Seorang pemuda Perancis mengirim surat kepada ayahnya di Paris dari kota Kordoba saat masih dikuasai Dinasti Umayyah. Sebagaimana diceritakan dalam buku At Tafawwuq al Ilmi fi al Islam (Keunggulan Saintifik dalam Islam) karya Amir Ja’far Al Arsyadi, surat itu ditulis saat si pemuda sedang menjadi pasien dari sebuah bimaristan (rumah sakit) di kota tersebut.

Dalam surat itu si pemuda melarang ayahnya yang bermaksud mengiriminya sejumlah uang. Ini karena bimaristan tempat ia dirawat memberikan pelayanan perawatan gratis. Bahkan, pasien yang telah selesai dirawat akan diberi pakaian baru dan sejumlah uang agar tidak perlu bekerja sementara waktu.

Si pemuda melanjutkan bahwa ia bisa ditemui di bagian bedah dan perawatan sendi, jika si ayah bermaksud menjenguk. Menurutnya, tempat ini berada di gedung sebelah selatan, berurutan dengan bagian pertolongan pertama dan bagian diagnosis penyakit. Tempatnya juga bersebelahan dengan perpustakaan, ruang pertemuan dan kuliah kedokteran yang sekaligus berfungsi sebagai ruang baca.

Si pemuda juga bercerita tentang ruang perawatan penyakit wanita di mana laki-laki dilarang masuk. Ia pun bertutur tentang ruang pemulihan yang dilengkapi perpustakaan dan menyediakan alat-alat musik.

Bimaristan itu sangat bersih dan perlengkapan tidurnya sangat nyaman, ujar si pemuda. Air bersih selalu tersedia di kamar melalui saluran pipa, sementara penghangat untuk musim dingin pun tersedia. Menurutnya lagi, makanan terjamin dengan menu lezat sehingga sebagian pasien pun seakan enggan cepat pulang.

Kisah di atas adalah sepenggal catatan sejarah mengenai bimaristan, istilah untuk rumah sakit dalam perjalanan dinasti Islam masa lampau. Istilah ini berasal dari Bahasa Persia, gabungan antara kata bimar (orang sakit) dan stan (tempat), yang kadang disebut juga dengan bimarastan atau maristan saja.

Dinasti Turki Usmani punya istilah sendiri untuk rumah sakit, yaitu darussyifa yang artinya adalah rumah perobatan. Saat ini negara-negara Arab sudah tidak lagi menyebut rumah sakit dengan kata bimaristan, namun dengan istilah mustasyfa.

Cikal Bakar Rumah Sakit

Cikal bakal rumah sakit dalam dunia Islam telah ada di zaman Rasulullah Muhammad SAW. Saat terjadinya Perang Khandaq, Rasulullah memberi instruksi untuk didirikannya tenda perawatan bagi sahabat yang ikut berperang dan menderita luka.

Saat ekspansi Islam menyentuh Persia di masa kekhalifahan Umar bin Al Khattab (634-644 M/13-23 H), pasukan Muslim berhasil menguasai kota Jundisapur yang memiliki sebuah bimaristan. Kota yang kini masuk wilayah negara Iran ini, saat itu terkenal sebagai kota para ilmuwan, termasuk para dokter. Geliat keilmuan di kota ini tak lepas peran para ilmuwan dari wilayah Romawi Bizantium yang tertindas di abad 5-6 Masehi lalu mengungsi dan diterima oleh penguasa Persia.

Dinasti Umayyah mulai memiliki bimaristan sendiri yang dibangun di Damaskus pada masa pemerintahan Khalifah Al Walid bin Abdul Malik (705-715 M / 86-96 H). Namun ada pendapat yang menganggap bahwa bangunan tersebut tidak benar-benar merupakan rumah sakit, melainkan sekadar tempat karantina penyandang penyakit khususnya lepra. Pendapat terakhir ini menyatakan bahwa bimaristan pertama dalam Islam dibangun oleh Dinasti Abbasiyah di Baghdad pada masa pemerintahan Khalifah Harun Ar Rasyid (786-809 M/170-193 H).

Terlepas dari perbedaan pendapat di atas, bimaristan kemudian makin bermunculan pada dinasti-dinasti Islam berikutnya. Bimaristan dapat ditemukan berbagai wilayah kekuasaan dinasti Islam seperti Syam, Iraq, Hijaz, Mesir, Maghrib, Andalusia danTurki.

Dr. Ahmad Isa Bik memaparkan bahwa bimaristan telah beroperasi dengan sistem yang teratur. Dalam buku Tarikh al Bimaristanat fi al Islam (Sejarah Bimaristan-bimaristan dalam Islam), ia menjelaskan tentang pembagian ruang-ruang bimaristan untuk layanan berbeda seperti penyakit dalam, mata, tulang maupun cedera dan luka luar. Bagian penyakit dalam masih dibagi lagi untuk penyakit demam, jiwa dan seterusnya. Selain para dokter, para ahli farmasi juga bertugas di bagian farmasi yang disebut syarabkhana.

Selain sebagai pusat perawatan dan perobatan, bimaristan juga berfungsi sebagai tempat pendidikan para dokter maupun ahli farmasi. Bersama para dokter yang mengajar, siswa mengikuti pembelajaran dan ujian. Pengesahan akhir keahlian dilaksanakan melalui pengambilan sumpah Hippokrates (dalam Bahasa Arab disebut Abuqrat) setelah siswa lulus uji standarisasi dari lembaga hisbah yang petugasnya disebut muhtasib.

Selain bimaristan yang bersifat permanen, terdapat juga bimaristan bergerak yang biasa beroperasi dalam kondisi peperangan. Bimaristan bergerak ini membawa serta beragam keperluan hingga membutuhkan pengangkut tidak kurang dari 40 ekor unta.

Bimaristan tidak dibatasi hanya untuk pasien Muslim saja, sebagaimana tidak dibatasi untuk golongan sosial maupun ras tertentu. Ahli kedokteran non Muslim juga tercatat pernah menjadi pejabat bimaristan sebagaimana terjadi pada Dinasti Abbasiyah.

Rumah Sakit VVIP

Salah satu bimaristan yang termasyhur dalam sejarah Islam adalah Bimaristan An Nuri di kota Damaskus. Bimaristan ini didirikan oleh Nuruddin Zanki, penguasa Dinasti Zankiyah yang bertahta antara tahun 1146 M / 541 H hingga 1174 M / 569 H.

Khalil bin Syahin Ad Dzahiri, sejarawan Mesir pengarang ‘Kasyf al Mamalik fi Bayan at Turuq wa al Masalik’ punya cerita tentang Bimaristan An Nuri saat ia sedang berada di Damaskus pada tahun 1427 M/831 H. Di kota itu ia bertemu seorang teman yang juga bukan orang Damaskus dan singgah dalam rangka perjalanan ibadah haji.

Si teman tadi berkesempatan masuk melihat-lihat Bimaristan An Nuri dan terkesan dengan segala fasilitas pelayanan pasien termasuk makanan lezatnya. Lalu ia pun pura-pura sakit agar bisa menjadi pasien bimaristan itu dan menikmati segala fasilitasnya.

Ia pun diperiksa kesehatannya. Bimaristan lalu menerimanya menjadi pasien dan memberinya segala fasilitas termasuk hidangan lezat. Setelah tiga hari berselang, si pasien pura-pura ini mendapat surat keterangan dari bimaristan yang berisi tulisan ‘seorang tamu tidak akan tinggal lebih dari tiga hari’. Ternyata dokter yang memeriksanya sesungguhnya sejak awal sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Di kota Kairo, Mesir, juga terdapat sebuah bimaristan yang masyhur yaitu Bimaristan Al Mansuri. Bimaristan ini dibangun oleh Sultan Al Mansur Qalawun, penguasa Dinasti Mamluk yang memerintah antara tahun 1279 M / 678 H sampai 1290 M / 689 H.

Hal yang membuat Bimaristan Al Mansuri menjadi terkenal adalah kapasitasnya yang mampu memuat 8000 pasien. Masih di satu kompleks yang sama dengan bimaristan ini, sang sultan juga membangun madrasah berbasis fikih empat mazhab dan membangun tempat pemakaman untuk dirinya sendiri.

Sebagaimana ditemui pada bimaristan yang lain, fasilitas lengkap juga disediakan oleh Bimaristan Al Mansuri. Pasien yang dirawat mendapat layanan gratis, yang diperbolehkan pulang mendapat uang saku dan yang meninggal ditanggung proses pemulasaraannya.

Salah satu ulama serba bisa, Jalaluddin As Suyuthi, yang lahir di tahun 1445 M/849 H punya sebuah karya tentang sejarah Mesir dan Kairo yang berjudul Husn al Muhadharah fi Tarikh Misr wa al Qahirah. Dalam karya ini, As Suyuthi menyinggung Bimaristan Al Mansuri dalam ulasan pendek namun memuat fakta menarik.

As Suyuthi menulis bahwa saat bimaristan sekaligus madrasah ini telah selesai dibangun, seorang penyair sufi agung berkesempatan hadir  memasuki komplek bangunan ini. Ia adalah Muhammad bin Sa’id Al Bushiri, pengarang Qasidah Al Burdah, yang hidup di Mesir sezaman dengan Sultan Al Mansur Qalawun.

Karena terkesan dengan komplek bangunan yang ia masuki, Al Bushiri pun mempersembahkan syair qasidah puji-pujian kepada sang sultan, yang bait pertamanya berbunyi:

أنشأت مدرسة و مارستانا # لتصحّح الأديان والأبدانا

“Engkau dirikan madrasah dan maristan – Tuk pulihkan agama dan segenap badan.”