Tokoh

Pionir Fikih Lingkungan, Fazlun Khalid: Rela Lepas Zona Nyaman Demi Islamekologi

24 Feb 2021 12:00 WIB
1313
.
Pionir Fikih Lingkungan, Fazlun Khalid: Rela Lepas Zona Nyaman Demi Islamekologi

Anda meyakini sepenuhnya bahwa agama Anda, Islam, peduli dan turut membantu menjaga kelestarian lingkungan. Bagaimana Anda menjelaskan hal ini? Apakah Al-Quran menginstruksikan umat Islam untuk melindungi ekosistem atau mungkin lebih jauh lagi menganjurkannya menjadi aktivis lingkungan?

Fazlun Khalid memunyai jawaban singkat dan tepat untuk pertanyaan semacam di atas, barangkali bisa dijadikan bekal umat Islam zaman now dalam menyembuhkan borok terparah zaman ini, pemborosan. Borok yang menjadi ciri khas sekaligus ikon dari gaya hidup modern, yang mana menjadi sumber utama krisis terbesar zaman ini, krisis lingkungan hidup.

Al-Quran, papar Fazlun Khalid, menetapkan prinsip-prinsip etika (akhlak) dengan cukup mendasar. Hal ini ditafsirkan secara langsung oleh Nabi Muhammad dalam perilaku beliau. Misalnya, Al-Quran dengan tegas mengatakan dalam Surah al-An’am ayat 141: "Allah tidak mencintai para pemboros." Ayat ini dicontohkan oleh Nabi ketika beliau menegur salah satu sahabatnya yang membuang air sisa dari wadahnya seusai bersuci. Nabi memerintahkannya untuk mengembalikan kelebihan air tersebut ke sungai sehingga orang lain yang jauh di hilir sana dapat memanfaatkannya.

Tentu ada banyak ayat lain dalam Al-Qur’an yang menghimbau umat manusia supaya senantiasa menjaga dan melestarikan lingkungan hidup. Namun lantaran hampir seluruh nonmuslim melihat Islam bukan hasil mempelajari Al-Qur’an, melainkan melihat perilaku dan kepribadian umat Islam, maka menurut Fazlun Khalid yang terpenting adalah bagaimana aksi nyata umat Islam dalam campur tangannya menjaga dan melestarikan alam lingkungan.

Tradisi agama sudah ada jauh sebelum modernitas, tentu sudah lama mengakar sebelum revolusi industri. Tidak ada bukti bahwa tradisi keagamaan menyebabkan pencemaran lingkungan secara global atau memperbanyak jejak karbon. Apa yang dipraktikkan masyarakat beragama saat ini adalah apa yang telah dipraktikkan nenek moyang mereka selama berabad-abad, perbedaannya adalah saat ini manusia hidup di zaman transportasi massal, komunikasi massa, berikut seabrek tetek bengek yang lahir dari rahim modernitas. Oleh karenanya apapun yang diperbuat manusia zaman sekarang memiliki dampak terhadap lingkungan jauh lebih signifikan dibanding pada masa-masa pramodern.

Pada tahun 1994, Fazlun Khalid mendirikan Yayasan Islam untuk Ilmu Ekologi dan Lingkungan, atau IFEES (Islamic Foundation For Ecology and Environmental Sciences), di Birmingham, Inggris. Tapi lama sebelum itu ia sudah mapan bekerja di kementerian dalam negeri di Inggris. Apa yang membuat Fazlun Khalid meninggalkan zona nyaman politiknya untuk kemudian fokus terhadap isu-isu lingkungan dengan menawarkan nilai-nilai Islam?

That’s a long story, ucap Fazlun Khalid, seingatnya tidak ada satu momen spesial yang membuatnya berubah arah. Singkat kata, ia lahir di Sri Lanka pada tahun 1932 dan datang ke Inggris pada 1953 untuk bergabung dengan Angkatan Udara Britania Raya atau RAF (Royal Air Force) karena ingin menjadi insinyur penerbangan. Ia juga terlibat dalam aktivitas serikat pekerja setelah meninggalkan RAF pada tahun 1962, selain itu ia juga memiliki keterlibatan dalam perselisihan industri yang melibatkan buruh imigran baru dan manajemen yang kurang rapih.

Aktivitas-aktivitas tersebut, diakui Fazlun Khalid telah mempolitisirnya sehingga ia memutuskan pensiun dini dan beralih profesi menjadi pelayan masyarakat. Ia menghabiskan waktu singkat di universitas sembari menjadi pekerja sosial. Baru pada tahun 1968, ia direkrut sebagai petugas konsiliasi oleh Dewan Relasi Ras (Race Relations Board), kemudian juga sebagai Komisi Persamaan Ras (Commission for Racial Equality).

Fazlun Khalid semakin terpolitisasi oleh organisasi-organisasi tersebut, namun pengalamannya di dalam sistim mengantarkannya pada sebuah konklusi bahwa masalah yang berkaitan dengan ras, kemiskinan, dan hutang di Dunia Ketiga memiliki akar yang sama, yakni dominasi politik.

Pada saat yang sama, Fazlun Khalid menghadiri pertemuan yang diselenggarakan oleh organisasi lingkungan seperti World Wide Fund (WWF). Dalam salah satu pertemuan ini di awal 1980-an ia menuai sebuah pertanyaan: “Apa yang Islam katakan tentang lingkungan?”

Pada saat itu ia tidak memiliki jawaban, tetapi itulah yang mendorongnya secara jauh melakukan penelitian yang antara lain belajar langsung kepada para sarjana Al-Quran dan pakar teologi Islam.

Tak satu pun jawaban dari para pakar tersebut cukup memuaskan Fazlun Khalid setelah ia sesuaikan dengan kebutuhan zaman, hal yang justru membuatnya terjun lebih jauh lagi.

Fazlun Khalid tercatat meninggalkan posisi seniornya di kementerian ketika berusia 58 tahun kemudian kembali ke universitas untuk meneliti dasar-dasar lingkungan sesuai ajaran Islam. Pada tahun 1994, ia mendirikan Islamic Foundation for Ecology and Environmental Sciences (IFEES). Dalam bakti terhadap lingkungan tersebut, IFEES misalnya mengerjakan program penghijauan, antara lain bersama pelajar-pelajar muslim di Indonesia

Salah satu keberhasilan terbesar Fazlun Khalid bersama IFEES-nya adalah proyeknya di Zanzibar. Yaitu ketika ia mendapat telepon dari opsir program CARE International di Zanzibar pada tahun 1999. Di sana, ketika itu para nelayan tidak mampu menghidupi keluarganya karena penangkapan ikan yang berlebihan sebelum-sebelumnya, juga lantaran sumber daya yang semakin menipis. Oleh karenanya mereka semakin membiasakan berburu ikan dengan cara melemparkan dinamit ke terumbu karang. Tim IFEES berkesempatan mendatangi mereka dan melakukan lokakarya berdasarkan Al-Quran selama dua hari.

Dalam waktu 48 jam tersebut IFEES berhasil mencapai apa yang tidak dapat dilakukan organisasi internasional dalam waktu empat tahun, yaitu menghentikan para nelayan membombardir terumbu karang.

Apa sebenarnya yang membuat para nelayan tersebut mengubah haluan? Fazlun Khalid menjelaskan bahwa suatu ketika seorang nelayan berkata kepadanya: “Kita harus mematuhi hukum Pencipta sebagai bagian dari ciptaan, sebaliknya kita tidak harus mematuhi hukum pemerintah.” Tentu saja IFEES tidak mendorong masyarakat untuk melanggar hukum, namun cukup menyadari bahwa kandungan Al-Quran bisa berdampak kuat pada manusia.

Kepada seorang wartawan bernama Franziska Badenschier, Fazlun Khalid memberikan metafora yang menarik, yakni orang-orang dari agama yang berbeda duduk di satu ruangan kemudian tiba-tiba atapnya runtuh melukai kepala mereka. Apakah seseorang dari mereka akan meninggalkan ruangan sambil berkata: "Kamu Katolik, kamu Hindu, apa yang terjadi di sini bukan urusanku, jangan halangi aku pergi!"?

Kita semua tidak memiliki pilihan lain kecuali berbagi dalam planet yang sama, imbuh Fazlun Khalid, Jadi kita perlu berkomunikasi dan bekerja sama.

Fazlun Khalid memimpin konferensi tentang agama dan konservasi alam di Jepang pada tahun 1995, dihadiri oleh sembilan tradisi keagamaan yang berbeda. Konferensi tersebut sampai pada beberapa poin yang tidak memberatkan satu sama lain.

Semua orang ingin mewariskan bumi ini untuk generasi-generasi berikut dalam kondisi yang lebih baik daripada yang saat ini tampak. Apa yang akan kita wariskan? Pertanyaan semacam ini bisa membuat siapa saja mendadak peduli terhadap lingkungan. Tentu, ini adalah nasihat yang sifatnya umum, bukan religius secara spesifik. Tetapi Al-Quran juga mengatakan dalam Surah Ghafir ayat 57: "Sungguh penciptaan langit dan bumi itu lebih besar daripada penciptaan manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."

Setiap hal yang dilakukan seseorang akan berdampak pada orang lain. Jika saya menebang pohon di Inggris, ucap Fazlun Khalid, cepat atau lambat seseorang di Jerman akan merasakan konsekuensi dari tindakan saya; atau jika seseorang di China menanam pohon, kelak seseorang di Eropa akan merasakan faedahnya.

Setiap individu harus mengubah gaya hidupnya karena konsekuensi dari kehidupan modern yang bersifat global dan tidak jarang mematikan. Manusia harus mengurangi gaya hidup dengan emisi setinggi ini; semua musti mengurangi konsumsi dan transportasi. Jika hal-hal kecil tersebut tidak lekas diupayakan, itu sama halnya manusia beramai-ramai bunuh diri massal.

Walang Gustiyala
Walang Gustiyala / 48 Artikel

Penulis pernah nyantri di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Al-Hikmah Purwoasri, Walisongo Sragen, Al-Ishlah Bandar Kidul, Al-Azhar Kairo, dan PTIQ Jakarta. Saat ini mengabdi di Pesantren Tahfizh Al-Quran Daarul ‘Uluum Lido, Bogor.

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: