Salah satu hal yang saya syukuri dalam hidup adalah kesempatan untuk membaca manaqib, mencicipi karangan mendiang Imam Abdul Halim Mahmud ra. (w. 1978 M) sembari mengenang jasa besar serta sumbangsihnya pada dunia islam.

Sosok Sufi yang bertarekat syadzuliyyah itu, merupakan ulama yang paling disegani semasa hidupnya hingga kini. Bahkan diberi julukan Imam Ghazalinya abad-20, saking keluasan ilmunya, terutama di bidang filsafat dan tasawuf.

Walaupun demikian, senyatanya beliau tetap memilih hidup dengan sangat amat sederhana, sebagaimana banyak dikenang oleh ribuan muridnya, sekalipun memiliki jabatan prestisius sebagai pimpinan tertinggi di Al-Azhar Mesir.

Bisa dibilang ulama-ulama kaliber dunia beberapa dekade terakhir, baik di Mesir maupun di berbagai belahan dunia, rata-rata masih muridnya. Termasuk deretan guru-guru kita semua, tokoh-tokoh bangsa kita yang antara lain; Gus Dur, Gus Mus, Al-Habib Muhammad Quraish Shihab, Kyai Syukri Gontor serta lainnya yang semasa. Sewaktu guru-guru kita itu masih bergelut dengan buku selama di Al-Azhar, Mesir.

***

Hari-hari di bulan Ramadhan tahun 1973 M., shalawat an-Nurniyyah atau lebih masyhur dengan Shalawat Faraj, adalah wirid utama sang Al-Imam Al-Akbar Syeikh Abdul Halim Mahmud dalam khalwatnya. Hingga akhirnya mendapatkan isyarat langit, sekaligus konfirmasi langsung dari Baginda Nabi Muhammad Saw. untuk merebut kembali semenanjung sinai dari tangan penjajah.

Jelang perang di 10 Ramadhan 1973M., setidaknya Presiden Anwar Sadat mendapat wasiat dan perintah langsung dari tiga sesepuh Mesir yang terkenal dengan kewaliannya, saking mudahnya perjumpaan mereka dengan Baginda Nabi. Seolah, apa-apa yang menjadi persoalan umat, masalah bangsa dan negara yang tak kunjung mendapatkan solusi, selalu dihaturkan terlebih dulu, serta meminta petunjuk kanjeng nabi. Begitulah yang kerapkali terjadi di lingkungan ulama-ulama Al-Azhar.

Kisah-kisah unik dan agak klenik begini sangat masyhur di kalangan masyarakat Mesir, apalagi para ulamanya. Hampir-hampir setiap persoalan genting selalu melibatkan pertolongan baginda nabi Saw.

Ketiga sesepuh yang masih sangat disegani tersebut antara lain;

Pertama, Imam Abdul Halim Mahmud, selaku Syeikhul Al-Azhar. Kedua, Imam Muhammad Mutawalli Sya'rawi. Dan yang Ketiga, Syeikh Hijab. Walaupun ada peranan para ulama lain. Namun yang paling dominan dan berpengaruh pada keputusan perang adalah ketiga wali tersebut.

Syeikh Hijab jelas agak jarang dikenal, tapi bagi warga kota Thanta provinsi Gharbeya, Mesir semua orang tahu. Syeikh Hijab jugalah yang langsung menyampaikan salam dan pesan dari Sidi Ahmad Badawi Thanta kepada Presiden Sadat. Isi pesan itu kurang lebih:

“Tuan Presiden, anda mendapat salam dari Sidi Ahmad Badawi ra., dan beliau memberi isyarat bahwa nanti kita pasti akan menang dan berhasil merebut kembali tanah Sinai dari serdadu Israel.”