Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Menuju Kebahagiaan Akhirat (2)

Avatar photo
469
×

Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Menuju Kebahagiaan Akhirat (2)

Share this article
Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Menuju Kebahagiaan Akhirat (2)
Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Menuju Kebahagiaan Akhirat (2)

Al-Ghazali berpendapat bahwa mencapai kebahagiaan tidak mudah; itu hanya dapat dicapai jika seseorang dapat memahami empat pengetahuan. Ini terdiri dari empat tingkat pengetahuan: pertama, manusia mengetahui tentang diri mereka sendiri, kedua, mengetahui tentang Tuhan, dan ketiga, setelah menguasai pengetahuan yang pertama dan kedua, manusia naik lagi ke tingkat pengetahuan duniawi, dan yang terakhir adalah pengetahuan tentang akhirat.

Kata Gus Ulil, Salah satu bentuk pengetahuan atas diri sendiri adalah keadaan di mana seseorang harus memiliki kemampuan untuk memahami dan memahami siapa dirinya sendiri. Tujuan dari jenis pengetahuan ini adalah untuk mengetahui siapa dirinya sendiri dan Tuhannya.

Di sinilah, kata Gus Ulil, Al-Ghazali menyatakan bahwa yang dapat mengetahui diri sendiri adalah dirinya sendiri; namun, mengetahui diri sendiri tidak berarti mengetahui tangan, kaki, badan, wajah, atau anggota badan lainnya. Al-Ghazali dengan tegas menyatakan bahwa pengetahuan tentang hal-hal fisik seperti itu sama sekali tidak sama dengan pengetahuan tentang dirinya sendiri.

Pengetahuan akan diri sendiri, menurut Al-Ghazali, berarti pengetahuan yang dapat menjawab pertanyaan filosofis seperti siapakah aku? Dari mana saya berasal? Kemudian ke mana? Dan apa yang akan saya lakukan selanjutnya?

Ketika seseorang mencari pengetahuan tentang dirinya sendiri, jawaban yang harus diungkapkan dalam dirinya tidak boleh didasarkan pada nafsu hewani; sebaliknya, itu harus didasarkan pada perenungan, yang akan menjadi kunci untuk menemukan hakikat dirinya dan hubungannya dengan Tuhan.

Tingkat dan Tahapan Kebahagiaan Asli

Gus Ulil menegaskan bahwa seseorang harus melakukan beberapa hal untuk mencapai tujuan tersebut. Pertama, lakukan taubat. Taubat adalah proses di mana seseorang melakukan perbuatan yang dianggap menyimpang dari ajaran dan keridhaan-Nya. Dalam hal ini, taubat dapat didefinisikan sebagai proses di mana seseorang menyadari bahwa dia telah melakukan dosa.

Hal ini akan menyebabkan dia menyesal kemudian. Seseorang yang menyadari bahaya perbuatan dosa dapat mengalami penyesalan ini. Selanjutnya, posisi dosa tersebut berfungsi sebagai penghalang baginya dan Tuhannya.

Jika pengetahuan ini tertanam dalam dirinya, rasa sakit akan memengaruhi sikap seseorang sehingga mereka tidak lagi melakukan hal yang sama. Menurut Al-Ghazali, taubat adalah kewajiban, dan pendapatnya tetap sama dengan pendapat para ulama sebelumnya.

Kedua, bersabarlah. Sabar adalah ketika kondisi seseorang dapat mengidentifikasi beberapa struktur. Bangunan tersebut terdiri dari rentetan dari ilmu, ahwal, dan amal. Analogi untuk mengaktualisasikan sabar ini dapat digambarkan dengan analogi pohon: ilmu adalah inti, ahwal adalah ranting, dan amal adalah buah.

Dalam situasi seperti ini, kata Gus Ulil, sudah jelas bahwa posisi pohon dalam satu kesatuan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Semua upaya untuk menjauhkan satu sama lain akan gagal dan selalu akan menjauhkan manusia dari esensi sabar. Oleh karena itu, posisi sabar harus menjadi hal penting dalam setiap tindakan manusia.

Sepanjang hidupnya, manusia harus sabar dalam hal pemenuhan hidup dan beribadah. Artinya, sikap sabar ini harus menjadi motivasi dalam situasi dan kondisi apapun. Dengan demikian, kesabaran ini akan menghasilkan tindakan yang tidak melebihi batas apapun sebagai manusia.

Cara untuk mencapai tingkat sabar ini adalah dengan mengetahui dan menyadari bahwa sabar yang singkat akan menghasilkan kebahagiaan yang dua kali lipat lebih besar dari Tuhan. Ketika seseorang mampu mencapai tingkat kesabaran yang tinggi, kesabaran ini akan dibalas oleh Tuhan. Namun, ketika seseorang mampu mencapai tingkat kesabaran yang tinggi, mereka tidak perlu menceritakannya kepada orang lain dengan takabur.

Ketiga, fakir. Istilah “fakir” dapat mengacu pada keadaan seseorang yang selalu membutuhkan apa pun. Al-Ghazali menggambarkan kondisi ini sebagai keadaan manusia di hadapan Allah SWT. Dengan adanya keadaan ini, orang-orang belajar untuk berharap kepada Allah dan percaya bahwa hanya Allah yang maha kaya dan mampu memberikan segalanya.

Kata Gus Ulil, kelompok atau kondisi miskin inilah tingkat tertinggi di mana seseorang dapat mencapai kebahagiaan. Dengan kondisi ini, seseorang tidak akan mengubah sikap atau harapan mereka, dan mereka hanya akan bergantung pada Allah SWT.

Dalam berbagai situasi, baik seseorang memiliki harta atau tidak, ia akan selalu bergantung pada Allah SWT. Dalam keadaan ini, seseorang juga tidak akan merasa keberatan untuk kehilangan hartanya, baik dengan memberikankannya kepada orang yang membutuhkan. Seseorang menjadi tidak tamak dan terjerumus dalam pemenuhan kebutuhan duniawi daripada kebutuhan pribadi.

Keempat, zuhud. Yang secara sederhana berarti meninggalkan sesuatu dan beralih ke hal lain. Menurut Al-Ghazali, agar manusia dapat mencapai kebahagiaan yang sebenarnya, mereka harus melakukan zuhud dengan berkonsentrasi pada Allah SWT. dan menghindari kehidupan duniawi.

Hal ini, kata Gus Ulil, Jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat, kehidupan dunia tidak ada artinya sama sekali. Dan seseorang dapat merasakan kesenangan yang sempurna ketika dia benar-benar beribadah kepada Allah SWT. Hal ini dapat dicapai dengan melindungi hati dan seluruh tubuh dari segala sesuatu yang dapat merusak jiwa dan pikiran.

Kelima, tetap tenang (tawakkal). Menurut Al-Ghazali, tawakkal berarti bersandar hanya pada satu-satunya yang pantas dan layak untuk dihindari, yaitu Allah SWT. Ini adalah jenis pengetahuan manusia yang benar-benar percaya bahwa tidak ada yang dapat memberikan cahaya juga manfaat kepada dirinya selain Allah SWT.

Keenam, kerelaan (ikhlas). Pada dasarnya, ada alasan di balik tindakan manusia. Motivasi ini dapat berupa apa pun yang muncul dari diri manusia. Salah satu jenis keikhlasan adalah ketika suatu tindakan tidak dipengaruhi oleh alasan tertentu.

Syahdan. Dalam pemikirannya, kata Gus Ulil, Al-Ghazali menekankan bahwa setiap tindakan harus dilakukan dengan ikhlas, tanpa mengharapkan apa pun selain Allah SWT. Selanjutnya, Al-Ghazali mengatakan bahwa ikhlas adalah sikap yang dapat menghilangkan sikap itu sendiri.

Jika masih ada alasan di balik ikhlas, maka dia belum mencapai apa yang disebut ikhlas. Dan hanya Allah semata yang memiliki kekuatan untuk membebaskan perasaan ini. Ketika manusia sampai pada tahap ikhlas di dunia ini, mereka melakukan hal-hal karena tidak ada alasan lain selain Allah. Wallahu a’lam bisshawab.

Kontributor

  • Salman Akif Faylasuf

    Sempat nyantri di PP Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo. Sekarang nyantri di PP Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.