Artikel

Antara Corona, Karantina, Emisi dan Syahwat Ekonomi

17 Apr 2020 07:45 WIB
1601
.
Antara Corona, Karantina, Emisi dan Syahwat Ekonomi

"Bila alam memberi kita energi untuk dimanfaatkan, secara sepadan kita wajib mengembalikan atau memproduksi sesuatu yang bermanfaat pula bagi alam. Hal ini sangat sesuai dengan prinsip ekonomi Islam berikutnya, yaitu memprioritaskan keadilan dan keseimbangan (I’thaau al-uluwiyyah li al-‘adaalah wa al-tawaazun)".

Satelit NASA beberapa waktu lalu menunjukkan gambar yang tidak biasa, yaitu penurunan drastis perihal polusi udara Nitrogen Dioksida hingga 40% di Cina. Hal ini tidak lain akibat respon cepat dan agresif negara tersebut terhadap Covid-19. Para ilmuwan juga melihat hal yang sama di Italia, demikian pula tingkat polusi kota-kota besar di Amerika Serikat tampak turun drastis.

Satu hal yang perlu diperhatikan di sini adalah adanya keterkaitan jelas antara kadar emisi dan libido berekonomi. Emisi adalah istilah fisika yang artinya pemancaran cahaya, panas, atau elektron dari suatu permukaan benda padat atau cair; kandungan gas mesin yang dibuang ke udara. Situs resmi Carbon Brief menegaskan bahwa di Cina saja, isolasi massal dalam rangka mencegah penyebaran virus korona dalam sekejap mampu menurunkan emisi CO₂ dalam presentase yang tidak kecil.

Salah seorang Profesor Stanford University, Marshall Burke, memberikan prediksi bahwa sebagai akibat dari hal tersebut ialah berkurangnya jumlah kematian prematur akibat polusi udara, sehingga tingkat kematian secara keseluruhan di Cina bisa menurun dalam dua bulan tersebut. Selain mematikan, ternyata Covid-19 malah menyelamatkan nyawa manusia dalam jumlah yang lebih besar. Bukan virusnya, namun dampak dari karantina dalam pencegahannya.

Aneh? Sebenarnya tidak, silahkan hitung kembali kurva statistiknya. Sebelum lebih jauh, perlu ditekankan bahwa tulisan ini tidak buru-buru menyimpulkan bahwa pandemi itu baik dan manusia harus bersahabat dengan virus. Tentu tidak.

Salah satu poinnya adalah, seperti yang dicatat Burke, bahwa ada perangkat besar yang tersembunyi dari emisi bahan bakar fosil (fosil disebut juga bahan bakar mineral, yaitu sumber daya alam yang mengandung hidrokarbon seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam) yang ada di bumi saat ini.

Oleh karena itu, untuk mencegah jutaan kematian di masa mendatang yang secara langsung disebabkan oleh pembakaran energi alam tersebut, atau secara tidak langsung dari konsekuensi suhu planet yang semakin memanas, dunia perlu bertindak cepat untuk menciptakan perubahan struktural yang lekas dan tangkas.

Pertanyaannya sederhana, apa yang bisa dipelajari dari respon manusia terhadap Covid-19 dan bagaimana dapat diterapkan pada climate change dan sejumlah krisis yang lain? Laporan dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change) bahwa kita memiliki waktu hingga 2030 untuk melakukan pengurangan emisi global secara menyeluruh, yang mana oleh banyak orang dianggap tidak mungkin.

Walhasil, tidak perlu bertahun-tahun hingga 2030, ternyata cukup hanya dua bulan. Terimakasih untuk Nona Corona yang telah menegur kita bahwa di zaman ketika syahwat materialisme berkuasa tindakan mengkarantina diri amatlah diperlukan. Ini adalah suatu bentuk anugerah yang diberikan Tuhan, bukan sekedar musibah.

Pandemi yang kini kita hadapi secara gamblang menunjukkan bahwa perubahan struktural secara kolektif dan menyeluruh, dalam skala besar, amat bisa sekali dilakukan dalam rangka melawan krisis. Dan, seperti yang selalu digaungkan para ilmuan bidang terkait, krisis terbesar manusia saat ini tidak lain adalah climate change, yakni perubahan iklim yang oleh Greta Thunberg disebut sebagai periode awal kepunahan massal.

Covid-19 adalah isu global. Pada saat artikel ini ditulis, jumlah kematian secara keseluruhan mencapai lebih dari 100.000 dan masih akan terus bertambah. Dalam menghadapi krisis ini, media telah kewalahan dalam memberitakan angka penanganan yang terus berubah setiap waktu. Di lain sisi, problem lingkungan seperti polusi udara yang diperkirakan menyebabkan 4,5 sampai 7 juta kematian prematur hanya dalam satu tahun hampir tidak pernah menjadi berita utama.

Halaman YouTube bernama Our Changing Climate dalam video bertajuk What Coronavirus Teaches Us About Climate Change meletakkan respon global terhadap Covid-19 sebagai alat untuk menemukan langkah paling efektif dalam menghadapi perubahan iklim. Dijelaskan bahwa jika spirit merespon ancaman iklim sama bentuknya seperti terhadap virus Corona, di situlah manusia baru saja mengambil langkah pertama menuju masa depan zero-carbon.

Selaku direktur dewan hubungan luar negeri Program Keamanan Energi dan Perubahan Iklim (Energy Security and Climate Change Program), Amy Jaffe dengan cakap berujar: “Katakanlah Anda seorang pembuat kebijakan, lalu Anda berpikir apa yang sebaiknya dilakukan untuk menurunkan kadar emisi di wilayah Anda, sadarilah bahwa Anda baru saja memikirkan hal yang amat sangat tepat.”

Oleh karena pandemi Covid-19, sekian negara memberlakukan isolasi diri dan pembatasan perjalanan, termasuk Indonesia. Banyak jalur yang sebelumnya menjadi area kemacetan sekarang justru bebas kendaraan, jam kerja diperpendek meskipun tidak oleh semua instansi dan institusi. Memaksimalkan potensi tatap muka via video dan sejumlah perangkat lunak lainnya ketimbang bepergian jarak jauh.

Tidak heran ketika beberapa kota besar di luar negeri seperti New York telah memaksimalkan jalur sepeda pancal yang dipersiapkan mendadak, dan lebih menganjurkan warganya untuk berjalan kaki atau bersepeda sebagai opsi transportasi yang paling maslahat. Untuk menanggapi virus corona seluruh dunia bertindak tegas, cepat dan tanggap.

Itu bagus sekali, meskipun ada beberapa negara yang dinilai kurang memiliki persiapan matang. Dengan ungkapan lain, perubahan struktural yang cepat untuk memerangi ancaman mampu diwujudkan. Apakah demikian pula dalam menangani sejumlah krisis lainnya? Bahkan dalam memberikan penanganan terhadap krisis manusia sering kali kesulitan berlaku adil.

Perbedaan paling mencolok dalam penanganan terhadap krisis adalah kaitannya dengan waktu. Perubahan iklim misalnya, efek dan perkembangannya menjadi ancaman besar dalam kurun beberapa dekade, sementara virus Corona langsung dan tepat di depan wajah kita. Hal ini membuat masyarakat global lebih sulit untuk bertindak cepat dan tegas dalam menangani krisis yang sifatnya ekologis.

Virus Corona, di sisi lain, muncul secepat kilat, dan ada keterkaitan langsung sangat jelas antara sebab dan akibat. Covid-19 bergerak melalui tetesan pernapasan yang dihasilkan ketika seseorang batuk atau bersin. Atas dasar ini, tampak jelas antara tindakan dan konsekuensi. Misalnya tindakan mencuci tangan dan mengkarantina diri secara langsung dapat menghambat penyebarannya. Bagaimana dalam menghadapi krisis ekologi ekosistem? Secara teknis tidak sesederhana itu.

Tentu saja, langkah-penanganan untuk perubahan iklim bukanlah hendak mengurung semua orang di rumah mereka, itu akan menjadi lelucon terbesar di abad ini bila diterapkan. Inti yang mesti dicatat di sini adalah semangat meresponnya, bukan bagaimana bentuk respon tersebut. Yang dikarantina bukan semata jasmani kita, namun syahwat kita dalam mengeruk sumber energi besar-besaran dan mengeksploitasi alam habis-habisan demi pertumbuhan ekonomi.

Dalam setiap kebijakan, undang-undang tentang produksi memang perlu sekali ditinjau ulang. Karena secara mayoritas yang terlihat bukanlah kualitas namun kuantitas, sehingga konsekuensinya adalah pemborosan bahan bakar, penebalan polusi udara, peningkatan emisi, terkurasnya energi bumi, belum lagi pencemaran lingkungan yang menciderai ekosistem dan membunuh banyak organisme.

Pabrik-pabrik harus sudi mengkarantina eksistensinya dengan membatasi jumlah produksi, hal ini bisa berjalan efektif bila hukum yang berwenang sangat proporsional dalam mencanangkan undang-undang serta secara disiplin memberlakukannya. Demikian pula undang-undang dalam bertransportasi dan penggunaan sumber daya alam pada umumnya.

Dalam berniaga atau berekonomi misalnya, agaknya perlu saya munculkan salah satu prinsip luar biasa yang dimiliki Islam, yaitu mengelola sumber daya alam (Idarah al-mawarid al-thabi’iyyah). Di sini ‘idarah’ satu akar kata dengan ‘mendaur ulang’, ia boleh juga diartikan manajemen, namun sangat berseberangan bila diterjemahkan sebagai tindakan mengeksplorasi. Yang konotasinya adalah pemanfaatan demi keuntungan pribadi, pengisapan, dan pemerasan tenaga banyak orang tanpa melihat dampak negatif yang timbul kemudian hari. Mengelola alam berarti mendaur-ulang apa yang telah diambil dan dimanfaatkan, dengan ungkapan lain menggantinya dengan sesuatu yang setimpal.

Bila alam memberi kita energi untuk dimanfaatkan, secara sepadan kita wajib mengembalikan atau memproduksi sesuatu yang bermanfaat pula bagi alam. Hal ini sangat sesuai dengan prinsip ekonomi Islam berikutnya, yaitu memprioritaskan keadilan dan keseimbangan (I’thaau al-uluwiyyah li al-‘adaalah wa al-tawaazun).

Respon terhadap Covid-19 menunjukkan bahwa perlambatan ekonomi yang terencana tidak hanya memungkinkan, tetapi sangat perlu demi berkurangnya kadar emisi besar-besaran. Jika lockdown dan social distancing berhasil memperlamban laju ekonomi yang mana berdampak turunnya emisi yang menimbulkan udara segar, harusnya ada upaya alternatif supaya emisi tidak kembali membeludak ketika kebijakan tersebut tidak lagi diberlakukan.

Perlu diperhatikan pula bahwa perubahan struktural secara cepat harus ditopang dan diimbangi dengan jejaring pemberdayaan sosial yang solid seperti jaminan pekerjaan, sistem transportasi yang lebih rapi, maupun penggunaan sumber daya secara efektif di segala lini individual maupun komunal. Bila tidak, maka cepat atau lambat kekacauan akan menjadi keniscayaan yang tidak dapat dicegah.

Perlambanan ekonomi dalam pembahasan ini bukan berarti mempersempit lahan kerja, kontra produktif, atau memaksa peradaban mundur ke belakang, tentu tidak. Justru yang dikendaki adalah longgarnya peluang, waktu senggang, sehingga menghasilkan produk-produk berkualitas yang kreatif-imajinatif, dan di atas segalanya: ramah lingkungan.

Singkat kata, Covid-19 telah mewujudkan mimpi mengecilnya emisi secara cepat menjadi kenyataan, hal yang selama ini hanya angan dan cita-cita kini telah kita saksikan bersama-sama. Nona Corona mengajarkan kita bahwa untuk memperoleh dukungan masyarakat luas dalam menangani aneka krisis lingkungan cukup dengan meyakinkan mereka bahwa, untuk climate change misalnya, keadaannya harus benar-benar seperti yang dikatakan Thunberg.

Walang Gustiyala
Walang Gustiyala / 48 Artikel

Penulis pernah nyantri di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Al-Hikmah Purwoasri, Walisongo Sragen, Al-Ishlah Bandar Kidul, Al-Azhar Kairo, dan PTIQ Jakarta. Saat ini mengabdi di Pesantren Tahfizh Al-Quran Daarul ‘Uluum Lido, Bogor.

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: