakiti muslim sekalipun dengan mencela yang kafir.

Lihatlah betapa agama ini menjaga kehormatan setiap orang bahkan yang telah meninggal sekalipun. Karena tentulah hujatan tersebut akan menyakiti keluarganya yang masih hidup. Mari menjaga kehormatan semua orang karena kita pun senang manakala kita dihormati orang lain.

Tentu, masih banyak lagi pelajaran hidup bagi kita untuk menunjukkan adab muslim yang sesungguhnya dalam menghadapi kematian, baik kematian orang lain terlebih menyongsong husnul khaimah kita pada waktunya nanti. Amin. إنا لله وإنا إليه راجعون.

Selamat membaca.