Tokoh

Pembelaan Muhammad Asad untuk Palestina dan Kemerdekaan Pakistan

23 Jul 2021 06:58 WIB
209
.
Pembelaan Muhammad Asad untuk Palestina dan Kemerdekaan Pakistan

“Leopold Weiss (Muhammad Asad) terlebih dulu jatuh cinta dengan Arab, sebelum jatuh hati dengan Islam,” ucap Shalom Goldman, seorang profesor teologi di Universitas Duke ketika tengah menyusun buku tentang orang-orang Yahudi yang masuk Islam.

“Islam sangat berkaitan dengan Arab, namun tidak bisa disamakan. Oleh karena itu Weiss lebih memilih tinggal di tengah-tengah masyarakat Badui selama enam tahun dibanding beraktifitas di kampus-kampus agama. Bagianya, berada di tengah-tengah masyarakat Badui adalah jalan yang paling autentik untuk ditempuh, bukan belajar di Universitas Al-Azhar atau nyantri ke Pakistan.” Lanjut Goldman.

Pertama kali Asad bersentuhan langsung dengan kultur Arab dan Islam adalah ketika berpelesir ke Palestina atas undangan pamannya, Dorian, seorang psikiater yang juga murid langsung Sigmund Freud.

Ketika itu bersamaan dengan peristiwa-peristiwa penting yang menentukan sejarah Palestina ke depan. Zionis tengah gencar melakukan lobi-lobi terselubung yang kadang mengandung kekerasan demi berdirinya negara Yahudi di bumi Palestina. Puluhan ribu orang Yahudi meninggalkan Rusia dan sejumlah negara lain untuk ‘mengungsi’ di Palestina, merubah wajah demografi dunia yang berlangsung hingga saat ini dan seterusnya.

Bagi seorang Weiss, masyarakat Badui dengan kepolosan, gubuk, unta, dan segenap kesederhaannya lebih mirip dengan penggambaran karakter masyarakat Ibrani yang ia pelajari dalam kitab-kitab babon agama Yahudi dibanding Yahudi modern yang ia lihat secara langsung.

Dalam beberapa kesempatan, Weiss dengan tegas menantang debat para pemuka Zionis seperti Dr. Chaim Weizmann dengan cara meminta mereka supaya berani terang-terangan menjelaskan bagaimana bisa hak orang-orang Yahudi melebihi orang-orang Palestina selaku penduduk asli selama dua ribu tahun.

“Anti-zionisme sudah lama mengakar dalam diri Weiss, bukan semata keberpihakannya pada Islam.” Ucap Kramer.

Sahabat karib Weiss di Palestina, Jacob de Haan, seorang jurnalis asal Belanda dibunuh oleh seorang ekstremis Zionis lantaran menyuarakan pembelaannya terhadap orang-orang Arab dari perlakuan Zionis.



Ribuan orang Yahudi meninggalkan Rusia dan sejumlah negara lain untuk ‘mengungsi’ di Palestina. Bagaimana bisa hak-hak mereka melebihi tuan rumah sendiri?

Beberapa tahun berikutnya, Israel berniat menyatakan kepemilikan penuh atas seluruh teritori Yerusalem, tentu Leopold Weiss yang telah merubah namanya menjadi Muhammad Asad berada di barisan terdepan menolaknya.

Zionis berniat menjadikan Yerusalem sebagai ibu kota Israel untuk selama-lamanya, dalam sebuah artikel berjudul The Vision of Jerusalem yang terbit tahun 1982, Muhammad Asad menulis: “Eternity is an attribute of God alone.”

“Kekal” adalah sifat yang hanya dimiliki Tuhan.  

Muhammad Asad sepanjang hidupnya menulis dan menyuarakan tentang bagaimana Islam meletakkan Yerusalem sebagai salah satu “Kota Suci” bagi semua agama samawi, bukan semata real-estate milik orang Yahudi saja. 

Goldman menceritakan bahwa Muhammad Asad adalah orang pertama yang menggunakan istilah kolonialisme zionis sebelum istilah tersebut dipopulerkan kaum Marxis pada kurun 60-an dan 70-an.

Ketika tinggal di Palestina, kemudian berpelesir ke Yordania dan sejumlah wilayah Muslim lainnya, Muhammad Asad mulai memupuk cinta terhadap kultur berikut gaya hidup orang-orang Arab.

Kisah-kisah Muhammad Asad tentang kecintaannya terhadap kultur Arab banyak yang ia tuangkan dalam Frankfurter Zeitung, salah satu jurnal ilmiah yang paling diperhitungkan kala itu, ia menulis bahwa bangsa Arab sebagai bangsa yang ”blessed” (diberkahi) lantaran gaya hidupnya yang sederhana dan menakjubkan.

Beberapa tahun kemudian, ketika diminta untuk berbicara tentang terjemahan Al-Qur’an yang ia susun, Muhammad Asad sempat menyampaikan pandangannya tentang kenapa Tuhan memilih utusan terakhirnya dari dan di atas tanah Arab, salah satunya karena kehidupan keras masyarakat badui perlu menyadari eksistensi kecilnya sebagai manusia. Kala itu mereka paling butuh meyakini bahwa ada satu entitas yang mengatur dan menjaga seluruh kehidupan.

Muhammad Asad tenggelam lebih dalam dengan kultur Arab ketika melanjutkan perjalanannya ke semenanjung Arabia. Selama enam tahun ia hidup di tengah-tengah suku badui, menenggelamkan diri secara total dengan gaya hidup masyarakat padang pasir, mengendarai unta, berjubah, dan tentu saja secara fasih berbicara bahasa mereka.

Bagaimana bisa orang kulit putih Eropa berpelesir dengan bebas dan dapat tinggal di mana saja, sementara di sekelilingnya kondisi politik tengah memanas, campur tangan asing ke negara-negara Arab juga tengah gencar-gencarnya? Bukankah kecurigaan masyarakat Arab terhadap Muhammad Asad menjadi sebuah keniscayaan? 

Saudi Arabia tengah mengalami pemberontakan yang besar ketika Muhammad Asad tiba di sana tahun 1927, ia yang saat itu baru masuk Islam tengah menunaikan ibadah Haji. Di lain sisi, Ibnu Saud, pendiri Saudi Arabia modern, merasa kwalahan dalam mengendalikan suku-suku pemberontak yang tersebar di wilayah gurun.

Pada saat yang sama Ibnu Saud tidak lagi memercayai Inggris yang telah menggunakan kekuatan militernya untuk memperlemah dan memperdaya para pemimpin Arab.

“Tentu kewartaan Muhammad Asad sebagai jurnalis juga koneksinya dengan dunia internasional membangun komponen penting dalam hubungannya dengan sang raja,” ucap Günther Windhager, seorang antropologis asal Austria yang menulis buku tentang masa-masa Muhammad Asad di Saudi Arabia.

Muhammad Asad saat itu aktif menulis di sejumlah surat kabar Eropa. Bahkan beberapa catatan perjalanannya ada yang diterjemahkan dan dicetak di Indonesia di bawah kuasa Belanda, yang ketika itu terkenal dengan nama Dutch East Indies. Satu dari banyak fakta yang membuat nama Muhammad Asad diperhitungkan di kerajaan Saudi.

Atas izin langsung dari raja, Muhammad Asad dapat melakukan perjalanan ke wilayah-wilayah Arab saat sebagian besar warga asing tidak bisa menempuhnya lantaran izin yang ketika itu sangat sulit.

Sebelum menunaikan ibadah haji, Asad terlebih dulu menikahi Elsa, seorang pelukis yang usianya limabelas tahun lebih tua. Mereka berangkat haji bersama.

Namun petaka datang tanpa disangka, Elsa meninggal dunia sembilan hari setelah menunaikan semua rukun haji karena terserang semacam wabah tropis. Hal yang tentu sangat memukul Muhammad Asad. Mendengar berita ini sang raja mengundangnya datang ke kerajaan, sehingga hubungan keduanya menjadi semakin erat.

Secara tidak langsung Muhammad Asad menjadi penasehat raja, bahkan dalam sekali waktu menerima tugas berat belusukan ke gurun-gurun untuk mencari tahu pihak mana yang menyuplai senjata perang bagi para pembangkang.

Ketika semakin rajin mempelajari Al-Qur’an, Muhammad Asad semakin giat mengeksplorasi aspek-aspek penting Islam, seperti mendalami hukum-hukum Islam dan peranannya dalam dunia politik.

Secara umum, para pelajar Muslim belajar langsung tentang hukum-hukum Islam kepada sarjana yang mumpuni di bidangnya di sebuah perguruan tinggi. Berbeda dengan Muhammad Asad, hingga saat ini belum jelas kepada siapa ia berguru dan memperoleh bimbingan. Hal ini sering dipakai bahan andalan para pencelanya untuk melawan.

“Kita benar-benar kehilangan jejak tentang lingkaran kajian keagamaan Muhammad Asad ketikan mendalami Islam pada masa-masa tersebut,” tulis Dr. Muzaffar Iqbal, pendiri Center for Islamic Science in Canada. Kelak anak lelaki Muhammad Asad, Talal Asad, juga mengakui bahwa ia sendiri lebih banyak tidak tahu nama-nama sarjana Muslim yang kurun tersebut menjalin kontak dengan sang ayah.

Talal, yang sekarang berusia 88 tahun adalah satu-satunya anak Muhammad Asad. Ia lahir di Saudi Arabia dari perkawinan Muhammad Asad dengan Munira, istri ketiganya, seorang muslimah dari suku Shammar. Setahun setelah kematian Elsa, Muhammad Asad menikahi seorang gadis dari Riyadh yang tidak lama kemudian ia ceraikan.

Menetapnya Muhammad Asad di Mekah dan Madinah memiliki dampak yang mendalam dalam pemahamannya tentang Islam. Itulah masa di mana transformasi Leopold Weiss menjadi Muhammad Asad bukan sekadar perubahan nama, namun juga secara watak dan kepribadian yang sebelumnya seorang warga dengan tipikal Eropa menjadi sosok beratribut serba Arab-Islam.

Akan tetapi kontribusi terbesarnya dalam mendorong Islam menjadi kekuatan politik justru terjadi di negara yang saat itu tidak tampak di peta, Pakistan.

Buku kedua Muhammad Asad, Islam at the Crossroads, langsung mendunia tidak lama setelah menempati rak-rak toko buku. Hal tersebut antara lain karena sisi menarik Muhammad Asad yang berlatar belakang warga Eropa dengan lantang mengkritik dunia Barat, membela Islam dengan gigih, menjunjung tinggi Nabi Muhammad sebagai manusia paling mulia, dan menempatkan Islam sebagai satu-satunya jalan keluar dari kegelapan.

Sisi menarik lainnya adalah, sebelum lahirnya buku tersebut, hampir tidak ada upaya dari seorang cendekiawan dengan jelas dan tegas dalam mendudukkan ketidak-sukaan Eropa terhadap Islam. Sebagai warga negara Eropa, dengan bahasa yang halus Muhammad Asad menegaskan bahwa seorang muslim tidak seharusnya terpesona dengan capaian-capaian teknologi Barat. Sangat bagus bila hendak mengadopsi ilmu pengetahuan dari Barat sebanyak mungkin, dengan catatan tetap mengesampingkan gaya berpikir mereka yang kering spiritual.



Versi Arab dari Islam at the Crossroads (Islam di Persimpangan Jalan), seperti halnya The Road to Mecca, buku ini salah satu karya penting pemikiran Islam terkini

Cara pandang Muhammad Asad seperti ini sangat relevan pada waktu itu, yakni ketika hampir seluruh negara Muslim dalam cengkeraman kolonial Barat. Jangan berkecil hati oleh kemelaratan, ucap Muhammad Asad pada seorang kawannya, butuh seribu tahun bagi kekhalifahan untuk ambruk, di sisi lain kekaisaran Romawi lenyap dalam seratus tahun.

Jika umat Islam senantiasa mengikuti prinsip-prinsip Islam yang menekankan seluruh pemeluknya menyibukkan diri belajar ilmu pengetahuan dan saling berguru, tulisnya, maka umat Islam hari ini tidak akan melongo menatap kemajuan yang dilahirkan rahim dunia Barat.

Tidak ada yang nyana buku tersebut bakal sangat disanjung dan mempengaruhi penyair Muhammad Iqbal, sarjana sekelas Al-Maududi, hingga pemikir Mesir bernama Sayyid Quthub.

Hingga tiba pertengahan 30-an, Muhammad Asad secara aktif terjun dalam beberapa proyek pengembangan pendidikan Islam yang tidak memandang ilmu pengetahuan sebelah mata, namun juga layak disejajarkan dengan pengajaran topik-topik keagamaan.

Pada kurun ini pula Muhammad Asad mengemban tugas berat menerjemahkan Shahih Bukhari. Bukan tugas ringan tentunya, tidak hanya materi terjemahannya banyak, namun juga harus dibarengi menelaah ribuan catatan sejarah. Namun sayang, Muhammad Asad gagal merampungkannya, bahkan sebagian besar yang sudah digarapnya hilang di tengah-tengah konflik India-Pakistan pada tahun 1947.

Sepanjang waktu Muhammad Asad berada di bawah radar mata-mata intelijensi Inggris, gerak-geriknya juga tercatat bahkan sejak sebelum kedatangannya ke India.

Meletusnya Perang Dunia II pada tahun 1939 memberi Inggris alasan untuk menangkap Muhammad Asad yang secara hukum masih warga negara Austria. Pendudukan Jerman atas Austria menjadikan Muhammad Asad musuh negara, meskipun ia tengah berada di India.

Selama enam tahun berikutnya, Muhammad Asad tinggal dari satu kamp ke kamp yang lain dalam pengamanan ketat, menghindari ancaman para pendukung Nazi. 

Muhammad Asad memperoleh kabar bahwa ayah dan saudarinya dikirim tentara Nazi ke kamp konsentrasi di Jerman lantaran identitas yahudinya. Muhammad Asad berupaya mati-matian melakukan lobi dan menyusun dokumen supaya keluarganya bisa dibebaskan.

Itulah saat paling menyedihkan sepanjang hidup Muhammad Asad. Talal, anak semata wayangnya, berujar bahwa itulah pertama dan terakhir kalinya ia melihat air mata sang ayah.

Setelah dibebaskan pada tahun 1946, Muhammad Asad mendedikasikan waktunya untuk merumuskan politik Islam berikut konstitusi yang menaunginya, karena sampai saat itu politisi Muslim belum memiliki acuan ideal di era modern. Hampir seluruh buku yang terbit sebelum era 40-an, ketika menyoal politik, melulu fokus pada sistem khilafah. Tidak demikian Muhammad Asad, ia salah satu figur pertama yang mendudukkan politik Islam dalam spektrum yang lebih luas, ia menekankan umat Islam perlu rumus baru dalam berpolitik di zaman modern.

Dengan tegas Muhammad Asad mendukung sistem demokrasi terpilih. Ia cakap mengemukakan dalil-dalil Islam dalam mendukung gagasannya, menyangkal mereka yang terang-terangan beranggapan bahwa demokrasi tidak sejalan dengan Islam.

Setelah pemerdekaan Pakistan pada tahun 1947, Muhammad Asad sempat mengepalai Departemen Rekonstruksi Islam yang bertujuan memastikan bahwa kebijakan-kebijakan pemerintah sejalan dengan prinsip-prinsip Islam. Namun karena perdana menteri pertama Pakistan, Liaquat Ali Khan, melihat Muhammad Asad  memiliki potensi yang besar dalam menjalin hubungan dengan dunia luar, walhasil ia ditugaskan di kementrian luar negeri.


Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: