Fenomena bullying atau perundungan semakin sering muncul di lingkungan sekolah dan masyarakat kita. Padahal, dalam pandangan Islam, menghina, mengejek, dan merendahkan orang lain termasuk dosa besar yang dapat menghapus keberkahan iman dan ukhuwah.
Khutbah Jumat berjudul Dosa Besar Bullying dan Peran Kita Sebagai Muslim ini mengingatkan umat Islam agar menjauhi perbuatan yang menzalimi sesama, baik dengan lisan, tindakan, maupun melalui media sosial. Islam menuntun kita untuk menjaga kehormatan orang lain sebagaimana kita ingin kehormatan kita dijaga.
Melalui khutbah ini, para jamaah akan diajak merenungi kembali bagaimana Islam memuliakan manusia tanpa memandang status, harta, atau rupa. Bullying adalah cermin dari lemahnya iman dan rusaknya hati. Sudah saatnya kita bersama-sama menegakkan nilai-nilai rahmat dan keadilan agar sekolah dan masyarakat kita menjadi tempat yang aman, penuh cinta, dan melahirkan generasi berakhlak Qurani.
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي كَرَّمَ الإِنسَانَ وَرَفَعَ قَدْرَهُ، وَجَعَلَ التَّقْوَى مِيزَانَ الْفَضْلِ بَيْنَ عِبَادِهِ، لَا الْحَسَبَ وَلَا الْمَالَ وَلَا الْجَاهَ
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الَّذِي عَلَّمَنَا مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ، وَحَذَّرَنَا مِنْ ظُلْمِ الْعِبَادِ، وَمِنِ احْتِقَارِهِمْ أَوِ الِاسْتِهْزَاءِ بِهِمْ
اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبارِكْ عَلى سَيِّدِنا مُحَمَّدٍ، وَعَلى آلِهِ وَأَصحابِهِ، وَمَن تَبِعَهُم بِإِحسانٍ إِلى يَومِ الدِّينِ. أَمّا بَعدُ:
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, aku berwasiat kepada kalian dan juga kepada diriku sendiri agar bertakwa kepada Allah dengan menjalan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, serta menjauhi akhlak yang buruk.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh ia telah memperoleh kemenangan yang besar.” (Surat al-Aḥzāb: 70–71)
Kaum muslimin rahimakumullah,
Pada hari ini kita akan berbicara tentang penyakit berbahaya dan sangat merusak; sebuah penyakit yang memecah belah hati, menumbuhkan kebencian dalam dada, dan menyalakan api fitnah. Itulah penyakit sikap mengejek dan memperolok-olok. Sebuah penyakit berbahaya, yang tidak pernah hilang di sepanjang zaman dan di setiap tempat. Tak ada yang benar-benar selamat dari bahayanya—baik individu, keluarga, masyarakat, bahkan hal-hal yang suci sekalipun.
‘Ibadallah, sesungguhnya Allah telah mengharamkan sikap mengejek dan merendahkan sesama hamba-Nya dengan pengharaman yang tegas. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۚ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, boleh jadi mereka yang direndahkan itu lebih baik daripada mereka (yang merendahkan). Dan jangan pula perempuan-perempuan merendahkan perempuan-perempuan lain, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik daripada mereka. Janganlah kalian mencela dirimu sendiri dan jangan saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Surat al-Ḥujurāt: 11)
Allah menggambarkan bahwa siapa pun yang tidak bertobat dari perbuatan mengejek dan mencela orang lain, maka ia termasuk orang zalim. Wahai orang yang gemar mengejek, menghina, atau menyebarkan ejekan, apakah engkau rela digolongkan sebagai orang zalim?
Imam Ibnu Jarir rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya:
“Sesungguhnya Allah melarang seluruh orang beriman agar tidak saling mengejek dalam bentuk apa pun dari makna ejekan. Maka tidak halal bagi seorang mukmin untuk mengejek mukmin lainnya — tidak karena kemiskinannya, tidak karena dosa yang pernah ia lakukan, dan tidak karena sebab lainnya.”
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Salah satu fenomena menyedihkan yang kini banyak terjadi di sekolah, bahkan di lingkungan yang mengaku religius, adalah bullying, atau perundungan—baik dalam bentuk kata-kata, tindakan, maupun pengucilan sosial.
Bullying bukan hanya masalah sosial, tetapi dosa moral dan agama. Nabi SAW bersabda:
المسلم أخو المسلم، لا يظلمه ولا يخذله ولا يحقره
“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya, tidak menelantarkannya, dan tidak meremehkannya.” (HR. Muslim)
Perhatikanlah, Rasulullah SAW menyamakan meremehkan orang lain dengan bentuk kezaliman. Maka bagaimana dengan yang menghina, memukul, mempermalukan, bahkan membuat orang lain trauma?
Bullying tidak hanya melukai fisik, tetapi juga menggores hati dan merusak mental korban. Banyak anak yang kehilangan semangat belajar, bahkan kehilangan kepercayaan diri dan rasa aman karena dirundung teman-temannya.
Sungguh, Nabi SAW mengajarkan agar setiap manusia merasa aman dari lisan dan tangan kita. Beliau bersabda:
المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده
“Seorang Muslim sejati adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Maka jika seorang pelajar, guru, atau bahkan orang tua melakukan atau membiarkan perundungan, sungguh ia telah kehilangan makna Islam dalam dirinya.
Ada beberapa hal penting yang bisa kita lakukan untuk mencegah dan mengatasi bullying. Sebagai orang tua, kita tidak boleh mengabaikan kasus perundungan andaikan dialami oleh anak-anak kita sendiri.
Kita harus memperhatikan dan memantau kondisi anak secara tenang dan penuh perhatian. Dengarkan cerita mereka tanpa emosi berlebihan atau terburu-buru menghakimi. Orang tua harus bisa menumbuhkan rasa percaya diri pada anak, membantu mengembangkan keterampilan sosial, dan melatih anak menghadapi situasi sulit dengan bijak—tanpa membuatnya merasa bersalah atas apa yang ia alami.
Sebab, menyalahkan anak hanya akan membuatnya semakin tertutup dan lemah, serta menghalanginya untuk bercerita tentang apa yang sebenarnya ia alami.
Lembaga pendidikan termasuk guru, juga perlu meningkatkan pengawasan atas interaksi dan pergaulan murid di sekolah. Murid perlu diajari untuk bersikap tegas dan cerdas dalam menghadapi situasi sulit. Mereka butuh support dan dukungan apabila mereka meminta bantuan kepada guru atau kepala sekolah.
Kaum muslimin rahimakumullah, fenomena perundungan bukan hanya tanggung jawab anak semata, tetapi merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Dukungan psikologis dan pendampingan adalah fondasi utama dalam melindungi anak dari rasa takut dan keterasingan, serta menjadi langkah awal dalam membentuk generasi yang sehat secara mental dan perilaku, dan mampu berinteraksi secara positif di tengah masyarakatnya. Ini adalah tugas kita di tengah-tengah anak kita, hadir sebagai penyedia rasa aman bagi mereka.
Allah SWT berfirman:
وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
“Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.” (Surah Al-Maidah: 2)
Bertakwalah kepada Allah, wahai kaum muslimin, dan berhati-hatilah jangan sampai kalian menjadi sebab bagi terluka atau terzaliminya salah seorang hamba Allah. Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan seorang Muslim adalah sesuatu yang haram (suci dan terjaga).
Jadilah orang-orang yang penyayang terhadap anak-anak, saudara-saudara, dan para murid kalian. Jadilah teladan yang baik di rumah, di sekolah, dan di lingkungan masyarakat. Sesungguhnya agama Islam bukan sekadar slogan, melainkan akhlak, kelembutan hati, dan keadilan dalam perkataan dan perbuatan.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khotbah Kedua
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ العالَمينَ، أحمَدُهُ حمدَ الشّاكرِ المُعتَبِرِ، وأشهَدُ أن لا إلهَ إلّا اللهُ الواحِدُ القَهّارُ، العَزيزُ الغَفّارُ، سُبحانَهُ هَدى العُقولَ بِبَدائِعِ حِكمِهِ، وَوَسِعَ الخَلائِقَ بِجَلائِلِ نِعَمِهِ، أَقامَ الكَونَ بِعَظَمَةِ تَجَلِّيهِ، وَأَنزَلَ الهُدى عَلى أَنبِيائِهِ وَمُرسَلِيهِ، وَأشهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبدُهُ وَرَسولُهُ، شَرَحَ صَدرَهُ، وَرَفَعَ قَدرَهُ، وَشَرَّفَنا بِهِ، وَجَعَلَنا أُمَّتَهُ، اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبارِكْ عَلى سَيِّدِنا مُحَمَّدٍ، وَعَلى آلِهِ وَأَصحابِهِ، وَمَن تَبِعَهُم بِإِحسانٍ إِلى يَومِ الدِّينِ. أَمّا بَعدُ:
عباد الله، عليكم بتقوى الله فاعلموا أن التقوى سببٌ في توفيق العبد في الفصل بين الحق والباطل، ومعرفة كل منهما؛ فقال تعالى: ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ ﴾
فصلوا – رحمكم الله – على خير البرية وأزكى البشرية محمد بن عبدالله صاحب الحوض والشفاعة، فقد أمركم الله بذلك، فقال في كتابه الكريم: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴾
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ كما صليت على سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد. اَللَّهُمَّ وَارْضَ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الَّذيْنَ قَضَوا بِالْحَقِّ وَكَانُوا بِهِ يَعْدِلُوْنَ سَادَ تِنَا أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَان وَعَلِىِّ وَعَنْ سَائِرِ أَصْحَابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعِيْن وَعَنِ التَّابِعِيْن وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلىَ يَوْمُ الدِّيْنِ.
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، برحمتك يا أرحم الراحمين.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْن وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّهُمَّ انْصُرْ مِنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ
اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَطَهِّرْ أَلْسِنَتَنَا، وَاهْدِنَا لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ عَنَّا سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ.
اللَّهُمَّ احْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا مِنَ التَّنَمُّرِ وَالظُّلْمِ وَالْفَسَادِ، وَاجْعَلْهُمْ قُرَّةَ عَيْنٍ لَنَا وَلِلْمُسْلِمِينَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ مَدَارِسَنَا مَنَارَاتٍ لِلْعِلْمِ وَالتَّقْوَى، وَمَوَاطِنَ لِلْأَخْلَاقِ وَالرَّحْمَةِ.
اللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ، رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.
وأقم الصلاة















Please login to comment