Tokoh

Durrah Putri Abu Lahab yang Dibela Nabi

07 Aug 2021 07:19 WIB
749
.
Durrah Putri Abu Lahab yang Dibela Nabi

Keluar dari perkampungan Bani Abdi Yalail bin Abdi Kalal, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tampak kalut. Pasalnya, mereka bukan saja menolak Islam yang beliau dakwahkan, tetapi mencemooh beliau dengan ungkapan-ungkapan sangar yang sangat menyakitkan. Bahkan menyakiti fisik beliau dengan kerikil-kerikil kecil yang beterbangan dari tangan-tangan mungil bocah-bocah kampung.

Dengan pikiran kusut, bahkan shock berat, beliau menyusuri jalan tak tentu arah. Saat sadar, tiba-tiba saja beliau telah jauh berada di suatu tempat yang bernama Qarn al-Tsa'alib (nama lain dari Qarn al-Manazil). Di sini, tak sengaja beliau mendongakkan wajahnya ke langit. Segumpal awan hitam tampak menggantung di sana. Ternyata di dalamnya ada sosok Malaikat Jibril ‘alaihis salam.

“Wahai Nabi Muhammad,” sapa Jibril. “Allah telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan tanggapan mereka atas seruan dakwahmu. Sekarang, Allah mengutusku bersama malaikat penjaga gunung untuk kauperintahkan apa saja yang kausuka.”

Kemudian si malaikat penjaga gunung menyapa beliau dan memanggil salam. Kemudian dia berkata, “Nabi Muhammad, benar kata Jibril. Jika engkau izinkan aku untuk menggencet kampung mereka dengan mengatupkan dua gunung akhsyab (maksudnya Gunung Abu Qubais dan Gunung Qu'aiqi'an yang berhadap-hadapan), niscaya akan kulakukan.”

Tetapi beliau hanya memberikan jawaban singkat yang sangat menyejukkan dan bisa menjadi support moral bagi para dai di setiap zaman dan tempat:

بل أرجُو أن يُخرجَ الله عز وجل مِن أصلابهم مَن يعبد الله عز وجل وحده لا يشركُ به شيئًا

“Tidak, aku malah berharap Allah akan mengeluarkan dari punggung mereka keturunan yang menyembah Allah satu-satunya tanpa menyekutukan sesuatu apa pun dengan-Nya.” (HR. al-Bukhari dari Urwah bin al-Zubair radhiyallahu anhu).

Harapan Rasulullah itu belakangan terbukti menjadi kenyataan. Tentu anda tahu paman beliau yang disindir Al-Qu'ran dengan sebutan Abu Lahab yang berarti kobaran api dan istrinya yang digelari dengan Hammalat al-Hathab yang berarti si pemanggul kayu bakar. Siapa sangka dari pasangan kafir musuh Allah ini justru lahir seorang anak perempuan yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, sangat taat beragama dan menjadi salah seorang sahabat perempuan yang utama.

Durrah radhiyallahu anha, demikian nama perempuan itu, tiba-tiba disinari hatinya oleh Allah dengan cahaya keimanan. Ia minggat dari kedua ortunya, masuk Islam dan menyusul hijrah ke Madinah. Di Madinah dia sering mondar-mandir ke bilik Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha untuk belajar agama. Jika tidak salah, ada tiga hadits dalam Sahih al-Bukhari yang berasal dari riwayat sepupu Rasulullah ini.

Di zaman jahiliah, ia menikah dengan Al-Harits bin Nawfal bin Abdul Mutthalib dan dikaruniai tiga orang anak laki-laki, yaitu Uqbah, Al-Walid dan Abi Muslim. Saat Perang Badar berkecamuk, suaminya ikut berperang di kubu kaum musyrik dan tewas dalam perang tersebut. Lalu, setelah hijrah, ia dilamar oleh Dihyah al-Kalbi radhiyallahu anhu dan tak lama kemudian keduanya pun menikah. Rupanya Allah telah mengutus Dihyah untuk menjadi pengganti yang baik dari Al-Harits.

Suatu ketika beberapa perempuan dari Bani Zuraiq meledek Durrah. “Engkau ini kan anak Abu Lahab yang telah dicemooh oleh Allah dalam Al-Qur'an itu ya? Mengapa kamu hijrah ke sini?” kata mereka.

Durrah pun segera sowan pada Rasulullah untuk mengeluhkan ledekan mereka. “Baik, duduklah,” timpal Rasulullah.

Kemudian beliau keluar ke masjid untuk memimpin shalat Zhuhur. Setelah shalat, beliau naik mimbar, lalu duduk dan bersabda:

“Para hadirin, ada sekelompok orang yang suka menyakitiku dalam nasabku dan famili-familiku. Ingatlah, barang siapa menyakiti nasab dan familiku berarti dia telah menyakitiku, dan barang siapa menyakitiku berarti ia telah menyakiti Allah.”

Kemudian lanjut Nabi,

لا يؤذى حي بميت

“Jangan sampai orang yang hidup dicela lantaran orang yang sudah mati.”

Tahun 20 H, di era pemerintahan Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu anhu, Durrah meninggal dunia setelah meninggalkan sebuah pelajaran berharga bahwa beriman itu pilihan, bukan anugerah bongkokan dari langit. Tentu, kemerdekaan berpikir adalah prasyarat mutlak untuk memilih. Kemerdekaan itulah yang merupakan anugerah bongkokan dari Allah.

فَمَن شَاۤءَ فَلۡیُؤۡمِن وَمَن شَاۤءَ فَلۡیَكۡفُرۡۚ إِنَّاۤأَعۡتَدۡنَا لِلظَّـٰلِمِینَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمۡ سُرَادِقُهَاۚ

“Maka barang siapa yang mau mempercayainya—dan ini merupakan suatu hal yang sangat baik bagi dirinya—silakan mempercayainya; dan barang siapa yang ingin mengingkarinya—dan ini berarti hanya menzalimi diri sendiri—silakan mengingkarinya. Bagi orang-orang yang telah menganiaya diri sendiri dengan perbuatan kufur, sungguh telah Kami siapkan neraka yang gejolak apinya mengelilingi mereka.” (QS. al-Kahfi [18]: 29)

Sumber: Ath-Thabaqât al-Kubrâ karya Ibnu Saad dan al-A’lâm karya Khairuddin al-Zarkali.


KH. Zainul Muin Husni
KH. Zainul Muin Husni / 9 Artikel

Dekan Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam Universitas Nurul Jadid, Probolinggo Jawa Timur

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: