Seorang teman mengadukan perkara kepada saya lewat pesan Whatsaap. Aduannya berkaitan dengan suatu komunitas yang tengah meresahkan masyarakat sebab ideologinya yang berbahaya.

Ideologi itu mengajarkan bahwa khilafah merupakan ajaran Nabi, sedang demokrasi ajaran Plato. Seolah-olah mereka ingin mengatakan bahwa Indonesia ini bukan negara yang direstui oleh Nabi, sebab dibangun di atas sistem Demokrasi.

Berpagi-pagi saya katakan kepada teman saya itu, bahwa locus problems, akar permasalahannya ada pada minimnya penguasaan ilmu mantiq–jika enggan dibilang tidak menguasai ilmu mantiq sama sekali.

Mengapa demikian? Karena dalam ilmu mantiq kita akan diajarkan tata cara berpikir benar, tidak kacau. Di sana kita akan disuguhi metode berpikir secara sistematis, terstruktur dan radikal.

Ilmu mantiq merupakan buah peradaban-intelektual Yunani Kuno yang sangat efektif sepanjang sejarah manusia. Seorang sarjana Kristen Timur Tengah Joseph Karam, menuliskan dalam Ancient Greek Philosophy (2017), Aristoteles (367-322 SM) merupakan orang pertama yang mengkodifikasi ilmu mantiq.

Sarjana muslim kenamaan Ibnu Khaldun (w.1405 M) dalam magnum opusnya Mukaddimah lebih dulu menuliskan hal itu, buku mantiq yang dikarang Aristoteles itu berjudul al-Nash (versi Arab), oleh karenanya Aristoteles dijuluki sebagai al-Mu’allim al-Awwal, Sang Guru Pertama.

Kemunculan ilmu mantiq dilatarbelakangi oleh kekacauan intelektual yang sarat dramatis. Kaum Sofis beranggapan bahwa pengetahuan atau makrifat itu berasal dari pancaindra (mata, telinga, hidung, mulut dan tangan) saja, sedang akal tidak bisa dijadikan sumber pengetahuan seseorang.

Konsekuensinya ialah hilangnya tolok-ukur benar-salahnya sesuatu itu sendiri, karena pancaindra setiap individu dengan individu lainnya jelas berbeda, sehingga hasil pengamatannya pun berbeda dan kerap menimbulkan kekacauan (chaos).

Hal yang dianggap benar menurut si A belum tentu benar menurut si B, salah menurut si B belum tentu salah menurut si A, begitu seterusnya.

Kemudian, muncullah seorang filsuf Yunani Socrates (467-347 SM) yang notebene seorang guru dari pada Aristoteles melantai turun menghadapi ulah kaum Sofis dengan menggunakan cara ampuh yaitu definisi atau al-Ta’rif.

Maka sebelum beradu argumen, terlebih dahulu setiap kata yang terucap dari mulut itu didudukkan, didefinisikan sampai betul-betul jelas dan terang maknanya.

Dari situ muncul sebuah ungkapan populer yang dinisbatkan kepada Socrates berbunyi: ‘Arif nafsak! Definisikan dirimu!.

Usai Scorates wafat, perjuangan intelektual sang guru dilanjutkan oleh sang murid, Aristoteles. Dialah yang kemudian membukukan, membakukan, mengkodifikasi ilmu yang diajarkan oleh sang guru tersebut, juga menambahkan beberapa tema di dalam ilmu mantiq.

Di masa dinasti Abbasiyah di bawah kepemimpinan al-Makmun (811-833 M) terjadi sebuah gejala penerjemahan disiplin ilmu pengetahuan dari bahasa asing ke bahasa arab secara masif.

Kitab mantiq yang ditulis Aristoteles itu salah satunya, diterjemahkan dan didemonstrasikan di tengah gejolak dialektis-teologis Islam, sebagaimana yang dikemukakan oleh Profesor di Universitas al-Azhar Muhammad Golab dalam kitabnya al-Kalam wa al-Mutakalimun (2009) dan oleh Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid dalam prakata kitab al-Idoh li Matn al-Isagoge (1926).

Saking masifnya antusias sarjana-sarjana muslim terhadap ilmu mantiq di masa al-Syaikh al-Rais Ibnu Sina yang terkenal di kalangan barat dengan sebutan Avicenna, al-Muallim al-Tsani Abi Nasr al-Farabi, Ibnu Rusyd (Averous), al-Ghazali, al-Razi, al-Thusi dan lainnya, masih menurut Muhyiddin, seandainya perpustakaan di universitas itu kita jejali dan sesaki oleh kitab mantiq; berikut syarah, anggitan, dan ringkasannya, niscaya perpustakaan itu tidak akan pernah cukup untuk menampung itu semua.

Seorang argumentator Islam, Abu Hamid al-Ghazali (w.1111 M) dalam kitabnya berjudul al-Mustashfa mengungkapkan bahwa Ilmu mantiq merupakan kunci pembuka semua pintu disiplin ilmu pengetahuan, dan siapa saja yang belum mempelajarinya maka keilmuannya tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Dari sini kita bisa menarik kesimpulan bahwa fungsionalisasi dasar ilmu mantiq itu adalah; Pertama, sebagai alat pendeteksi suatu kebenaran atau kesalahan berpikir (argument) seseorang, dengan ilmu mantiq setidaknya kita bisa membedakan mana produk pemikiran yang salah dan benar, sesat dan tidak, hitam dan putih.

Kedua, sebagai penjaga akal dari ketergelinciran berpikir, karena sebagaimana disinggung di awal tadi, ilmu mantiq mengajarkan kita tata cara berpikir lurus, benar dan tidak bengkok. Ketiga, sebagaimana yang diungkapkan oleh al-Ghazali mantiq merupakan passe-partout,kunci segala pintu disiplin ilmu pengetahuan.

Akhir kata, dengan mempelajari ilmu mantiq kita bisa lebih profesional mendefinisikan segala sesuatu, misalnya mendefinisikan apa itu Khilafah dan apa itu Demokrasi secara utuh dan benar, tidak asal-asalan sebagaimana yang mereka definisikan di atas.