Orang-orang yang memakan (bertransaksi dengan) riba tidak dapat berdiri, kecuali seperti orang yang berdiri sempoyangan karena ketempelan setan. (QS. Al-Baqoroh 275)
Nama dusunku adalah Tambar yang kata para sesepuh aslinya berarti tawar. Dinamakan demikian karena jika ada orang-orang asing dengan segala macam karakternya yang ingin menetap di kampung itu, maka ia akan menjadi tawar, menjadi biasa saja. Baik mereka adalah orang pintar, alim dan sholeh atau bahkan penjahat kelas kakap sekalipun jika masuk ke kampungku itu, mereka akan menjadi biasa saja.
Ada cerita menarik yang aku dengar dari omongan orang-orang kampung bahwa jika ada penjahat yang bersembunyi di kampung ini, maka ia akan aman, polisi tidak akan mampu melacaknya. Benar memang di sini ada orang yang dirumorkan sebagai pembunuh saat ia bekerja di kapal pelayaran. Suatu saat di kapalnya sedang terjadi konflik yang memaksanya harus membunuh. Ia pun gelisah dan panik, sehingga dia memutuskan diri untuk pulang kampung, ya ke kampung Tambar ini. Ajaibnya ia aman dari kejaran polisi bahkan sampai cerita ini kutulis, ia sedang menghabiskan masa tuanya di atas kursi roda karena terkena stroke.
Selain itu, juga dari rumor orang-orang kampung ini, jika ada orang yang sangat pintar dan cerdas sekali muncul, maka sudah bisa dipastikan orang itu akan mengalami kejadian yang tak diharapkan; bisa meninggal dalam usia muda atau diganggu oleh Danyang kampung ini. Sebab katanya, sang Danyang tak mau ada orang pintar di Tambar.
Danyang adalah sebuah ungkapan Jawa untuk menunjukkan sesosok makhluk spiritual penunggu sebuah tempat. Seperti Semar, Sabdo Palon dan Naya Genggong. Mereka dikenal sebagai Danyang bumi Nusantara. Sedangkan Danyang kampungku ini, para penduduk memanggilnya dengan Joko Simbar. Kepada pembaca kisahku ini akan aku ceritakan sedikit asal-usul Joko Simbar beserta dusunku:
Pada sekitar tahun 1506 M, saat Prabu Satmata (Pendiri Giri Kedaton) yang masa mudanya dijuluki Joko Samudro atau Raden Paku hendak lengser keprabon dan meninggal dunia, ia mengutus murid kinasih dan terpintarnya yang bernama Abdul Basyar. Murid yang saya sebut ini juga merupakan salah satu pengawal Raden Muhammad Ainul Yaqin ketika dia melalang buana mencari tempat untuk menyebarkan ajaran Islam sesuai dengan tanah yang mirip dengan bungkusan tanah yang diberikan Ayah Beliau; Maulana Ishaq saat berada di Pasai. Dan tanah yang ia bawa ke mana-mana itu berjodoh di perbukitan (gunung) Giri yang terletak di dusun Kedaton, kelurahan Sidomukti, Gresik. Sebab itulah kemudian Raden Muhammad Ainul Yaqin dijuluki Sunan Giri. Sang pendiri Giri Kedaton.
“Basyar!” Kata Kanjeng Sunan kepada Basyar.
“Dalem Sunan! Ngapunten, ada keperluan apa sehingga Kanjeng Sunan nimbali kulo?”
“Begini Basyar, sama seperti Kakang-kakang pendahulumu yaitu Koja dan Grigis, aku juga akan mengutusmu untuk mencari tempat yang tanahnya mirip dengan tanah Giri ini, untuk menyebarluaskan ajaran Islam.”
“Tapi Kanjeng! Aku masih ingin menemani Kanjeng Sunan di sini. Aku ingin menghabiskan sisa umurku mengabdi kepada Panjenengan.”
“Tidak bisa begitu Basyar. Memang ajalku semakin dekat. Tapi aku sudah punya keyakinan bahwa orang-orang yang pertama kali melihat tanah bungkusan dari Ayahku itu, juga harus melakukan hal yang sama denganku. Yaitu mencari tempat yang tanahnya sama dengan bungkusan tanah itu. Koja dan Grigis sudah aku utus secara khusus mendahului dirimu, Koja dapat bagian mengembara ke arah Timur negeri ini, dan Grigis bagian Selatannya. Dan kamu aku utus untuk mencarinya ke arah Barat.”
“Kalau memang itu yang menjadi keyakinan Kanjeng Sunan, hamba siap mengikuti titah Kanjeng.”
“Kamu tidak sendirian dalam pengembaraanmu Basyar. Kamu akan ditemani Ronggohadi dan Kinamaeng.” Tutur Sunan Giri kepada Basyar.
“Sendiko dawuh Kanjeng! Kalau begitu kulo meminta tanah bungkusan yang Kanjeng maksud.” Tanggap Basyar kepada gurunya itu. Sang Sunan pun pergi ke dalam kamarnya mengambil bungkusan tanah yang dimaksud.
“Sebetulnya sebelum kamu kuutus ke daerah Barat Giri Kedaton ini, karibku yang bernama Raden Qosim sudah membabad dan mendirikan pesantren di desa Jelak yang kemudian diganti menjadi Drajad. Kamu harus singgah dan sowan dulu ke sana dan meminta petunjuk kira-kira di mana tanah yang sama persis dengan bungkusan tanah yang kalian bawa. Saya rasa, setelah saya tirakati tanah itu, sepertinya kalian harus mengembara lebih jauh ke arah Barat. Namun lebih baiknya, kamu tanyakan dulu ke Sunan Drajad, karena Beliau yang lebih tahu medan.”
“Baik Kanjeng Sunan, titah Panjenenan akan kami laksanakan. Sepertinya saya harus undur diri, mohon restu dan do’anya Kanjeng! Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikum salam! Semoga Allah melancarkan dan meridloi perjalananmu!
Sejak peristiwa itu Basyar beserta kedua sahabatnya pergi ke arah Barat Giri Kedaton.
******
Daerah Barat Gresik bukanlah sembarang daerah. Sebelum bernama Lamongan, daerah ini berupa hutan belantara dan rawa-rawa, serta beberapa pemukiman kecil dan terpencil.
Basyar bersama Ronggohadi dan Kinameng pergi menuju Dusun Jelak atau pesantren Drajad yang ditunjukkan oleh Kanjeng Sunan Giri. Tak sulit bagi Basyar dan kedua rekannya mencari tempat itu, sebab semua orang di kawasan tersebut sudah kenal dan akrab dengan Sunan Drajad. Saat mereka bertanya kepada para penduduk setempat mereka bilang untuk mencari satu-satunya pesantren di daerah itu yang bernama Dalem Dhuwur.
Setelah sampai di tempat itu, Basyar meminta izin kepada penjaga gerbang pesantren untuk dipertemukan dengan Sunan Drajad. Basyar dan kedua temannya itu pun diantarkan ke Sunan Drajad yang kala itu sedang memberikan wejangan kepada para santrinya.
“Beliau yang sedang mengajar itu adalah Sunan Drajad. Tuan boleh menemuinya setelah Beliau selesai mengajar.” Kata penjaga gerbang, yang kemudian meninggalkan Basyar menuju posnya.
Basyar duduk dan berbaur dengan para santri lainnya yang sedang khusuk mendengarkan petuah-petuah Kanjeng Sunan Drajad:
“…Para santriku sekalian, selain kita diperintah untuk berbuat baik kepada Allah kita juga diperintah untuk baik kepada sesama, tak pandang bulu. Wenehono teken marang wong kang wuto. Wenehono pangan marang wong kang keluwen. Wenehono payung marang wong kang kudanan. Lan wenehono sandang marang wong kang kawudan.”
“Empat ajaranku para santriku, harus kalian ugemi. Harus kalian praktikkan dalam kehidupan. Barangkali sudah cukup sekian pelajaran hari ini. Kalian bisa melanjutkan aktivitas kalian masing-masing.”
Setelah pengajian usai dan para santri bubar, Basyar dan kedua temannya itu mendatangi Sunan Drajad.
“Assalamu’alaikum Kanjeng Sunan. Mohon maaf mengganggu waktunya.” Sapa Basyar kepada Raden Qosim.
“Wa’alaikum salam. Kiranya ada perlu apa denganku wahai kisanak bertiga?” Jawab Sunan Drajad.
“Kami bertiga adalah utusan dari Kanjeng Sunan Giri yang disuruh untuk menemui Panjenengan guna menanyakan kiranya di manakah tempat yang tanahnya sesuai dengan tanah di bungkusan ini.” Basyar kemudian menyerahkan bungkusan tanah yang ia bawa kepada Kanjeng Sunan Drajad. “Saya adalah Basyar, dan sebelah kiri saya ini bernama Ronggohadi dan sebelah kanan saya adalah Kinamaeng.” Basyar memperkenalkan dirinya dan kedua temannya. Lalu, Sunan Drajad mengambil bungkusan tanah dari tangan Basyar lalu membukanya. Beberapa saat kemudian setelah memperhatikan corak tanah yang ada di bungkusan itu, Sunan Drajad berkata:
“Tanah ini masih berada jauh di barat. Masih berada di barat hutan Sanglit.” Kata Sunan Drajad yang ditanggapi anggukan kepala oleh Basyar dan kedua temannya.
Beberapa lama kemudian, Sunan Drajad menuju kamarnya, lalu keluar dengan membawa tongkat dan cemeti.
“Bawalah kedua pusaka ini. Insya Allah sangat berguna dalam pengembaraan kalian. Sebab di kawasan itu ada sesosok yang sangat jahat dan kejam. Dia adalah penunggu kawasan itu.” Sunan Drajad menyerahkan kedua pusaka kepada Basyar. Setelah serah terima pusaka, sang Sunan mengajak ketiga pemuda yang menemuinya itu ke kandang sapi.
Sesampai di kandang, sang Sunan bilang kepada Basyar:
“Kalian akan kuberi sapi ini untuk menemani perjalanan kalian. Ketika sapi ini berhenti di suatu tempat selama dua hari, kalian bisa memeriksa tanahnya, insya Allah tanah itu sama dengan tanah bungkusan yang kalian bawa.”
Sesudah itu, Sunan Drajad menyerahkan sapi kepada Basyar. Lalu kemudian mereka berpamitan untuk meneruskan perjalanan.
******
Saat perjalanan, Basyar dan kedua temannya itu saling bergantian mengendarai sapi pemberian Sunan Drajad. Mereka terus berjalan ke arah barat. Sesampai di daerah Bekasri tiba-tiba sapi itu berhenti, Basyar dan kedua temannya sangat gembira sekali. Barangkali tempat itu tanahnya sama dengan tanah bungkusan yang ia bawa. Namun, sayang tak lama kemudian sapi itu berjalan lagi. Ia berhenti karena lapar saja, hanya sekedar untuk merumput.
Saat berpapasan dengan beberapa orang di jalan, Basyar bertanya kepada mereka di manakah kiranya hutan Sanglit berada. Mereka menjawab tidak jauh lagi, mungkin tinggal 3-5 kilometer lagi. Basyar pun gembira sekali, sebab itu berarti tempat yang ia tuju tidak jauh lagi.
Beberapa saat kemudian, saat Dluhur tiba, Basyar dan kedua temannya telah sampai di sebuah pemukiman warga. Di situ ia bertemu dengan seorang tua yang bernama Ki Warso. Setelah menjelaskan tujuan Basyar berkelana, Ki Warso sangat senang sekali bisa bertemu dengan utusan Sunan Giri. Dia dan warga setempat mempersiapkan air wudhu untuk ketiga utusan Sunan Giri itu dengan menggali sebuah tanah sesuai dengan petunjuk Abdul Basyar. Tiba-tiba tanah yang digali itu mengeluarkan sumber air.
Sejak saat itu, setelah Abdul Basyar dan kedua karibnya meneruskan perjalanan, Ki Warso menanamkan nilai agama, persaudaraan dan kebersamaan kepada warga. Mereka menamai daerah ini dengan Keduk, dari kata keduk tanah, yang berarti menggali, karena dari peristiwa itu telah melahirkan kehidupan baru.
******
Kira-kira 7 kilometer dari tanah yang digali oleh Ki Warso itu, sapi yang ditunggangi Basyar berhenti, istilah Jawanya sapi itu nderu. Ia berhenti lama sekali. Basyar dan kedua temannya itu senang sekali. Sampai dua hari sapi itu tetap menderu. Basyar mengeluarkan bungkusan tanah yang ia bawa dan:
“Kita akan babad-tanah di daerah ini.” Kata Basyar kepada dua temannya. Dan mereka pun senang sekali. Akhirnya mereka sibuk membuka lahan dan menebangi pohon-pohon. “Kalian teruskan dulu pembukaan lahan ini, aku akan ke sungai untuk memandikan sapi.” Kata Basyar kepada kedua temannya.
Basyar pun menuju sungai terdekat untuk membersihkan sapinya. Sesampainya di tepi sungai, Basyar melihat pohon beringin besar sekali, dan di bawahnya terdapat sesosok manusia yang sedang duduk bersila, sepertinya ia sedang bertapa. Basyar menyapanya. “Assalamu’alaikum!” tidak ada jawaban, ia pun mengulanginya sampai tiga kali dan yang disalami tak bergeming sedikitpun. Akhirnya Basyar menyapanya dengan sapaan bahasa Jawa: “Sampurasun!” Dan yang disapa membuka mata. “Ada apa kamu ke sini. Berani mengganggu pertapaanku!” Dia tak menjawab sapaan Basyar malah berkata yang demikian dengan ekspresi kasar. “Maaf kisanak, saya Basyar, bersama kedua temanku, kami akan membabad tanah ini guna menyebarluaskan ajaran Sunan Giri.”
“Membabad tanah? Hahaha…tidak akan kuperkenankan satu orang pun mengusik kawasan ini. Ini adalah kawasanku! Patih Batik Madrim telah menitipkan kepadaku untuk menjaga kawasan ini!” Jawab orang itu.
“Patih Batik Madrim? Berarti kisanak sudah ratusan tahun bertapa di kawasan ini? Siapakah sebenarnya kisanak?” Tanya Basyar.
“Aku adalah Joko Simbar, murid kinasih Patih Batik Madrim. Enyah kau dari pandangan mataku! Jangan kau usik kawasan ini atau kau akan menyesal seumur hidupmu!” Pungkas orang yang mengaku Joko Simbar itu dan ia pun menghilang, lenyap dari pandangan Basyar.
Basyar pun menyadari bahwa membabad kawasan ini bukanlah persoalan mudah. Ia akan menghadapi sosok kuat dan kejam yang pernah diceritakan oleh Kanjeng Sunan Drajad. Ia melihat dua pusaka yang ia bawa; tongkat dan cemetinya. Basyar menancapkan tongkat yang ia bawa ke tanah lalu berdoa kepada Gusti Allah supaya upayanya diperlancar dan dimudahkan. Setalah itu, Basyar memandikan sapinya dan kembali ke tempat kedua temannya yang sedang membuka lahan. Sesampainya di tempat, ia melihat kedua temannya tergeletak tak bernyawa. Tak habis pikir, Basyar teringat dengan peristiwa yang dialami Kanjeng Sunan Giri saat di Temanggung. Sunan Giri kala itu mengeluarkan karomahnya berupa menghidupkan murid-muridnya yang mati dengan menggelinting tembakau menjadi rokok dan mengembuskannya ke arah murid-muridnya yang tergeletak tak bernyawa itu. Dan, atas izin Allah, murid-muridnya kembali hidup. Basyar pun melakukan sama seperti yang dilakukan gurunya. Dan Ronggohadi serta Kinamaeng kembali seperti ke keadaan semula. Setelah mereka sadarkan diri, Basyar bertanya kepada mereka tentang peristiwa apa yang telah terjadi.
“Saat kami membersihkan tempat ini, tiba-tiba ada seekor ular besar sekali menyerang kami. Kami berkelahi dengan ular itu, dan akhirnya kami kalah, kami dililit dan digigit berkali-kali hingga tak sadarkan diri.” Kata Ronggohadi menjelaskan peristiwa yang baru saja dialaminya itu. Tiba-tiba di udara ada suara menggema:
“Hahahaha…wahai Basyar ingatlah! Aku tidak akan membiarkanmu menguasai daerah ini. Akan aku jadikan kawasan ini menjadi tawar. Akan aku biarkan para penjahat masuk di kawasan ini dengan aman. Dan tak akan kubiarkan orang-orang sepertimu berkembang! Hahahaha..” Tiba-tiba suara itu menghilang. Dan di dalam hati Basyar ia yakin bahwa pemilik suara itu adalah Joko Simbar. Dari peristiwa itu Basyar menamai daerah yang ia babad dengan nama Tambar.
******
Lima abad telah berlalu dari peristiwa itu. Tepatnya pada bulan Juni tahun 2015, terjadi pemilihan kepala desa di desa Sidokumpul, yang mana Tambar menjadi bagian dusun desa Sidokumpul. Peristiwa pemilihan kepala desa itu adalah peristiwa terburuk yang melanda Tambar. Sebab terjadi polarisasi. Penduduk kampungku terpecah menjadi dua kelompok. Penduduk yang membela calon kepala desa dari Tambar dan dari dusun yang lain. Tak dinyana calon kepala desa dari dusun lain yang menang. Banyak dari pemuda kampungku yang kala itu tak sadarkan diri. Mereka mengoceh dan mengomel tak karuan. Mereka tak terkontrol. Akhirnya, ada Kyai kampung yang turun tangan. Beliau bilang bahwa apa yang dialami oleh pemuda-pemuda kampung itu mereka sedang ketempelan Joko Simbar, ketempelan Danyang.
Tabik,
Sidokumpul, Kamis 7 Mei 2026









Please login to comment