Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Menuju Kebahagiaan Akhirat (1)

Avatar photo
479
×

Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Menuju Kebahagiaan Akhirat (1)

Share this article
Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Menuju Kebahagiaan Akhirat (1)
Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Menuju Kebahagiaan Akhirat (1)

Sebenarnya, masalah “mencela dunia” tidak lagi menjadi diskusi yang populer di zaman sekarang. Karena kitab ini tiba-tiba mengajarkan untuk mencela atau membenci kekayaan saat orang cinta akan kekayaan. Meskipun Al-Ghazali menyatakan bahwa kekayaan mengandung mashlahat (kebaikan) dan mafsadat (bahaya), Gus Ulil menyatakan bahwa kekayaan memang harus dipandang secara kritis.

Akibatnya, kita harus berhati-hati terhadap dunia. Dunia tidak hanya memiliki aspek-aspek positifnya, tetapi juga memiliki aspek-aspek negatifnya yang sangat membahayakan dan menjauhkan manusia dari Tuhan. Bagaimana cara menghitung mashlahat dan mafsadat di dunia ini?

Tidak diragukan lagi, satu-satunya cara untuk menilai dunia adalah dengan melihat tujuan utama kehidupan di dunia. Tujuan utama manusia selama hidup di dunia ini adalah untuk mencapai kebahagian di akhirat, atau sa’adatul akhirah. Artinya, apakah kehidupan di dunia ini akan mencapainya atau tidak.

Jadi bagaimana kita bisa mendapatkan kebahagiaan ini?

Anggapan bahwa manusia adalah makhluk yang unik dan berbeda dari semua makhluk lain. Sifat hedonis dan materialistis juga merupakan fitrah manusia. Pada dasarnya, naluri manusia menyukai keindahan dan kesenangan. Alam dunia tidak stabil dan selalu berubah, mempengaruhi apa yang ada di dalamnya. Termasuk perubahan yang terjadi pada tubuh dan pikiran manusia.

Di era modern saat ini, kebahagiaan didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk menjalani pekerjaan mereka dengan baik sehingga mereka dapat memperoleh harta benda dan posisi yang tinggi.

Orang-orang zaman sekarang percaya bahwa memiliki banyak harta benda dan kedudukan tinggi akan memungkinkan mereka untuk hidup dengan tenang dan tanpa bergantung pada orang lain. Bahkan dengan harta benda, orang-orang saat ini merasa memiliki posisi yang berbeda di masyarakat.

Harta diurutan terendah

Padahal, menurut Al-Ghazali, itu tidak benar. Karena harta bukanlah sumber kebahagiaan abadi. Bahkan dalam urutan kebahagiaan, harta berada di urutan terendah. Apa itu? Pertama, cara untuk mencapai kebahagiaan di akhirat adalah dengan memperoleh keutamaan yang bersifat jiwa atau rohani, yang dikenal sebagai fadha’il al-nafsyah; keutamaan ini termasuk ilmu dan kebaikan akhlak. Ini adalah cara pertama untuk mendapatkan kebahagiaan di akhirat kelak dan keutamaan yang paling tinggi.

Kedua, keutamaan jasmani (fadha’il al-badaniyyah), yaitu kesehatan dan keselamatan badan. Oleh karena itu, kita tidak dapat mencapai kebahagiaan di akhirat jika badan kita sakit terus-menerus.

Ketiga, sarana untuk mencapai kebahagiaan di akhirat adalah sesuatu yang ada di luar kita (fadha’il al-kharijah al-badani), seperti harta benda dan semua sebab lainnya. Di sisi lain, Al-Ghazali menyatakan bahwa harta (dirham dan dinar) termasuk sarana yang paling rendah.

Ini adalah tiga cara untuk mendapatkan kebahagiaan di akhirat. Tanpa disadari, hal ini menunjukkan bahwa dunia tidak selalu buruk. Karena itu, ada juga dunia yang mengundang manusia untuk dekat dengan Tuhannya. Dunia berharga karena digunakan untuk mencapai tujuan lain daripada karena dirinya sendiri.

Dinar dan dirham dianggap sebagai harta jenis apa yang paling rendah, karena apa? Jawabannya adalah bahwa keduanya adalah pelayan, bukan yang dilayani, dan tidak ada pelayan untuk keduanya. Tidak sama dengan badan yang melayani roh dan juga memiliki bantuan seperti makan, minum, memiliki mobil, dan sebagainya.

Misalnya, kasur, bantal, AC, dan lainnya diperlukan untuk membuat tubuh nyaman saat tidur. terlepas dari fakta bahwa harta tidak memiliki pelayan atau asisten. Intinya, dinar dan dirham adalah pelayan sepenuhnya murni. Tidak ada satu pun di bawahnya.

Al-Ghazali mengingatkan kita semua tentang nilai dirham dan dinar yang sangat rendah. Uang juga termasuk dalam kategori kekayaan paling rendah karena inilah. Akibatnya, karena apa jiwa lebih mulia daripada dunia?

Gus Ulil menyatakan bahwa meskipun dunia mulia, ada sesuatu yang lebih mulia daripadanya. Adalah pengetahuan, moralitas, dan ilmu yang mulia. Pendek kata, jiwa selalu bekerja untuk hal-hal yang mulia. Orang yang melayani orang mulia juga pasti akan menjadi mulia.

Jika jiwa manusia berfokus pada sesuatu yang mulia, seperti ilmu, pengetahuan, dan akhlak, daripada menjauhkan diri dari dunia (dirham dan dinar), maka manusia akan menjadi mulia.

Selain itu, inilah yang paling penting dalam menemukan jalan kebahagiaan akhirat. Dengan kata lain, orang yang tidak memiliki pengetahuan dan moralitas tidak akan dapat mencapai kebahagiaan di akhirat. Bersambung…

Kontributor

  • Salman Akif Faylasuf

    Sempat nyantri di PP Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo. Sekarang nyantri di PP Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.