Turots adalah peninggalan para ulama terdahulu dalam menjawab problematika yang ada sekaligus sebagai panduan bagi generasi umat selanjutnya untuk menapaki hidup sesuai dengan garis yang sudah ditentukan. Begitulah jalan hidup para ulama, memberi pencerahan di masa hidup dan bahkan setelah wafatnya. Benarlah apa yang disampaikan Hadhrotur Rasulullah saw.:

العلماء ورثة الأنبياء

“Ulama adalah para pewaris nabi-nabi.”              

Di antara para ulama yang banyak meninggalkan turots kepada kita adalah Imam asy-Suyuthi. Dari kajian berat hingga kajian ringan beliau banyak menulis untuk kita. Sebutlah Al-Asybah wa An-Nazhair, karya beliau tentang Ilmu Qawaid Fiqih yang marak dikaji di pesantren-pesantren; Al-Hawi li Al-Fatawi setebal dua jilid pun banyak berada di perpustakaan-perpustakaan lembaga pendidikan agama Islam di negeri ini, dan lain-lain yang sangat masih banyak lagi peninggalan beliau.

Di antara catatan tentang jumlah karya-karya beliau adalah 37 judul karya dengan jumlah jilid yang beragam di dalam kajian Tafsir dan Ilmu Tafsir, 163 judul karya di dalam kajian Hadits, 20 judul karya di dalam kajian Ilmu Mushtholah Hadits, 68 judul karya di dalam kajian Ilmu Fiqh, 16 judul karya di dalam kajian Ilmu Ushul Fiqh, Ushuluddin dan Tasawuf, 51 judul karya di dalam kajian ilmu gramatikal arab dan lain-lain. Kurang lebih tercatat 465 karya beliau di dalam lintas keilmuan. Sungguh hidup yang penuh berkah.

Di antara karya beliau yang ratusan judul di atas, ada dua tulisan beliau yang khusus membahas tentang memotong kuku, yaitu:

1. Al-Isfar 'an Qalm al-Adzfar dan

2. Azh-Zhafar bi Qalm adz-Dzufar.

Dua kitab ini fokus di dalam bahasan memotong kuku. Dimulai dari penjelasan bahwa memotong kuku ini adalah salah satu dari fitrah kita sebagai manusia. Lalu beliau berbicara tentang Nabi Ibrahim sebagai sosok Nabi yang terkhitabi dengan 10 ragam Thaharah (bersuci); 5 di kepala dan 5 di anggota tubuh yang lain.

Kemudian Imam as-Suyuthi mengajak kita menyelam dalam ragam hadits tentang tata cara memotong kuku, waktu pemotongannya dan beberapa fadhilah yang ada. Beliau tidak hanya menyajikan hadits lalu dilepas begitu saja tapi beliau juga menyajikan data sanad yang ada dan dipungkasi dengan tarjih yang beliau pilih. Di samping menyajikan hadits, Imam as-Suyuthi pun juga menyajikan ragam pendapat ulama terkemuka tentang pemahaman terhadap hadits-hadits yang ada.

Secara umum yang kami tangkap dari dua kitab ini adalah:

1. Memotong kuku adalah bagian dari fitrah kita sebagai manusia,

2. 40 hari adalah batas maksimal untuk segera memotong kuku kembali,

3. Ulama memberi tata cara memotong kuku yang afdhal menurutnya, di antaranya model Imam Ghozali.

Beliau memberi kaifiyyah (tata cara) dengan memulai memotong kuku jari telunjuk tangan kanan, lalu jari tengah, jari manis, jari kelingking lalu pindah ke kelingking tangan kiri hingga ibu jari tangan kiri dan diakhiri dengan ibu jari tangan kanan.

Untuk kaki, beliau menganjurkan memotong kuku jari kelingking kaki kanan hingga ibu jari kaki kanan lalu jari kelingking kaki kiri hingga diakhiri dengan ibu jari kaki kiri,

4. Batas memotong kuku diusahakan hingga batas terdalam asal tidak menimbulkan bahaya.

5. Setelah memotong kuku, tanamlah kuku tersebut karena bisa jadi kuku akan digunakan media penyihir untuk melakukan sihirnya.

Tentu masih banyak pelajaran, hikmah dan mutiara dalam dua kitab ini. Baca dan temukan. Ramadhan Karim.