Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Kritik Kepada Ulama Jahat

Avatar photo
259
×

Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Kritik Kepada Ulama Jahat

Share this article
Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Kritik Kepada Ulama Jahat
Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Kritik Kepada Ulama Jahat

Kita tahu Imam Haris Al-Muhasibi adalah salah satu pembesar sufi yang mengkritik keras para ulama sufi (jahat) karena mereka menggunakan ilmunya untuk memperoleh kenikmatan dunia. Bahkan mereka menjual agamanya demi memperoleh kekayaan.

Kata Imam Haris Al-Muhasibi kepada para ulama jahat, “Wahai orang yang suka berfatwa tentang keutamaannya kaya yang selalu bersyukur! Celakalah engkau semuanya karena sudah berhujjah bahwa menjadi kaya seperti sahabat Abdurrahman bin Auf itu harus diikuti. Kalian tahu! Walaupun sahabat Abdurrahman bin Auf kaya raya, di akhirat kelak ia tidak berharap untuk menjadi kaya raya, cukup hanya sekadar kebutuhannya saja.”

Syahdan. Ketika sahabat Abdurrahman bin Auf wafat, orang-orang berkata, “Sesungguhnya kami cemas kepada sahabat Abdurrahman bin Auf karena meninggalkan harta yang banyak.”

Ka’ab kemudian berkata, “Maha suci Allah SWT. Apa yang kalian cemaskan dari Abdurrahman bin Auf? Bukankah dia termasuk sahabat yang shaleh, alim, suka bersedah dan selalu menyalurkan hartanya pada kebaikan?”

Kisah Ka’ab dan Abu Dar

Tanpa disadari, komentar Ka’ab sampai pada telinga sahabat Abu Dar. Mendengar hal itu, Abu Dar marah dan mencari Ka’ab. Saking marahnya, ia berniat memukulnya dengan tulang unta. Ka’ab pun merasa takut dan akhirnya masuk ke rumah sahabat Utsman bin Affan untuk meminta pertolongan.

Tiba-tiba setelah Abu Dar menemui Ka’ab di rumah Utsman, Ka’ab kemudian berlindung di belakang Utsman karena ketakutan. Abu Dar kemudian berkata kepada Ka’ab, “Menyingkirlah engkau wahai anak perempuan Yahudi. Apakah benar kamu berkata bahwa Abdurrahman bin Auf itu kaya raya dan tidak bermasalah? Kurang ajar kamu.”

“Asal kamu tahu ya!” Kata Abu Dar kepada Ka’ab. “Aku ini pernah bersama Nabi di Gunung Uhud, kemudian Nabi berkata kepadaku, “Wahai Abu Dar! Orang-orang yang memiliki harta banyak di dunia, maka di hari kiamat nanti termasuk orang-orang yang lama di hisab, sementara orang yang sedikit hartanya di dunia akan sedikit hisabnya.”

Nabi berkata lagi kepada Abu Dar, “Wahai Abu Dar! Aku tidak suka mempunyai emas setinggi Gunung Uhud itu yang aku sedekahkan di jalan Allah SWT. Aku lebih suka hidup sederhana. Kalaupun aku misalnya mempunyai emas sebanyak itu, saat mati aku hanya meninggalkan dua qirad saja. Ini pun aku juga tidak menyukainya.” Nabi berkata lagi, “Wahai Abu Dar! Kenapa kamu mau harta yang banyak sementara aku menghendaki harta yang sedikit?”

Setelah menceritakan sikap Nabi terhadap kekayaan, kemudian Abu Dar berkata kepada Ka’ab, “Nabi saja tidak menginginkan harta yang banyak, lalu kenapa kamu berkata bahwa harta Abdurrahman bin Auf yang banyak itu tidak bermasalah, wahai anak perempuan Yahudi?” Karena takut, Ka’ab pun tidak berani menjawab dan memilih diam.

Nabi Hidup Sederhana

Begitulah sikap Nabi terhadap dunia, kata Gus Ulil. Sedikit pun tidak pernah tergoda. Nabi selalu istikamah hidup dalam kesederhanaan meski tekanan datang dari segala arah. Sebuah teladan besar bagi para ulama dan umat Islam sepanjang zaman. Dalam Al-Qur’an surat Al-Furqan ayat 7-8 Allah SWT. berfirman:

وَقَالُوْا مَالِ هٰذَا الرَّسُوْلِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِيْ فِى الْاَسْوَاقِۗ لَوْلَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُوْنَ مَعَهٗ نَذِيْرًاۙ ۝٧ اَوْ يُلْقٰىٓ اِلَيْهِ كَنْزٌ اَوْ تَكُوْنُ لَهٗ جَنَّةٌ يَّأْكُلُ مِنْهَاۗ وَقَالَ الظّٰلِمُوْنَ اِنْ تَتَّبِعُوْنَ اِلَّا رَجُلًا مَّسْحُوْرًا ۝٨

Artinya: “Mereka berkata, “Mengapa Rasul (Nabi Muhammad) ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa malaikat tidak diturunkan kepadanya (agar malaikat) itu memberikan peringatan bersama dia. (mengapa tidak) diturunkan kepadanya harta kekayaan atau kebun baginya, sehingga dia dapat makan dari (hasil)-nya?” Orang-orang zalim itu berkata, “Kamu tidak lain hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir.” (QS. Al-Furqan [25]: 7-8).

Penyesalan Abdurrahman bin Auf

Syahdan. Suatu waktu ada rombongan unta membawa dagangan dari Yaman yang datang kepada Abdurrahman bin Auf. Saking banyaknya rombongan yang datang, Kota Madinah menjadi goncang.

Siti Aisyah kemudian berkata, “Ada rombongan apa ini?” Dia jawab, “Ini adalah rombongan perdagangan yang membawa dagangan Abdurrahman bin Auf.” Siti Aisyah berkata, “Wah, benar Allah dan Nabi.”

Tentu saja perkataan Siti Aisyah ini sangat misterius. Dan ternyata perkataan Siti Aisyah ini sampai kepada Abdurrahman bin Auf. Akhirnya, Abdurrahman bin Auf bertanya kepada Siti Aisyah, “Apa maksudnya benar Allah dan Nabi itu?”

Siti Aisyah kemudian menjawab, “Aku pernah mendengar Nabi berkata, “Aku pernah melihat surga. Saat itu aku melihat sahabat Muhajir yang fakir dan orang Islam miskin juga masuk surga dengan berjalan cepat. Dan aku tidak melihat orang-orang masuk surga bersama orang-orang miskin ini kecuali Abdurrahman bin Auf.”

Siti Aisyah berkata lagi, “Aku,” kata Nabi, “melihat Abdurrahman masuk surga bersama mereka sambil ngesot pelan-pelan.” Mendengar hal ini, Abdurrahman kaget dan menyesal seraya berkata kepada Siti Aisyah, “Sesungguhnya rombongan dagang yang datang itu hanyalah demi jalan Allah. Andaikan saya mempunyai budak maka pasti akan aku merdekakan. Dengan sebab ini, barang kali aku bisa masuk surga bersama orang-orang itu berjalan dengan cepat.”

Kata Gus Ulil, kisah ini menunjukkan bahwa Abdurrahman bin Auf sebenarnya menyesal mempunyai harta banyak. Sebab dengan banyaknya harta kekayaan, ia akan berjalan lambat ke surga Allah SWT. Wallahu a’lam bisshawab.

Kontributor

  • Salman Akif Faylasuf

    Sempat nyantri di PP Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo. Sekarang nyantri di PP Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.